Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Hadits. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Januari 2014

Drakula Emas

Disebutkan ada hadits dari seseorang yang berasal dari Bani Sulaim datang kepada Rasulullah SAW membawa perak lalu berkata:

"Ini dari pertambangan kami."

Maka Rasulullah bersabda:

"Akan keluar banyak tambang, dan yang akan mendatanginya adalah orang-orang jahat." [*]

Dari beberapa penjelasan yang ada tentang hadits ini, ada 2 hal yang menarik dan sering dibicarakan, yaitu:

-MA'DIN (barang tambang).

Bahwa penyebutan perak dalam hadits tersebut tidak mengisyaratkan bahwa perak adalah satu-satunya barang tambang yang akan jadi rebutan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Akan ada banyak barang tambang yang keluar, ada tambang yang keluar dekat dengan negeri Hijaz, orang-orang jahat akan mendatanginya, tempat itu disebut sebagai Fir'aun, tatkala mereka sedang bekerja tiba-tiba nampaklah emas sehingga mereka terpana, kemudian bumi menelan mereka beserta emas-emas itu" (Musnad Abi Ya'la, no. hadits 8415).

Ada riwayat lain juga yang senada dengan hadits dalam bab ini, seakan sebuah isyarat bahwa ada banyak tambang yang belum diketahui para sahabat beliau.

-ORANG-ORANG JAHAT.

Banyak juga riwayat hadits yang menyebutkan tentang siapa yang dimaksud dengan orang-orang jahat secara umum. Ada yang sesuai dengan konteks orang-orang jahat dalam hadits di atas. Ada juga yang khusus untuk orang-orang jahat yang lain yang tidak terkait dengan orang-orang jahat yang mendatangi pertambangan itu.

Tapi ada beberapa hal yang bisa menjadi pelajaran:
Barang tambang adalah sumber kekayaan yang sebagian besarnya adalah nyawa bagi sebuah negara yang bersangkutan. Oleh karena itu banyak penjajahan dilakukan karena urusannya adalah menguasai barang tambang. Sampai ada yang berpendapat bahwa agresi amerika ke Irak bukan semata-mata karena tuduhan memiliki persenjataan pemusnah massal (apalagi sudah dibuktikan bahwa itu tidak terbukti), tapi lebih karena Irak adalah bagian negeri Hijaz, tempat dimana akan banyak tambang keluar dari sana. Bahkan ada sebuah hadits yang secara langsung menyebutkan bahwa emas yang tiba-tiba keluar itu dari sebuah gunung yang nampak dari sungai Efrat. (HR. Muslim), jadi demi menguasai emas-emas itulah mereka menjajah.

Kenapa mereka sangat menginginkan emas dan perak sebagaimana kebanyakan hadits dalam hal ini juga berbicara khusus tentang emas dan perak? Karena emas dan perak adalah penjaga kestabilan kekayaan. Dan dalam hal ini ada fakta dan fenomena masyarakat sekarang yang sangat bersemangat dan antusias untuk investasi emas.

Memang tidak ada larangan orang menjaga kestabilan kekayaannya dengan melakukan saving. Menurut saya pribadi itu adalah bagian dari sunnah yang diajarkan oleh Nabi Yusuf alaihis salam, yaitu menyimpan persediaan makanan karena akan ada masa peceklik setelahnya. Namun, baik Nabi Yusuf alaihissalam maupun Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak menganjurkan melakukan saving dengan menimbun emas meski kalau pun ada yang menimbunnya dan ia tetap mengeluarkan zakatnya. Tapi anjuran menimbun emas tidak ada. Karena emas adalah uang, dan uang harus beredar. Bila ia beredar merata maka kestabilan masyarakat akan terjaga. Sebagaimana Al Qur'an telah berbicara tentang hal ini, yaitu jangan sampai uang itu hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja. Secara tidak langsung, Al Qur'an mengajarkan kepada kita bahwa semua orang harus bekerja dan memiliki usaha riil. Bila emas ditimbun, maka itu artinya menimbun uang, dan yang bisa melakukannya pasti orang-orang yang kaya raya. Tapi sekali lagi bahwa saving adalah sunnah yang harus dilakukan, meski tidak harus menimbun emas.

Wallahu A'lam ini pendapat pribadi masih terbuka kemungkinan salah.

Fairuz Ahmad.
Bintara, 24 Januari 2013.

[*] Takhrij instan terhadap Status hadits dalam situs Islamweb.net :
  1. Kitab Hadits Abi Al-Fadhl Az-Zuhri : Hasan
  2. Al-Mu'jamul Awsath Liththabrani : ada 3 jalur dan ketiganya Dha'if, namun bisa berubah Hasan bila ada hadits lain sebagai tawabi'.
  3. Akhbaar Ashbahan Li Abi Nu'aim : Dha'if karena ada satu perawinya yang tertuduh melakukan pemalsuan.
  4. Ma'rifatu Ulumil Hadits Lil Hakim : Dha'if, namun bisa berubah Hasan bila ada hadits lain sebagai tawabi'.
  5. Al-Fitan Li Nu'aim bin Hamad : Sangat Dha'if karena ada satu perawinya yang Munkarul hadits.
  6. Tarikhu Baghdad Lil Khathib : Dha'if, namun bisa berubah Hasan bila ada hadits lain sebagai tawabi'.
  7. Dala'ilun Nubuwah Lil Baihaqi : ada 2 jalur yang keduanya Hasan, dan 2 jalur lain yang sangat dha'if karena ada satu perawinya tidak jelas.
  8. Kitab Hadits Abi Ali As-Sya'rawi : Dha'if, namun bisa berubah Hasan bila ada hadits lain sebagai tawabi'.
  9. Musnad Abi Ya'la Al-Maushili : Dha'if, namun bisa berubah Hasan bila ada hadits lain sebagai tawabi'.
  10. Musnad Ibnu Abi Syaibah : Sangat Dha'if karena ada satu perawinya tidak jelas.
  11. Kitab Musnad Imam Ahmad : Sangat Dha'if karena ada satu perawinya tidak jelas.
  12. Kitab Al Aahaad wal Matsani Ibnu Abi Ashim : Sangat Dha'if karena ada satu perawinya tidak jelas.

Catatan :
  • Tulisan ini terkait dengan serangan tentara Perancis terhadap Mali, karena berbagai sumber mengatakan bahwa Mali kaya akan sumber barang tambang, jadi salah satu motivasi serangan biadab terhadap Mali yang juga ada umat Islam di sana karena para penyerang tersebut adalah "DRAKULA EMAS".
  • Kalau kita menyukai emas bukan berarti kita tidak boleh memiliki emas simpanan, karena yang dilarang adalah memiliki istri simpanan.
  • Bagi wanita yang ingin memiliki banyak emas harap jangan menimbun. Sebaiknya dipakai saja semuanya, siapa tahu nanti bisa menggantikan peran "mak Nok" dalam serial "Tukang Bubur Naik Haji".

Akhlak Dagang vs Otak Dagang

Kalau kita menelusuri sirah nabawiyyah, akan ada gambaran pendidikan karakter yang kuat saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam menggembala kambing. Lalu saat beliau ikut kafilah dagang dan dilanjutkan dengan aktifitas Beliau ikut menjualkan dagangan Khadijah radhiyallahu anha.

Rasa-rasanya beliau tidak pernah menjadi bos atau owner atas bisnis tertentu. Semua aktivitas beliau bisa dibilang sebagai karyawan alias bekerja untuk orang lain. Namun inilah cara Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan pelajaran berharga bagi umatnya lewat perjalanan beliau sebagai pengusaha, meski bukan bos atau owner. Karena dalam haditsnya Beliau mengatakan:

“Tidaklah seseorang berusaha kecuali yang paling baik adalah apa yang dihasilkan dari tangannya sendiri, dan apa saja yang ia belanjakan untuk dirinya, keluarganya, anak-anaknya dan pembantunya adalah sedekah.” (Ibnu Majah 2138).

Juga dalam hadits yang lain beliau kembali menegaskan:

“Sesungguhnya Nabi Dawud alaihis salam tidak makan kecuali makanan itu Beliau hasilkan dari usaha tangannya sendiri.” (Bukhari 1967)

Dari sinilah ada pelajaran penting tentang pendidikan "survival". Karena secara umum, kebanyakan manusia hidup bukan sebagai bos atau owner, tapi sebagai karyawan dan pegawai. Artinya, menjaga kelangsungan hidup tidak harus sebagai bos atau owner, karena hanya sebagian kecil saja yang mampu melakukan ini. Selebihnya dan ini bagian yang terbesar adalah menjaga kelangsungan hidup meski sebagai karyawan.

Tulisan ini bukan untuk membicarakan situasi mana yang paling baik antara owner dan karyawan. Karena keduanya dalam Islam memiliki timbangan yang hanya Allah saja yang tahu, dengan syarat semuanya dilakukan sesuai dengan prinsip, aturan, dan moral yang telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai suatu keharusan bagi yang menjalaninya. Sebab yang terpenting adalah bagaimana seseorang itu bisa survive, baik sebagai bos atau karyawan.

Salah satu usaha yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah berdagang untuk menjaga kelangsungan hidup beliau. Karena dengan berdagang maka akan menjaga kehormatan diri dan menjauhkan dari kehinaan meminta-minta.  Namun sikap survive yang diteladankan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya adalah sikap yang tidak hanya sekedar berusaha. Tidak sekedar bekerja. Tetapi kemudian beliau menjelaskan tentang prinsip, aturan dan akhlak saat survive. Karena kalau hanya sekedar bekerja dan berusaha, maka kera dan kambing pun melakukan hal yang sama, kira-kira seperti itulah ungkapan Buya Hamka.

Ada banyak contoh dalam hal ini untuk menjelaskan, alangkah maraknya praktek usaha dagang yang jauh dari akhlak yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga apa pun yang menjadi miliknya, atau yang dalam kekuasaanya akan menjadi barang dagangan yang layak dan wajib untuk dijual dengan alasan survival. Misalnya dagang sekolah, dagang “kursi” sekolah, dagang buku dan seragam sekolah dengan harga lebih tinggi, dagang nilai ujian, dagang les privat, dagang ijazah sekalian wisudanya dan lain-lain. Ini baru salah satu contoh kasus di negeri ini, mungkin masih banyak kasus-kasus “perdagangan” yang lain.

Usaha dagang yang diteladankan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah dagang dengan aturan dan akhlak yang mulia. Tidak semua hal beliau jual, baik miliknya sendiri atau pun apa yang dalam wewenangnya. Itulah yang dinamakan akhlak dagang. Namun bila ada seseorang yang kemudian dagang “apa saja” maka ketahuilah, itu yang dinamakan otak dagang, seolah tidak perlu lagi tahu layakkah hal itu didagangkan.

Fairuz Ahmad.

Bintara, 14 Dzul Qa’dah 1434 H./20 September 2013 M.

Kamis, 02 Januari 2014

Sunnah-sunnah Yang Hampir Sulit Diamalkan

Siapa di antara kita yang pernah mengamalkan sebuah hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkaitan dengan bolehnya menolak tamu yang datang? Saya pastikan hampir tidak ada yang pernah. Sebab mengamalkan hadits tentang bolehnya menolak tamu ibarat mengusir tamu, padahal memang boleh. Namun nyatanya kita masih menganggap bahwa menolak tamu adalah satu bentuk kesombongan. Saya pernah sekali mencobanya dan hasilnya sama persis dengan perkiraan dalam hati, pasti setelahnya ia akan acuh dan malas bertemu lagi, jangankan mampir.

Padahal sejatinya saat Nabi membolehkan menolak tamu adalah dalam rangka menghargai sang tamu, sebaliknya sang tamu juga menghargai sang tuan rumah. Tamu yang datang harus dimuliakan, namun di saat tuan rumah repot maka dikuatirkan bila tetap menerima tamu akan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya diketahui oleh tamu. Tentunya tidak afdhal bila akhirnya bertamu kemudian pulang dengan membawa oleh-oleh aib tuan rumah dalam hal kurang maksimalnya menerima tamu. Maka disinilah sang tamu harus mengerti bahwa ia pun sebenarnya diselamatkan oleh sunnah Nabinya agar pulang dalam keadaan bersih tanpa membawa aib tuan rumah. Sebab mulut kita diciptakan tanpa kunci, maka dari itu ia seringkali lepas kontrol alias dol.

Sunnah bolehnya menolak tamu adalah hadits muttafaq alaih dari jalan Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Meminta izin itu tiga kali, bila diizinkan maka boleh bagimu dan bila tidak maka kembalilah.”

Dan tahukah kita bahwa meminta izin itu disyari’atkan oleh Nabi dalam rangka menjaga mata kita dari melihat aib tuan rumah. Begitulah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan pada kita dalam hadits muttafaq alaih dari jalan Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu yang artinya,

“Sesungguhnya meminta izin itu dibuat demi menjaga pandangan.”

Beruntung zaman kita sekarang ada teknologi telepon dan mengirim sms, hingga akhirnya tuan rumah bisa memberi alasan sibuk saat akan kedatangan tamu. Bayangkan bila teknologi tersebut tidak ada, pasti seringnya kita adalah berpura-pura ikhlas menerima tamu, padahal boleh kita menolaknya. Itu pun bila kita berani. Dan keberanian itu karena kita, sebagai tuan rumah atau sebagai tamu telah mengerti bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkannya kepada kita. Bila kita tidak tahu tentang sunnah mulia tersebut pastilah kita anggap sunnah mulia itu sebagai ajaran aneh bin nyeleneh, hingga akhirnya kita beranggapan bahwa kita lebih sopan dari beliau. Sebab menolak tamu menurut kita saat kita tidak tahu adalah suatu bentuk ketidaksopanan.

Dan siapakah di antara kita yang berani sekaligus ikhlas sepenuh hati mencelup lalat yang jatuh pada minuman kita sedang kita berada di hadapan orang-orang yang kita anggap orang? Tentu jarang yang berani. Meskipun ada yang berani pasti pertama-tama ia merasa harus bermuka tebal setebal-tebalnya. Padahal itu adalah sunnah Nabi kita. Beliau pun telah menjelaskan tentang wahyu dan kebenaran hikmah di balik pencelupan dan penenggelaman sementara sang lalat yang ia sendiri pasti tak sengaja nyemplung ke dalam minuman kita.

Sekali lagi, ketidaktahuan kita tentang sunnah mulia ini akan membuat diri kita menganggap bahwa pebuatan aneh tersebut adalah perkara yang menjijikkan dan ketidaksopanan yang sejatinya bila kita menganggapnya seperti itu, maka kita telah menahbiskan diri kita lebih sopan dan lebih bersih dari Nabi, panutan kita.

Dan tahukah kita bahwa dampak negatif paling nyata yang ditimbulkan dari ketidaktahuan akan perkara agama adalah seringnya kita membuat definisi sendiri tentang kebenaran dan kesalahan, juga kebaikan dan keburukan. Yang benar adalah menurut kita dan yang salah adalah juga menurut kita, yang baik adalah menurut kita dan yang buruk adalah juga menurut kita.

Bila setiap saat kita membuat definisi sendiri tentang kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan keburukan, kesantunan dan ketidaksantunan sesuai dengan anggapan kita dan bukan sesuai dengan agama kita, maka sejatinya kita telah mengacak-acak ajaran Nabi kita. Dan itu adalah bukti bahwa kita adalah orang-orang pendusta. Ya, berdusta telah mencintai Nabinya padahal kita tak mau mengikuti sunnah-sunnahnya.

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)

Fairuz Ahmad.
Bintara, 1 Rabi’ul Awwal 1435 H./2 Januari 2014 M.

Rabu, 01 Januari 2014

Mengubur Motivasi

Tiba-tiba mereka bersepakat untuk datang menjumpai sang Nabi dan berkata:
"Angkatlah seorang pemimpin bagi kami sehingga kami berperang di jalan Allah".
Sang Nabi pun bertanya, seraya berharap menemukan kesungguhan tekad mereka:
"Apakah kalian jujur dengan kata-kata itu, karena aku khawatir kalian tidak mau berperang jika ia telah diwajibkan pada kalian".
Maka alasan pun disampaikan dengan jelasnya:
"Sesungguhnya kami telah diusir dari tanah-tanah kami dan anak-anak kami ditawan…!".
Tetapi kemudian sejarah mencatat, bahwa mereka pada akhirnya berpaling dan enggan melaksanakan kewajiban itu. Dan Alquran pun memberikan sebutan yang pas bagi mereka; "Orang-orang yang aniaya". Begitulah akhir dari lakon drama yang dipentaskan orang-orang Yahudi. Dan selalu begitu akhirnya.
Akan tetapi ada soal lain terkait dengan sebutan "Orang-orang yang aniaya" oleh Alquran, dimana predikat itu tidak serta-merta lekat hanya pada mereka orang-orang Yahudi. Toh mereka juga orang-orang beriman pada saat itu, namun ada penyakit buruk yang sedang menimpa pada sebagian di antara mereka. Lalu virus inilah yang menggempur bangunan kejujurannya dan terus meluluhlantakkan pondasi keimanannya. Virus itu tidak lain dan tidak bukan adalah virus ketidakjujuran. Ketidakserasiannya suasana hati dengan ungkapan lisan. Itu pula yang digambarkan oleh Alquran dengan; "Mereka mengatakan dengan mulut-mulut mereka apa yang tidak ada dalam hati-hatinya".
Padahal, meski secara logika kontek keinginan berperang mereka sudah sampai pada skala wajib sesuai dengan alasan dan motivasinya; "Sesungguhnya kami telah diusir dari tanah-tanah kami dan anak-anak kami ditawan…!". Sungguh suatu alasan yang tidak ada peluang untuk diperdebatkan dan menutup rapat semua pintu perselisihan. Apa pun alasannya. Namun ternyata, sekuat apapun motiv dan alasan, setinggi apa pun puncak cita dan harapan, dan sepanjang apa pun impian, bila spirit kejujurannya lemah dalam geliatnya, lamban dalam geraknya, apalagi telah rapuh dari dalamnya, maka tak akan didapat kecuali kerugian, tak akan diraih selain kegagalan. Itulah akhir cerita dari sekelompok orang-orang Yahudi, yang telah mundur dari keinginannya sendiri untuk berjuang. Maka mereka sebenarnya telah menolak kemenangan. Ya, kemenangan dalam kesabaran dan semangat kebertahanan. Sabar dan bertahan dalam menghadapi ujian perang. Maka disinilah sikap aniaya itu mengalir menemukan arusnya. Aniaya terhadap diri, orang lain, negara dan agamanya. Sebab tak mampu lagi menolong dan membantunya, berlepas dari cengkeraman musuh yang juga aniaya.
Dan, disinilah mungkin kita juga menemukan pemandangan lain dari jiwa-jiwa yang dekat, bahkan juga telah hanyut bersama arus deras orang-orang yang aniaya. Betapa kita telah mengetahui, merasakan, pun menyadari akan puluhan motiv dan alasan dalam kenyataan kita, untuk hidup lebih berharga, lebih bermakna dan berguna bagi apapun dan siapapun.
Banyak di antara kita yang telah berhasil menangkap, lalu menggenggam erat motiv dan alasan untuk kebermaknaan dalam hidup. Bahkan sudah kuat terpatri dalam pikirannya, tapi ternyata belum cukup berhasil mendorong untuk kemudian menghasilkan upaya-upaya nyata dalam meraih keberartian dalam hidup.
Kalau Ulama' dahulu begitu menghargai waktu, sampai-sampai ada di antara mereka yang membagi waktu hidupnya hanya untuk sholat, membaca, menulis dan berceramah sebagaimana Imam Malik bin Anas. Atau Ibnu Sahnun yang keasyikan menulis sampai pagi tanpa terasa makan malamnya telah disuapkan oleh pembantunya. Atau Yahya bin Yahya yang sudah jauh-jauh datang dari Andalusia ke Madinah tidak mau beranjak dari majlis ilmu seperti teman-temannya hanya karena ingin melihat gajah. Atau Ali Tanthowi yang menghabiskan sepuluh jam setiap harinya untuk membaca, itu karena mereka sadar benar akan makna hidup. Sehingga bentuk pemaknaannya pun dilakukan dengan penuh antusias, penuh kejujuran dan tanggung jawab. Maka sejarah pun mencatat dan mengabadikan kehidupan mereka yang penuh makna itu. Cukup kuat alasan mereka untuk menjadi Ulama', karena hanya ilmulah yang diwariskan oleh para Nabi, karena dengan ilmulah derajat mereka ditinggikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan dengan ilmu pula mereka memberi warna kehidupan itu dengan sekian banyak arti. Arti bagi kehidupan diri sendiri, orang lain, negara dan agamanya. Ya, ilmulah yang menjadikan mereka sanggup memainkan irama hidup yang lebih indah dari orang-orang biasa. Karena memang tidak sama orang-orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui.
Maka untuk keberartian dalam hidup, mau tidak mau kita harus melakukan apa yang mereka lakukan. Dan belajar adalah pilihan satu-satunya. Demi diri kita, keluarga kita, anak dan istri kita, masyarakat kita, negara dan agama kita, semuanya tak terkecuali.
Begitu juga dengan ragam keberartian yang lain. Bagaimana kisah orang-orang Muhajirin menyelesaikan persoalan finansial, misalnya. Ketika Abdur Rahman bin Auf datang ke Madinah tanpa membawa sepeser pun hartanya, karena ditahan dan diambil orang-orang kafir Quraisy. Lalu ditawarkanlah padanya untuk memilih salah satu kebun berikut isinya, maka ia pun menjawab, segera: "Tunjukkan saya pasar". Berikutnya, ia pun tercatat sebagai pengusaha sukses. Atau Abu Bakar, Umar, maupun Utsman bin Affan, tidak jauh berbeda keadaan finansialnya dengan Abdur Rahman bin Auf ketika mereka datang ke Madinah. Tapi puluhan kali pula sejarah mencatat kemampuan mereka menginfakkan separuh bahkan sampai seluruh hartanya untuk perang di jalan Allah, lalu memulai kembali pekerjaan bisnisnya dari nol. Begitu seterusnya, sehingga persoalan finansialnya pun tidak jadi persoalan. Karena mereka memiliki caranya sendiri bagaimana memulai. Sebab mereka tahu benar bahwa harta akan memberi banyak arti bagi kehidupan. Bagi diri sendiri, orang lain, negara dan agamanya, karena "Sebaik-baik harta adalah harta halal yang ada di tangan orang shalih", sampai Umar pun berkata: "Tak ada pekerjaan yang paling aku senangi setelah perang di jalan Allah, selain dari bisnis".
Di sini pun mau tidak mau, kita dituntut untuk mengerahkan segala upaya dalam rangka menyelesaikan persoalan finansial kita. Karena puluhan motiv dan alasan  barangkali sudah terpampang jelas di depan mata kita. Di mulai dari rentetan persoalan finansial keluarga, yang kadang juga tembus pada persoalan finansial untuk keberlangsungan dakwah. Semua membutuhkan penyelesaian yang jelas dan segera. Dan berbisnis adalah pilihan satu-satunya, karena Rasulullah pun secara tegas mengajarkan pada kita, bahwa "Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri". Sebuah petuah yang mengandung pendidikan dasar tentang kemandirian untuk membebaskan dari segala bentuk kehinaan. Itu karena kita, adalah mukmin yang tidak menjadi beban berat bagi orang lain, apalagi bagi perjalanan dakwah. Wallahu a'lam.
Fairuz Ahmad.
Bintara, 17 April 2008 M.

Senin, 30 Desember 2013

Kisah Salaman Tanpa Mata

"Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, namun bila ia buruk maka buruklah seluruh tubuh."

Namanya salaman ya memakai tangan bukan memakai mata. Sebab kalau mata dengan mata namanya tatapan. Tapi tahukah kita, bahwa tatapan mata ke mata saat bersalaman adalah tanda keridhaan. Ridha sepenuh hati saat menyalami dan disalami. Sebab salaman terpaksa biasanya muncul tandanya pada mata. Kadang pada mulut. Dan kadang pada keduanya.

Mata yang tak akur dengan tangan pasti ia akan menyetir kepala agar melengoskan ke tempat lain supaya mata tak bertatap mata. Bila ia terpaksa menatap mata, maka ia akan menyetir mulut agar jangan sampai menyungging senyum. Kalau pun mulut sudah kadung tersenyum maka ia akan menatap namun sekelebat saja. Namun yang lebih diinginkan adalah mata jangan sampai bertatap mata, dan mulut jangan sampai menyungging senyum. Mahal.

Suatu malam ada undangan tasyakkuran tetangga yang mau berangkat haji. Sesampainya di tempat tuan rumah, maka bersamaan dengan orang-orang yang baru datang, saya bersalaman dengan beberapa undangan yang sudah datang duluan. Mereka sudah duduk di ruang depan rumah. Beberapa orang yang di depan saya bersalaman dan saya pun bersalaman dengan mereka. Karena pintu rumah ada di bagian kiri maka otomatis yang disalami duluan adalah orang-orang yang duduk senderan di tembok sebelah kiri, lalu berlanjut memutar. Namun karena harus membiasakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan memulai dari kanan, maka saya putuskan untuk memulai salaman dari sebelah kanan. Toh setelah saya amati tidak ada orang yang lebih tua yang duduk di sebelah kiri. Ternyata permulaan dari kanan inilah yang menyebabkan ketidakridhaan seseorang yang kebetulan duduk di sebelah kiri. Sepertinya dia merasa harus mendapat kehormatan permulaan salaman. Dan saat sampai pada orang tersebut, saya pun bersalaman dengan tangannya. Tapi tanpa mata dan mulutnya.

Sejatinya saat bersalaman, tangan, mata dan mulut adalah budak hati. Karenanya ia tergantung pada kendali hati. Maka bukanlah kesalahan mata saat kepala melengos, sebagaimana bukan salah mulut saat ia hanya terkatup. Mereka adalah budak, dan hati adalah tuannya.

"Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, namun bila ia buruk maka buruklah seluruh tubuh."

Begitulah pesan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

-------------
Fairuz Ahmad.
Bintara, 6 Dzulqa'dah 1434 H./ 11 September 2013 M.

Rabu, 25 Desember 2013

Penampakan "Kuburan" Di Tengah Jalan

Habis subuh tadi mengisi kajian rutin di sebuah masjid di tanah Kranji. Tema yang dibahas adalah bab almubaadarah ila alkhairaat dari kitab Riyadhus Shalihin, bab bersegera dalam berbuat kebaikan. Di antara ayat Alquran yang dikutip oleh Imam Nawawi dalam bab ini adalah Firman Allah pada surat Al Baqarah ayat 148 yang artinya,

"Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan."

Beberapa hikmah sebagai i'jaazul quran dalam ayat di atas adalah ungkapan "fastabiquu". Bahwa perlombaan pasti ada hadiahnya,

Kisah Petasan Dan Amar Makruf Nahi Mungkar

Semalam kajian kitab Riyadhusshalihin di sebuah masjid di tanah Bintara mengulang kembali bab Al Amru Bil Ma'ruf wa An Nahyu 'anil Munkar. Selama mengkaji kitab tersebut maka ada satu hal yang terlihat dari kepiawaian Imam Nawawi dan kedalaman pandangan beliau saat menyusun dan meletakkan bab-babnya. Seakan semua terkait hingga menjadi sebuah marahil atau tahapan-tahapan. Contohnya bab Al Ikhlas wa Ikhdharin Niyyah beliau letakkan sebagai bab pembuka. Maka setelahnya adalah bab At Taubah. Subhanallah, seakan beliau tahu persis tentang keadaan seseorang yang belum semuanya berhasil memulai amalnya dengan ikhlas hingga ia harus bertaubat atasnya. Dan bila seseorang bertaubat maka ia haruslah bersabar dalam taubatnya, maka dari itu bab As Shabr adalah bab yang ketiga. Setelahnya adalah bab Ash Shidq, lalu Al Muraqabah dan seterusnya. Walhamdulillah dahulu sudah saya sampaikan pada jama'ah tentang keterkaitan bab-bab tersebut.

Senin, 16 Desember 2013

Nayatanya Ia Lebih Berat Dari Gunung Batu

Alangkah ringan pertanyaan-pertanyaan berikut:
Mana yang lebih berat, shalat malam ataukah berlapang dada?
Mana yang lebih sulit, bersedekah ataukah berlapang dada?
Mana yang lebih susah, berpuasa ataukah berlapang dada?
Mana yang lebih terasa payah, berhaji ataukah berlapang dada?
Mana yang lebih repot, membaca Alquran ataukah berlapang dada?

Jelaslah bagi kita bahwa ibadah-ibadah di atas adalah ibadah yang sangat berat, sulit, susah dan juga memayahkan. Namun ia tak seperti shalat fardhu yang sama sekali tidak boleh ditinggalkan kecuali karena alasan hilang kesadaran semisal pingsan, gila dan ketiduran, meski pada saat sadarnya ia harus menggantinya. Yang pasti shalat fardhu adalah ibadah yang tak bisa ditinggalkan, meski sampai pada batas kemampuan yang sangat minim sekalipun, seperti halnya shalat yang tetap harus dilaksanakan meski hanya dengan isyarat hati sebab sakitnya fisik.

Tapi lihatlah ibadah shalat malam,

Kamis, 12 Desember 2013

Kemenangan Kadang Perlu Kesabaran Yang Melebihi Usia

Kemenangan dakwah tak selamanya dituai dalam hitungan waktu manusia, apalagi bila hitungannya berjangka pendek sependek usia pengembannya. Kemenangan dakwah adalah kemenangan risalah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yaitu agama Islam. Ia terwujud dalam tegaknya sendi aqidah, hukum, ilmu, akhlak, dan yang paling puncaknya adalah khilafah islamiyah. Mencapainya harus melewati sebuah jalan panjang yang dapat melebihi usia para penitinya yang terpanjang sekalipun.

Jalanan panjang yang berliku, terjal, kering dan gersang tersebut wajib untuk ditempuh, sebab itulah jalan satu-satunya. Mencapai finisnya tak ada jalan alternatif, apalagi jalan lain yang mampu mengantarkan penitinya. Itulah jalan jihad. Menempuhnya harus dengan sikap mujahadah. Tidak ada istilah main-main, bercanda dan bergurau, apalagi asal-asalan yang disertai dengan perilaku seraya dan sembari. Sebab sikap seperti itu disebut mendua. Dan bila jihad adalah bagian dari ibadah, maka selamanya ia tak akan menerima apapun bentuk perselingkuhan.

Rabu, 11 Desember 2013

Di Kubang Matre Matre

Zaman semakin maju, katanya. Tapi manusia makin menjadi budak. Diperas segala apa yang ia punya. Waktu. Tenaga. Pikiran. Terpaksa juga dipaksa. Hanya untuk memenuhi kebutuhan yang ia bukanlah kebutuhan. Tapi ia dibutuh-butuhkan hingga menjadi kewajiban.

Kini waktu, tenaga, dan pikiran dikerahkan mati-matian, agar ia dapat berganti uang. Berubah menjadi kepingan-kepingan atau lembaran-lembaran yang bernilai materi. Selama waktu masih berjalan. Selama tenaga masih kokoh. Selama pikiran masih berputar, maka semuanya bisa untuk diperas agar dapat mengeluarkan sari-sari materi. Tak peduli apakah dapat mengeluarkan materi yang banyak ataukah sedikit. Sebab yang dipentingkan adalah ia mampu mengeluarkan.

Kalau Memang Sanggup Silakan Coba...!!!

Betapa susah dan repotnya kita bila harus mengamalkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang satu ini. Memang sesanggup apa kita dan semampu apa, bila kemudian kita tidak pernah boleh menyimpan kebencian dalam hati terhadap seorang pun dari kaum muslimin dan tidak pernah boleh mendengki seorang pun atas nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.

Cobalah lihat diri kita sejujur-jujurnya dan perasaan apa yang langsung muncul di hati kita saat terbayang orang-orang yang meski kadang kita akui mereka masih muslim seperti kita namun hanya beda mazhab, atau beda manhaj, atau beda harakah, atau beda pendapat, atau beda fatwa?

Bila yang muncul adalah rasa empet, enneg, alergi, mau muntah, ngomel, gerutu, marah, dengki, pengen membantah setiap saat dan lain-lain, maka ketahuilah bahwa dada kita memang masih sempit.

Selasa, 10 Desember 2013

Surga Tak Akan Menerima Perilaku Jalanan

Tiba-tiba jalanan mendadak macet. Seorang ibu setengah baya sedang mengendarai motor dan membawa pisang dagangan di belakang motornya itu berhenti. Ia memilih jalanan di sebelah kanan yang kondisinya lebih baik dari pada yang di sebelah kiri, yang berlubang dan tergenang air bekas hujan. Tentunya sang ibu berpikir bahwa ia memilih jalur yang salah bukan tanpa sebab, tapi demi keselamatannya.

Pada saat yang sama ada dua mobil harus melewati jalanan tersebut. Yang pertama dari arah yang sama dengan motor sang ibu dan tetap memilih jalanan yang jelek dan penuh dengan air. Karena bentuknya mobil maka sang pengendara tahu itu tidak akan berdampak apa-apa bagi keselamatannya, namun karena ia jalankan sedikit kencang maka air kotor itupun terciprat ke pengendara motor lain. Ada yang menggerutu.

Sunnah-sunnah Membara

1. Kisah Bara Dalam Makanan

Suatu malam pada jamuan makan sehabis pengajian, tersuguhlah bubur jagung manis dalam sebuah mangkok putih. Meski waktu suguhan sangat saya sayangkan karena berada di ujung pengajian, saya tetap memakannya hingga tetes bubur penghabisan. Namun,,,,,,,

Sang tuan rumah berkata dengan ramahnya, "Silakan tambah pak, enak buburnya..."

Kata-kata tuan rumah yang meskipun ramah itu tetap saja bagi saya menimbulkan sedikit rasa tidak enak dalam jiwa. Sepertinya sangat kelaparan hingga tetes-tetes terakhir bubur pun dihabiskan. Tapi bisa jadi bukan seperti itu yang tuan rumah maksudkan. Namun sekali lagi meski....

Senin, 09 Desember 2013

SAAT SEDIH KEHILANGAN MAKNA

Namanya pengadilan yang menerapkan hukum buatan manusia selamanya tidak akan adil. Kepada siapa pun ia diterapkan juga tidak akan adil. Dan siapa pun yang meyakini bahwa ia lebih baik dari hukum Allah adalah kafir.
Maka dari itu hanya orang jahil saja yang masih berharap keadilan dari hukum yang dibuat manusia dhaluum dan jahuul.

Dari pada memaki, mencela dan mencibir apa saja dan siapa saja, maka jalan yang paling baik adalah mencipta generasi penerus bangsa yang baik agar kelak mampu merubah negeri ke arah yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Musibah apa pun maka kita harus meyakininya sebagai bagian dari cinta Allah kepada kita agar menjadi lebih baik,

"Idzaa ahabballahu qauman ibtalaahum"

MAKHLUK MULTITAKING

"Lembut jemarinya telah dijamah lelaki-lelaki"

Sungguh teramat  banyak bahasan dan komentar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap makhluk yang satu ini. Mulai dari sikap memuliakan mereka sampai dengan anjuran menyambung tali silaturahim dengan kerabat dan teman-teman mereka semasa hidupnya. Semuanya terkait dengan makhluk bernama wanita.

Dan di situlah sebenarnya inti ajaran Islam yang berhubungan dengan wanita. Sejatinya, memuliakan wanita adalah agar ia menjadi mulia.

Tak Selamanya Topemg Berbentuk Topeng

Topeng, biasanya berupa benda kecil seukuran kepala orang. Dan biasanya juga berbentuk muka manusia atau binatang. Kadang ia dicipta dengan bentuk muka yang seram, meski banyak juga bentuknya yang enak dipandang.
Ia dipakai untuk menutup muka asli sang pemakai, sebagaimana ia dipakai untuk ragam tujuan. Ada yang memakainya agar terpandang menawan. Ada juga yang memakainya agar nampak derwaman. Lalu ada pula yang memakainya agar ditakuti laksana preman.
Hampir semua yang memakai topeng adalah manusia-manusia yang sangat membutuhkannya. Ia butuh untuk diterima. Ia butuh untuk didengar. Ia butuh untuk dipandang. Sebab itu ia memakai topeng. Karena dengan topenglah ia akan diterima, didengar dan dipandang.

Minggu, 08 Desember 2013

Bila Ukuran Spion Lebih Besar Dari Mobilnya

"Ah, saya sudah malas kumpul-kumpul sama mereka. Lebih baik saya di luar saja sekarang. Shalat pun saya sudah jarang di masjid itu."
Begitulah tetangga saya mengawali pembicaraannya saat kami bertemu di depan tokonya. Saya pun lantas bertanya:
"Memang ada apa bapak dengan mereka ?"
"Saya kurang sreg saja, dia itu kan sekarang ketua DKM, masa orang seperti itu jadi ketua DKM?, dulu waktu nikahan anaknya masih pakai acara dangdutan. Apalagi, dia itu pernah minum juga, bahkan saat acara syukuran 17 Agustus dia ikut joget dan mabuk juga."
Tampaknya bapak ini bersemangat sekali menjelaskan ketidaksukaannya terhadap sang ketua DKM.

KADANG LIDAH TAK SELAMANYA BERZIKIR

Sungguh miris membaca dan mendengarkan berita hari-hari ini. Berita miring, sindiran, tuduhan, pencemaran, peremehan, pencacian dan lain sebagainya harus terucap dari lidah-lidah kita yang setiap saatnya terbiasa berzikir dan membaca AlQur'an. Padahal kita pun tahu, mencuci baju tidak mungkin dilakukan dengan air yang kemudian dicampur dengan tanah kotor.
Tak selamanya perbedaan dalam tubuh umat harus selalu melahirkan kedengkian. Tak seharusnya perbedaan senantiasa diakhiri dengan permusuhan.
Sungguh Ulama salafus sholeh tak pernah terdengar dalam sejarah emasnya, saat mereka berbeda lantas mengotori lidahnya. Sebab yang menghalangi mereka berbuat hina adalah rasa takut kepada Allah karena ilmu yang ada di dalam hati mereka.

KAPAN SEBAIKNYA KITA BERTAKWA

Maha Suci Allah, Dzat yang menurunkan Alquran dan menyifatinya sebagai kalam yang tidak ada sedikit pun keraguan di dalamnya. Dzat yang menjadikannya panduan dan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
Alangkah nyata kebenaran wahyu-NYA saat Ia menyebut dan meletakkan ciri pertama bagi orang-orang yang bertakwa adalah beriman kepada yang gaib. Di sinilah letak kebenaran kalam-NYA, bahwa tidaklah kebetulan saat ciri itu diletakkan sebagai ciri pertama.
Marilah kita simak dan telaah di antara i'jaaz[1] Alquran yang ada pada surat Albaqarah ayat yang ketiga.

MENGHINDAR DARI PAHALA

Setiap mukmin secara umum mendapatkan kewajiban yang sama dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing terkait firman-NYA di surat An-Nahl ayat 125 yang artinya:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."
Ia wajib mengajak orang lain agar menemukan jalan Tuhannya. Sebab pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah agar mereka beribadah kepada-NYA. Bila ada yang belum beribadah kepada Allah maka menjadi kewajiban orang yang sudah beribadah kepada-NYA agar mengajaknya beribadah kepada-NYA.