Minggu, 08 Desember 2013

GURU HEBAT, DIMANA?

Seringnya kita menuntut diri agar berbuat yang terbaik dalam pekerjaan kita. Apalagi saat setiap pekerjaan kita erat hubungannya dengan orang lain. Dan setiap pekerjaan memang seringnya terkait dengan orang lain.

Sebuah contoh dari pekerjaan yang sangat erat hubungannya dengan orang lain adalah mengajar. Kita setiap saat mulai detik pertama bekerja sampai dengan detik terakhirnya, maka sembilan puluh persen berinteraksi dengan peserta didik. Karena kita sebagai guru dan pendidik maka tuntutan kebaikan dari diri kita sangatlah ketat. Sebab guru katanya digugu dan ditiru. Maka jangan sampai ada hal-hal buruk dari kita yang digugu dan ditiru oleh murid-murid kita.


Karenanya, pekerjaan sebagai guru itu menuntut kita agar tepat waktu saat mengajar dan bertemu dengan murid-murid kita. Bersikap ramah dan santun dengan mereka. Banyak tersenyum agar mereka nyaman saat kita berada di tengah-tengahnya. Tidak bersuara keras saat bicara dengan mereka, apalagi membentaknya. Selalu siap siaga saat murid-murid kita bertanya dan meminta bantuan memahami pelajarannya. Selalu memberi semangat dan motivasi agar mereka sabar dalam belajar.

Meski kadangkala badan kita telah sangat letihnya, ditambah pikiran yang lelah dengan berbagai persoalan hidup, namun kita kerap menunjukkan rasa antusias yang tinggi dan luar biasa kepada murid-murid kita. Sebab kita bertanggung jawab atas pekerjaan kita sebagai guru mereka.

Dan.......

Sesampainya kita di rumah, tiba-tiba anak kita memanggil,

"Ayah, Ibu, adik ada PR..!"

Sang pak guru langsung menyahut,

"Ya sudah cepat kerjain, ntar kamu keburu tidur lagi..!!"

Sedang bu guru tak mau kalah,

"Kan tinggal nyalin ke buku, sudah tulis aja..!!"

Ternyata kita adalah guru di luar rumah kita, sedang saat di dalam rumah, kita bukanlah guru. Dan boleh jadi tidak semua kita menyadari bahwa perilaku terbaik kita saat menjadi guru di luar rumah adalah karena kita memang dituntut. Ya, dituntut karena kita digaji sebagai guru. Dituntut karena kita dibayar sebagai pengajar. Kita rela dan ridha berletih-letih menjadi guru di luar rumah sebab kita mendapatkan gaji dan bayaran berupa uang. Dan itu tidaklah salah.

Yang salah adalah saat kita tidak tahu dan lupa bahwa menjadi guru di dalam rumah juga bergaji. Yang menggaji adalah Sang Pemberi amanah berupa murid-murid yang ada dalam rumah kita. Dan boleh jadi gaji kita sebagai guru di dalam rumah jauh lebih besar dan lebih tinggi dari pada gaji kita sebagai guru di luar rumah. Namun yang pasti, karena gaji kita baru diberikan kelak makanya kita sering menganggapnya tiada.

"Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)" [Adh Dhuha : 4]

Jadi, bisakah kita tepat waktu saat mengajar dan bertemu dengan anak-anak kita?
Bersikap ramah dan santun dengan mereka.?
Banyak tersenyum agar mereka nyaman saat kita berada di tengah-tengahnya?
Tidak bersuara keras saat bicara dengan mereka, apalagi membentaknya?
Selalu siap siaga saat murid-murid kita bertanya dan meminta bantuan memahami pelajarannya?
Selalu memberi semangat dan motivasi agar mereka sabar dalam belajar?

-------------
Fairuz Ahmad.

Bintara, 6 Dzulqa'dah 1434 H./ 11 September 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar