Senin, 30 Desember 2013

Kisah Salaman Tanpa Mata

"Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, namun bila ia buruk maka buruklah seluruh tubuh."

Namanya salaman ya memakai tangan bukan memakai mata. Sebab kalau mata dengan mata namanya tatapan. Tapi tahukah kita, bahwa tatapan mata ke mata saat bersalaman adalah tanda keridhaan. Ridha sepenuh hati saat menyalami dan disalami. Sebab salaman terpaksa biasanya muncul tandanya pada mata. Kadang pada mulut. Dan kadang pada keduanya.

Mata yang tak akur dengan tangan pasti ia akan menyetir kepala agar melengoskan ke tempat lain supaya mata tak bertatap mata. Bila ia terpaksa menatap mata, maka ia akan menyetir mulut agar jangan sampai menyungging senyum. Kalau pun mulut sudah kadung tersenyum maka ia akan menatap namun sekelebat saja. Namun yang lebih diinginkan adalah mata jangan sampai bertatap mata, dan mulut jangan sampai menyungging senyum. Mahal.

Suatu malam ada undangan tasyakkuran tetangga yang mau berangkat haji. Sesampainya di tempat tuan rumah, maka bersamaan dengan orang-orang yang baru datang, saya bersalaman dengan beberapa undangan yang sudah datang duluan. Mereka sudah duduk di ruang depan rumah. Beberapa orang yang di depan saya bersalaman dan saya pun bersalaman dengan mereka. Karena pintu rumah ada di bagian kiri maka otomatis yang disalami duluan adalah orang-orang yang duduk senderan di tembok sebelah kiri, lalu berlanjut memutar. Namun karena harus membiasakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan memulai dari kanan, maka saya putuskan untuk memulai salaman dari sebelah kanan. Toh setelah saya amati tidak ada orang yang lebih tua yang duduk di sebelah kiri. Ternyata permulaan dari kanan inilah yang menyebabkan ketidakridhaan seseorang yang kebetulan duduk di sebelah kiri. Sepertinya dia merasa harus mendapat kehormatan permulaan salaman. Dan saat sampai pada orang tersebut, saya pun bersalaman dengan tangannya. Tapi tanpa mata dan mulutnya.

Sejatinya saat bersalaman, tangan, mata dan mulut adalah budak hati. Karenanya ia tergantung pada kendali hati. Maka bukanlah kesalahan mata saat kepala melengos, sebagaimana bukan salah mulut saat ia hanya terkatup. Mereka adalah budak, dan hati adalah tuannya.

"Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, namun bila ia buruk maka buruklah seluruh tubuh."

Begitulah pesan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

-------------
Fairuz Ahmad.
Bintara, 6 Dzulqa'dah 1434 H./ 11 September 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar