Kamis, 12 Desember 2013

Kembang Kenderat Mekar Sore


"Kembang Kenderat mekar sore, awak melarat dijarak dewe."
Salah satu ciri Ibaadur Rahman (hamba-hamba Dzat Yang Maha Penyayang) yang disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam surat Al-Furqan ayat 68 adalah mereka yang tidak melakukan dosa-dosa besar.
"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)."
Mari kita bedah beberapa mukjizat yang terkandung dalam ungkapan-ungkapan kata yang digunakan oleh Allah Sang Pemilik Kalam.
Beberapa mukjizat kalam inilah yang akan mengantarkan kita pada satu kesimpulan, bahwa ia adalah wahyu ilahi yang tiada sedikit pun mengandung kesalahan. Dan apabila ia hanya mengandung kebenaran, maka menjadi kewajiban bagi kita untuk mengetahui dimana letak kebenarannya.
Pertama adalah penggunaan kata "laa yad'uuna".
Secara bahasa, "yad'u" berarti memanggil, mengajak dan berdo'a. Akan tetapi yang dimaksudkan oleh Allah Ta'ala dalam ayat itu adalah menyekutukan atau berbuat syirik kepada Allah. Dan Allah tidak menggunakan kata yang memiliki arti spesifik terhadap kesyirikan yaitu "yusyrikuuna".
Telah kita ketahui bersama bahwa apa pun bentuk ibadah maka sedikitpun tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Tapi tahukah kita bahwa ada satu ibadah yang paling sering dilakukan oleh manusia, baik dikala senang maupun susah. Ibadah tersebut adalah berdo'a, baik meminta pertolongan, perlindungan, kekuatan, keselamatan, keberkahan dan lain sebagainya. Saat senang biasanya lisan secara otomatis berucap Alhamdulillah. Namun pada saat susahlah berdo'a itu menjadi rutinitas yang tak pernah ada jedanya. Artinya, berdo'a adalah ibadah yang selalu menjadi kebiasaan, sengaja maupun tidak.
Maka disinilah letak mukjizat kalam yang mengandung kebenaran itu. Bahwa ibadah yang kadang tampak sepele dan biasa saja dilarang untuk ditujukan kepada selain Allah, apalagi dengan ibadah yang sampai melibatkan harta, jiwa dan sebagian besar fisik kita. Karena itulah Allah tidak secara langsung menyebut "yusyrikuuna" yang artinya menyekutukan, tapi kata yang dipilih adalah "yad'uuna", sebab dari sesuatu yang kecil inilah manusia terjebak pada dosa dan kesalahan.
Kedua adalah penggunaan kata "ma'allahi" yang secara bahasa berarti bersama Allah atau dengan Allah.
Pada kenyataannya, orang yang menyekutukan Allah Ta'ala tak selamanya ia tampak seratus persen seperti orang musyrik yang tak lagi melakukan shalat, puasa, zakat, haji bahkan jihad fi sabilillah. Akan tetapi ada di antara mereka yang masih tampak melakukan ibadah itu semua. Namun ia melakukannya "sambil" secara sadar atau tidak sadar berbarengan dengan niat dan tujuan kepada tuhan lain selain Allah.
Sebab itulah Allah mengungkapkannya dengan "ma'allahi", karena ada orang yang tampak bersama Allah namun ia telah berselingkuh, bahkan secara fisik berpenampilan mesra dengan Allah namun ternyata hati lebih berasyik masyuk dengan selingkuhannya.
Ketiga adalah penggunaan shighat atau bentuk pecahan morfologis pada kata kerja "yad'uuna", "yaqtuluuna", dan "yaznuuna". Dimana semuanya adalah bentuk kata kerja yang memiliki keterkaitan waktu sekarang dan akan datang.
Bahwa perbuatan dosa besar bila dilakukan satu kali saja sudah sangat berat tanggungan dosanya, apalagi bila ia senantiasa dan setiap waktu dilakukan, maka pantaslah saat Allah menyebutkan pembalasannya dengan "atsaama" bentuk jamak dari "itsm" yaitu dosa-dosa.
Keempat adalah penggunaan kata "yalqa" yang secara bahasa berarti bertemu atau ketemu.
Tidak ada kata terjemahan yang pas dari bahasa Indonesia terhadap kata ini kecuali terjemahan maksudnya, yaitu mendapat, sebab bila tetap dipaksakan dengan memberinya arti bertemu atau ketemu, maka akan sedikit janggal.
Namun di sinilah letak mukjizat kalam itu, dan di sinilah munasabah atau letak hubungan pembahasan dengan judul tulisan yang diambil dari ungkapan bahasa Jawa,
"Kembang Kenderat mekar sore, awak melarat dijarak dewe."
Sesungguhnya kebanyakan orang yang kehidupannya sempit itu disebabkan karena ulahnya sendiri. Ia bertemu dan ketemu dosa-dosa sebab ulahnya sendiri yang menyekutukan Allah, membunuh jiwa tak berdosa dan juga berzina. Dan begitulah yang diungkapkan Allah dalam ayat-NYA:
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.." [Thaha : 124]
Bila ia diartikan dengan mendapat, maka seolah-olah ia mendapatkan dosa-dosa itu dari Allah dan Allahlah yang memberinya. Oleh karena itulah Allah tidak menggunakan kata yang mempunyai arti mendapat, sebab Allah tidak menzalimi hamba-hamba-NYA. Perbuatan merekalah yang menjadi sebab atas dosa-dosa itu. Di sini pun Allah mengajarkan adab kepada kita agar tidak sekali-kali menghubungkan suatu kejelekan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wallahu A'lam.
Fairuz Ahmad.
Bintara, 11 Rajab 1434 H./ 21 Mei 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar