Senin, 30 Desember 2013

Nasehat Dan Taujih Dr. Muhammad Bin Abdul Maqshud Tentang Situasi Mesir [2]

Saat terjadi revolusi, kita mengajak kepada semua elemen yang ada untuk duduk bersama dalam rangka membuat rancangan untuk mengatur negara. Apakah kita mengembalikannya pada Syari'ah Islamiyah?
Mereka bilang tidak, tidak untuk syari'ah!!!
Lalu bagaimana kita memutuskan perkaranya?
Mereka bilang demi Allah….dengan demokrasi!!!
Dan demokrasi berarti pendapat rakyat. Apa yang diputuskan oleh rakyat melalui pendapatnya. Tapi karena kami mengetahui bahwa rakyat kami adalah muslim maka kami katakan silakan. Mari kita putuskan melalui kotak suara.
Lalu tibalah kotak suara itu yang mana hasilnya adalah mirip dengan apa yang kami pastikan, dan memang sesuai dengan apa yang kami pastikan. Karena rakyat kita adalah rakyat muslim. Yang jelas hasil ini (kemenangan Islamiyyin) tidak membuat mereka rela.
Maka setelahnya, kalian mulai dengar slogan-slogan mereka. Bahwa legitimasi menurut kami adanya di lapangan Tahrir. Bukan di MPR ataupun DPR atau Majelis-majelis lainnya (yang dihasilkan dari pemungutan suara terbanyak, penerj.), namun di sini di lapangan Tahrir.
Anda bisa bayangkan bagaimana mungkin hal tersebut bisa berjalan baik. (mereka bilang) Kotak suara dan suara mayoritas bukanlah segala-galanya.
Kalian harus memahami ini bahwa demokrasi telah membuat lelah kalian semua. Sampai kalian lihat sendiri ketika Senator Amerika John Mc Cain datang ke Mesir baru-baru ini menyatakan dengan tegas bahwa kotak suara dan suara mayoritas bukan segala-galanya. Dia berdusta dengan omongannya itu, dan saya tahu ia berdusta. Padahal di Amerika kenyataannya seperti itu (yang menentukan adalah suara terbanyak, penerj.).
Oleh karena itu kita cari kesepakatan, dan kesepakatan adalah mengembalikan urusan kepada referensi utama saat kita berselisih.
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (An-Nisa : 59)
Akan tetapi mereka semua menolak, dan ini adalah tanda kemunafikan. Kalian harus camkan bahwa tanda kemunafikan adalah:
"Apabila dikatakan kepada mereka : "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu." (An-Nisa : 61)
Allah mengatakan dengan kata "yashuddu", yaitu menghalangi, menolak, berteriak dan memusuhi. Ini adalah salah satu tanda kemunafikan. Kalian harus menjauhi tanda ini. Sebagaimana yang Allah katakan dalam surat An-Nur:
"Dan mereka berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)." Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." (An-Nur : 47)
Oleh karena itu Allah juga mengatakan:
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ?" (An-Nisa : 60)
Apa bukti bahwa keimanan mereka hanya sekedar mengaku-ngaku? Buktinya adalah :
"Mereka hendak berhakim kepada thaghut." (An-Nisa : 60)
Maka siapa saja yang menghukum dan berhukum dengan selain syari'at Allah, maka ia telah menjadikan thaghut sebagai hakim dan ia berhukum kepadanya.
Kita berbicara tentang ilmu dan ini adalah pembahasan para ahlul ilmi, bahwa siapa saja yang menghukum dan berhukum dengan selain syari'at Allah, maka ia telah menjadikan thaghut sebagai hakim dan ia berhukum kepadanya.
"Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya." (An-Nisa : 60)
"Apabila dikatakan kepada mereka : "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu." (An-Nisa : 61)
"Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah ?" (An-Nisa : 62)
Hendaknya kalian meyakini bahwa mereka semua akan mendapatkan musibah dan hukuman dari Allah Azza wa Jalla. Musibah dan hukuman atas mereka, juga atas orang-orang yang mendukung mereka dan yang membenarkan kebohongan mereka padahal ia tahu bahwa mereka adalah musuh bagi syari'ah.
"Dan mereka berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)." Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman." (An-Nur : 47)
"Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah [Maksudnya: Dipanggil untuk bertahkim kepada Kitabullah] dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang."
"Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. "

"Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim. "(An-Nur : 48-50)

bersambung...
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar