Minggu, 29 Desember 2013

Huruf "wa" Dan Kodrat Poligami Pada Laki-laki


Sungguh bukanlah kebetulan saat kita dapati sekian ayat-ayat Alquran yang di dalamnya terdapat khithab badii'i atau ungkapan penuh keindahan yang Allah tujukan buat hamba-hamba-Nya yang beriman. Khithab badii'i itu diulang beberapa kali seolah menegaskan kepada hamba-Nya bahwa Ia adalah Zat Yang Maha Penyayang dan senantiasa tak pernah lupa akan kasih sayang-Nya. Meski memang sejatinya Ia tak akan pernah lupa.

Maka simaklah khithab badii'i-Nya yang Ia ungkapkan dalam surat Ali Imran ayat 104 yang artinya,

"Dan hendaknya ada di antara kalian segolongan yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Lalu lihatlah khtihab badii'i yang ada di surat Az Zumar ayat 73 yang artinya,

"Hingga saat mereka (orang-orang yang bertaqwa) mendatangi surga dan dibukakanlah pintu-pintunya."

Juga lihatlah di surat Al Furqaan ayat 63 yang artinya,

"Dan hamba-hamba Zat Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di atas muka bumi dalam keadaan rendah hati.."

Dan berikutnya adalah surat An Nur ayat 31 yang artinya,

"Dan katakanlah kepada wanita-wanita beriman agar menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya."

Tentunya tak mungkin semua mukjizat Alquran di balik khithab badii'i pada keempat ayat di atas akan terbahas tuntas dalam tulisan ini. Sebab ilmu Sang Pemilik khithab tentunya tak mungkin ditulis oleh makhluk-Nya dalam lembaran-lembaran yang sangat berbatas. Namun yang sedikit dan sederhana ini kiranya akan semakin menambah keyakinan kita saat terpampang di hadapan kita tentang keagungan kalam dan ungkapan-ungkapan-Nya. Sebab dengan matalah maka Nabiyullah Ibrahim alahissalam menambah keyakinannya akan kekuasaan Allah seraya berkata yang artinya,

"..akan tetapi agar hatiku semakin tenteram."

Beliau mengatakan itu saat ingin melihat cara Allah menghidupkan kembali makhluk yang telah mati, maka Allah bertanya padanya,

"Apakah engkau belum beriman (kepada-Ku)?"

Beliau menjawab,

"Betul (aku telah beriman) akan tetapi agar hatiku semakin tenteram."[1]

Dan marilah kita bahas keempat khithab badii'i yang ada pada ayat-ayat di atas. Dan dalam tulisan sederhana ini hanya akan membahas khithab badii'i berupa huruf wawu. Ya, satu huruf saja, namun cukuplah satu huruf tersebut menunjukkan satu pelajaran penting berupa irsyaad wa taujiih tentang al akhlaaqul kariimah.

Lihatlah ayat pertama saat Allah mendahului ayatnya dengan huruf "wa" yang artinya "dan", Allah berfirman, "waltakun..."
Lalu ayat kedua saat Ia berfirman, "wa futihat..."
Kemudian Ia berfirman, "wa 'ibaadurrahmaan..."
Dan berikutnya "wa qul lilmukminaati..."

Lalu dimanakah letak mukjizatnya?

Bukankah kita juga sudah faham akan arti dan maknanya saat ayat-ayat tersebut diungkapkan tanpa adanya huruf "wa"? Bahwa tidak ada yang menyalahi kaedah bahasa meskipun tanpa huruf "wa". Sebagai contoh, "litakun", "futihat", "'ibaadurrahmaan" dan "qul lilmukminaat". Namun kita sama sekali dilarang mempertanyakan hal itu, sebab kita yang tidak memiliki ilmu selayaknya sikap kita bukanlah mempertanyakan, akan tetapi mencari ilmunya. Sebab mempertanyakan ilmu Allah adalah sebuah bentuk kebodohan yang teramat sangat. Bukankah telah Allah ajarkan kepada kita sebuah do'a,

"Robbi zidnii 'ilmaa"

"Ya Allah tambahkanlah ilmu untukku"[2]

Coba sekarang kita rasakan betapa kakunya saat kalam-kalam itu tanpa huruf "wa". Seakan secara tiba-tiba dan sekonyong-konyong ayat itu disampaikan kepada pendengaran kita bila tanpa huruf "wa". Kadang terasa kaku, kasar, tegas dan penuh dengan tekanan. Namun disebabkan Allah sedang berbincang dengan orang-orang berimanlah maka Ia haluskan kata-katanya. Oleh karena itu Ia letakkan huruf “wa” padanya. Dan itulah kesantunan Allah terhadap orang-orang beriman. Bila Ia sebagai Tuhan saja memperlakukan orang-orang beriman dengan santun maka bagaimana dengan kita? Bukankah kita jauh lebih wajib bertutur santun dengan sesama orang beriman? Dan inilah pelajaran berharga dari huruf "wa" pada ketiga ayat yang pertama.

Lalu bagaimana dengan ayat yang keempat?

Ayat yang keempat bahkan jauh lebih dalam. Sebab sebelumnya Allah telah berkata kepada laki-laki beriman agar menundukkan sebagian pandangan dan menjaga kemaluannya. Namun saat berbicara untuk laki-laki maka Allah tidak mendahului ungkapannya dengan huruf "wa", sedang untuk wanita maka Allah tambahkan huruf "wa". Meski huruf “wa” pada ayat ini berfungsi segabai huruf ‘athaf yaitu penyambung antara kata yang sebelumnya dengan kata yang setelahnya, namun ada hikmah yang menarik padanya, sebab sekali lagi tanpa huruf “wa” pun maknanya sudah bisa kita fahami.

Bukankah memang salah satu fungsi huruf "wa" adalah menghaluskan kata-kata sebagaimana paparan di atas? Dan memang berbicara kepada wanita haruslah dengan kelembutan, tapi itu baru salah satu pelajaran dari adanya huruf "wa". Apa pelajaran berikutnya? Bahkan lebih tepatnya adalah hikmah dan isyarat yang biasa para ulama tafsir sebut sebagai lathaa-iful quran. Ya, ada satu isyarat betapa Maha Lembutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam membenam isyarat yang harus kita gali agar ia menampakkan keindahannya. Isyarat yang sangat halus itu adalah dibedakannya antara khithab untuk laki-laki dan khithab untuk wanita dengan huruf “wa”. Bila kepada kaum lelaki tanpa huruf “wa” yang mengesankan ketegasan dan tak perlu berlembut kata, maka sebaliknya kepada wanita Ia memakai huruf “wa”. Lalu apa hikmah kesan bertutur lembut kepada wanita namun tidak pada lelaki. Maka di antara hikmahnya adalah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membedakan kodrat laki-laki dan wanita. Di antara kodrat laki-laki adalah berpoligami. Karena Allah telah menciptakan kodrat berpoligamilah maka Ia turunkan syari’at-Nya terkait bolehnya poligami bagi laki-laki. Dan karena laki-laki memiliki kodrat berpoligami maka selamanya ia akan selalu tertarik kepada wanita untuk dinikahinya. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan hal ini saat Ia berfirman yang artinya,

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita…..”[3]

Dan Rasulullah pun menegaskan,

"Aku telah dicintakan (oleh Allah) terhadap perkara duniamu berupa wanita dan wewangian"[4]

Dan karena kodrat inilah maka laki-laki sering terjebak pada mengumbar pandangan mata kepada wanita. Berbeda dengan wanita yang Allah ciptakan sebagai pendamping bagi seorang laki-laki, lalu ditetapkan atasnya syari’at pelarangan menikah dengan lebih dari satu laki-laki, maka sesuai kodratnya seorang wanita mukminah tidak akan ada ketertarikan terhadap laki-laki lain untuk menikah dengannya selain suaminya. Oleh karena itulah ia jarang terjebak pada mengumbar pandangan matanya terhadap laki-laki lain.

Boleh jadi karena perbedaan kodrat inilah sehingga Allah isyaratkan perintah menjaga pandangan mata dengan huruf “wa” bagi wanita dan tanpa huruf “wa” bagi laki-laki. Bila wanita sudah tak dibolehkan bersuami lebih dari satu laki-laki maka sesuai kodratnya ia tidak akan mengumbar pandangan matanya, sebab selain dosa maka pandangan matanya tidak ada guna sama sekali. Namun berbeda dengan laki-laki, meski mengumbar pandangan mata juga berdosa, namun suatu saat ia terjebak melakukannya sebab ia masih boleh mencari wanita lebih dari satu. Karena ada peluang boleh itulah maka perintah Allah kepadanya lebih tegas karena dikuatirkan ia akan jelalatan, sedang kepada wanita lebih lembut, karena buat apa ia jelalatan sedang tak ada manfaat sedikit pun yang kembali padanya. Wallahu A’lam.

Fairuz Ahmad.

Bintara, 26 Shafar 1435 H./ 29 Desember 2013 M.

Catatan:

[1] QS. Albaqarah : 260.
[2] QS. Thaahaa : 114.
[3] QS. Ali Imran : 14.
[4] Musnad Imam Ahmad 3/128,199,285. Nasa'i 7/61 dari Anas bin Malik dengan sanad yang hasan, juga disahkan oleh Al-Hakim.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar