Selasa, 17 Desember 2013

Al Minhaal Syarhul Maqaalah Menampil Atribut Dajjaal

Mungkin ada yang salah mengerti dengan tulisan saya tentang "menampil atribut dajjal", mungkin juga ada yang tidak mengerti, dan bahkan sangat mungkin tulisan saya memang tidak dapat dimengerti.

Apapun kemungkinan tersebut, sebenarnya tulisan itu adalah karena rasa geli dan juga mungkin jengkel yang saya rasakan. Sebab beberapa kali saya dihadapkan pada situasi yang menggelikan dan kadang menjengkelkan. Berikut contoh-contohnya:

Saya beberapa kali meluruskan pemahaman tentang wanita yang memakai cadar. Mereka bilang itu aliran yang berbeda—mungkin tidak berani frontal mengatakan aliran sesat—lalu ditambahlah dengan cibiran dan gunjingan. Lalu terkait dengan celana cingkrang alias kependekan, berakhir juga dengan perkataan yang bernada sinis. Lalu terkait dengan jenggot yang kepanjangan, akhirnya keluarlah ungkapan PJMM alias Persatuan Jenggot Morat-marit. Lalu terkait dengan desakan-desakan tumit yang menjengkelkan saat shalat berjama'ah, akhirnya pada risih.


Menurut saya—meskipun kata "saya" itu juga kurang pas diucapkan, sebab dahulu dosen saya di LIPIA, Dr. Ahmad Al Khatm pernah memotong kata-kata teman saya yang berkata, "ana araa" yang artinya, saya berpendapat...., beliau langsung berkata, "laa yaquulu "ana" illaa ibliis..." tidak berkata "saya" kecuali iblis—kebiasaan masyarakat kita adalah menggunjing dan hanya berani bicara di belakang, dan itu juga terkait dengan para pengajar agama mereka yang tidak menguasai bahasannya hingga dirinya sendiri tidak memahami masalah-masalah dalam fiqih, seperti mana yang disepakati ulama dan mana yang diperselisihkan. Akhirnya semua masalah dianggap sama.
Tapi yang paling utama sebenarnya adalah sikap dengki, walaupun sangat kecil. Sebab sekecil dan sehalus apa pun sikap dengki pastilah ia akan tertampakkan juga. Karena itulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata,

Iyyaakum wal hasad fa-innal hasad ya'kulul hasanaat kamaa ta'kulun naarul hathab

"jauhilah olehmu sikap dengki, sebab ia senantiasa memakan kebaikan-kebaikan laksana api memakan kayu bakar."[1]

Jadi, tidak mungkin kayu bakar itu terbakar sedang apinya tak tampak.

Akhirnya saya perlu menjelaskan pada mereka bahwa cadar, celana cingkrang, jenggot panjang dan desakan tumit adalah persoalan yang ada bahasannya dalam fiqih dan masing-masing harus dihargai dengan pilihan-pilihannya selama ia berasaskan dalil yang shahih. Adapun persoalan yang tidak ada bahasannya dalam fiqih maka saya mohon keikhlasan mereka untuk tidak menjadikannya bagian dari ibadah yang ada bahasannya dalam fiqih, meski kadang mereka masih menganggapnya bagian dari itu. Jadi, lebih baik kita diam dari pada bersikap sinis atau menertawakan, sebab kita kuatirkan diri kita malah sinis dan menertawakan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Pernah ada kejadian yang menggelikan juga, selama ini saya sering memulai kajian dengan mengutip hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi,
"Fa-inna ashdaqal hadiitsi kitaabullah wa khairal hadyi hadyu muhammadin shallallahu alaihi wasallam wa syarral umuuri muhdatsaatuhaa wa kulla muhdatsatin bid'ah wa kulla bid'atin dhalaalah wa kulla dhalaalatin fin naar"
Dari awal kok saya melihat ada muka-muka dingin—ini juga perlu saya tegaskan kepada siapa saja, bahwa jangan sampai kita bertemu saudara muslim dengan tampilan wajah yang tidak thalq alias tidak enak dipandang mata, padahal kita saat memilih calon pasangan hidup juga selalu ingin yang berwajah thalq—dan ternyata setelah kajian selesai dan saya tidak buru-buru pulang, saya berbincang sebentar dengan sebagian pemilik muka-muka dingin tersebut. Sesudah obrolan kesana-kemari dan suasana sudah mencair, saya beranikan diri bertanya tentang penampakan muka-muka dingin tersebut apakah karena saya mengutip hadits yang ada ungkapan bid'ahnya itu? Mereka menjawab, Ya, tadinya mereka mengira bahwa mereka akan menerima tembakan-tembakan panas dari mulut saya. Tapi bisa jadi menurut saya, bahwa selama ini masyarakat telah mengalami tiga hal,

Pertama mereka tidak mendapatkan kajian ilmu, tapi yang mereka dapatkan adalah kajian anggapan, yaitu sesuatu yang dianggap ilmu padahal bukan.

Kedua mereka tidak terbiasa diajak berdiskusi tentang perbedaan ulama.

Ketiga mereka seringnya mendapatkan penalti-penalti tanpa dikasih tahu sebab pelanggarannya. Sebab tidak semua orang tahu dengan kesalahan yang dilakukannya.

Pernah juga saya meluruskan persepsi salah tentang istilah salafi dan wahabi. Dan itu adalah yang saya tunggu-tunggu sekalian membongkar kedok para penganut agama kemaluan wanita yang selama ini selalu berlindung di balik baju orang lain, padahal mereka jugalah yang meniup fitnah wahabi.

Dan yang terakhir tentang partai PKS. Kadang saya sangat kasihan dengan kawan-kawan yang merasa seperti dajjal saat memakai atribut PKS. Memang dosanya apa memakai atribut tersebut? Toh kadang banyak orang tidak sadar memakai jersey bola luar negeri yang berlogo salib, lambang sponsor perusahaan judi, logo perusahaan orang-orang kafir—otomatis kita sebagai iklan gratis mereka—lalu ada juga jersey yang bertuliskan nama pemain bola dan kafir lagi.

Ya, seharusnya kita tidak bersikap yang berlebihan terhadap mereka, meskipun ada juga di antara mereka yang berlebihan dalam menampilkan atributnya hingga seperti lagunya Mbah Surip, "tak gendong kemana-mana" alias kemana tempat dan kapan waktu selalu beratribut.

"Jauhilah oleh kalian ghuluw(berlebihan) dalam agama."[2]

Kalau dalam menjalankan ibadah saja dilarang ghuluw apalagi dalam menampil atribut.

Dari sekian peristiwa di atas, saya mengambil kesimpulan sebagaimana sudah saya simpulkan pada tulisan terkait, bahwa problem mendasar kita adalah sedikitnya iman dan ilmu. Karena dua hal itulah yang menentukan elegan dan tidaknya sikap kita. Maka tuntutlah ilmu agama kapan saja dan dari ulama siapa saja—ingat ya, saya memakai kata ulama, bukan syeikh, ustadz, kyai, guru dll, sebab kualifikasi ulama bisa dilihat dalam surat Faathir ayat 28—karena dengan ilmu itulah kita akan terbebas dari anggapan-anggapan.

Fairuz Ahmad.
Bintara, 15 Shafar 1435 H./18 Desember 2013 M.
Catatan:
[1] hadits lemah, bagi yang bisa berbahasa Arab silakan lihat takhrijnya di:
[2] HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar