Senin, 09 Desember 2013

SAAT SEDIH KEHILANGAN MAKNA

Namanya pengadilan yang menerapkan hukum buatan manusia selamanya tidak akan adil. Kepada siapa pun ia diterapkan juga tidak akan adil. Dan siapa pun yang meyakini bahwa ia lebih baik dari hukum Allah adalah kafir.
Maka dari itu hanya orang jahil saja yang masih berharap keadilan dari hukum yang dibuat manusia dhaluum dan jahuul.

Dari pada memaki, mencela dan mencibir apa saja dan siapa saja, maka jalan yang paling baik adalah mencipta generasi penerus bangsa yang baik agar kelak mampu merubah negeri ke arah yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Musibah apa pun maka kita harus meyakininya sebagai bagian dari cinta Allah kepada kita agar menjadi lebih baik,

"Idzaa ahabballahu qauman ibtalaahum"


Bila Allah telah mencintai suatu qaum atau seseorang maka Dia pasti mengujinya. Begitulah Rasululllah shallallahu alaihi wasallam mengajarkannya kepada kita.

Bukankah banyak contoh dari para ulama kita saat penjara menjadikan mereka manusia-manusia dengan karya yang melintas masa? Ibnu Taimiyyah dengan karya fenomenal Majmu' Fataawanya, Sayyid Quthb dengan tafsir Dhilalnya dan Buya Hamka dengan tafsir Al Azharnya?

Sungguh saat Allah ingin menaikkan derajat seseorang di sisi-NYA maka akan ada cara tersendiri dari-NYA buat orang-orang yang dicintai-NYA.

Dan sungguh rasa kesedihan dan kegalauan saat tertimpa musibah adalah bukan cara dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diajarkan kepada kita. Bukankah beliau mengabarkan kepada kita bahwa setiap urusan orang beriman adalah menakjubkan, baik di kala senangnya maupun susahnya? Lantas atas dasar apa kita bersedih bila nyatanya musibah tersebut adalah kebaikan bagi kita?

Sekali lagi, yang penting bagi kita sekarang adalah menyiapkan generasi penerus bangsa, agar kelak menjadikan negeri ini berada dalam naungan rahmat Allah hingga dibukakan baginya pintu-pintu keberkahan dari langit. Dan itu terwujud bila Allah sudah melihat bahwa hukum-hukum-NYA telah ditegakkan di negeri ini, dan bukan hukum buatan makhluk-NYA yang Dia ciptakan dengan sifat dhaluum dan jahuul.

"Selama para pemimpin mereka TIDAK MAU BERHUKUM DENGAN KITAB Allah DAN SELAMA MEREKA TIDAK MENCARI KEBAIKAN DALAM APA YANG DITURUNKAN Allah niscaya Allah akan membuat mereka saling menyakiti satu sama lain." (HR. Ibnu Majah, dianggap shahih oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, jilid 1 hal. 105, no. 106 karena mempetimbangkan banyak jalur yg menguatkannya)

Fairuz Ahmad.

Subuh di Alaska 7 Shafar 1435 H./10 Desember 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar