Minggu, 08 Desember 2013

AGAR GAJAH YANG BERAT BISA SERINGAN KAPAS

Pernahkan kita membayangkan atau bahkan menginginkan kemampuan membuat hal-hal berat menjadi ringan. Sesuatu yang besar menjadi kecil. Yang sulit menjadi mudah. Yang tinggi menjadi rendah. Dan yang mahal menjadi murah meriah?
Tahukah kita bahwa lingkungan kadang telah mengajarkan banyak hal kepada kita yang selanjutnya tanpa kita sadari, ternyata banyak hal yang telah kita pelajari dari lingkungan itu telah mampu membentuk pikiran kita menjadi sebuah benda kristal yang keras. Tanpa kita sadari bahwa pembiasaan yang dilakukan oleh lingkungan terhadap kita telah mampu mengubah tetesan-tetesan air perilaku kita menjadi kaku dan keras laksana batuan stalagmit dan stalagtit. Baik benda kristal maupun batuan stalagmit, keduanya sangatlah keras, karena kerasnya maka ia mudah pecah saat terjadi benturan.

Bila alam pikiran kita telah kehilangan sifat lunaknya, sejatinya ia telah sering kali membuang-buang energinya. Karena setiap kali ia berhadapan dengan sebongkah batu raksasa yang menghalangi perjalanannya, ia langsung dan selalu terfokus untuk mengangkatnya atau menghancurkannya sekaligus agar semuanya menjadi lancar. Tapi sering kali kemampuan kita tidak mampu untuk melakukannya sekaligus. Karena seharusnya ia melakukannya sedikit demi sedikit.
Ibarat pedagang obat, sering kali kita temukan ia mengalami kesulitan, atau mungkin ia sendiri yang mempersulit dirinya sendiri saat menyampaikan informasi kepada calon konsumen yang belum mengerti detil dan seluk beluk sebuah produk unggulan yang ia jual. Dalam pikirannya ia tahu, bahwa calon pembelinya ini belum mengetahui produknya dan ia memang kelihatan sangat antusias terhadap produk itu, dan hal itulah yang kemudian langsung diterjemahkan oleh sang pedagang bahwa calon konsumennya itu wajib membelinya karena ia butuh.
Maka mulailah sang pedagang mengeluarkan seluruh jurus pendekar sales yang ia pelajari dan yang ia sendiri baru tahu. Bahkan ada beberapa jurus yang ia belum mengerti cara penggunaannya. Dalam pikirannya hanya ada satu kata, calon konsumen itu harus beli, titik.
Lantas semua hal ia sampaikan. Ia mulai bicara tentang merk. Kenapa produk tersebut dinamakan dengan merk itu, tentang filosofinya, siapa pembuatnya, perbedaannya dengan merk-merk lain yang ada di pasaran, sampai ia sebutkan siapa saja yang suka dan mencintai nama merk itu.
Berikutnya ia bicara tentang kemasan. Mulai dari warnanya, bahannya, bentuknya, bobotnya, sampai dari mana bahan kemasan itu berasal, dan tidak ketinggalan siapa saja yang sangat suka dan mencintai bentuk kemasan seperti itu.
Selanjutnya ia bicara tentang kandungan produknya. Ia mulai bercerita tentang bahan-bahan ramuannya. Satu-persatu ia jelaskan secara rinci dari sepuluh bahan-bahan itu. Dari mana bahan itu diperoleh, cara memperolehnya, perbedaannya dengan bahan-bahan lain yang ada di pasaran, sampai cerita tentang siapa saja yang telah mencintai bahan-bahan itu.
Lalu cerita tentang arus distribusi produk itu. Dari tangan pertamanya sampai konsumen terakhirnya alias pengguna. Semua tercatat dan telah ia hafalkan seluruhnya untuk kemudian ia sampaikan pula semuanya sebagaimana adanya kepada setiap calon pembeli, tanpa kurang dan tambah.
Terakhir ia mengunci penjelasannya, bahwa produk miliknya adalah yang terbaik di antara produk-produk lain yang ada di pasaran. Dan kadang pula ia tambahkan kata-kata awas barang palsu untuk produk lain yang bukan miliknya.
Yang pasti, sang pedagang itu tidak salah dalam memberikan informasi, karena memang tidak ada yang ia sembunyikan. Akan tetapi tak selamanya ia harus berjuang seperti itu. Ya, tak selamanya ia selalu harus membuang energinya kepada setiap calon pembeli dengan selalu mengeluarkan seluruh jurus menjualnya.
Sungguh saat kita menawarkan kebaikan agama kepada orang-orang tak ubahnya sebagai seorang pedagang. Saat ada calon pembeli yang membutuhkan obat sakit kepala, maka bukanlah saat yang tepat kita mengeluarkan semua jurus pendekar sales untuk menjelaskan obat sakit kepala dari A sampai Z-nya. Karena boleh jadi ia menjadi bosan dan bertambah sakit kepalanya, yang pada akhirnya ia akan pindah ke lain toko yang lebih simpel dan tak berpanjang lebar. Baginya yang terpenting adalah membeli obat lalu membawanya pulang untuk diminum.
Lihatlah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah membimbing kita untuk menjadi penjual yang baik saat berfirman:
"Dan katakanlah kepada mereka dengan perkataan yang ma'ruf (baik)."[1]
Ma'ruf artinya baik, diketahui dan dikenal. Maka sebagai penjual, tidaklah tepat bila setiap saat kita bicara panjang lebar. Karena boleh jadi perkataan kita belum diketahui dan dikenal oleh pembeli.
Dan lihatlah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat mengajarkan kita cara menjual yang baik kepada pembeli dengan mengatakan:
"Berilah kabar gembira jangan kau buat mereka lari, permudahlah dan jangan kau persulit." [2]
Sebuah jurus ampuh yang tak ada banding maupun tanding. Pembeli harus merasa senang dan tenang dengan mendapatkan obat yang tidak sulit dan menyulitkan. Dan sesuatu yang sulit dan menyulitkan adalah mendengarkan penjelasan yang tentang obat yang berkepanjangan.
Bukankah beliau juga mengajarkan kepada kita agar tidak menjelaskan kepada orang yang tidak memerlukan penjelasan panjang lebar, beliau bersabda:
"Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka mengerti, apakah kalian ingin agar Allah dan Rasul-NYA didustakan?" [3]
Simaklah cerita tentang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat ia mengajarkan kepada para sahabatnya yang mulia, saat datang seseorang yang bertanya tentang perkara yang sangat besar dari agama ini. Alangkah sederhananya beliau saat membuat orang faham dan mengerti tentang apa itu Islam, iman dan ihsan.
Dari Umar radhiallahuanhu dia berkata:
"Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya.
Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata :
“Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”
maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :
“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu",
kemudian dia berkata : "anda benar".
Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi :
"Beritahukan aku tentang Iman".
Lalu beliau bersabda :
"Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk",
kemudian dia berkata : "anda benar".
Kemudian dia berkata lagi :
"Beritahukan aku tentang ihsan",
Lalu beliau bersabda :
Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”.[4]
Tak selamanya kita harus menjelaskan perkara agama lengkap dengan semua perbedaan ulama di dalamnya. Sebagaimana kadang kita tak perlu membahas cabang-cabangnya bila yang penting adalah penjelasan tentang pokoknya.
Ya, suatu saat kita harus mampu merubah seekor gajah yang berat agar ia bisa seringan kapas.
Karena sebongkah batu raksasa tidaklah mustahil, untuk kita ubah menjadi butiran pasir.
Fairuz Ahmad.
Bintara, habis shubuh 13 Rabi'ul Awwal 1434 H./25 januari 2013
---------------
Catatan :
[1] An-Nisa' : 5
[2] Shahih Bukhari dari Anas bin Malik no. 69
[3] Hadits mauquf diriwayatkan oleh Bukhari dari Ali RA dalam kitabul ilmi bab man khashsha bil ilmi qauman duna qaumin karahiyata an la yafhamu.
[4] Shahih Bukhari dari Abu Hurairah no.50, dan Shahih Muslim dari Umar bin Khaththab no. 8
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar