Selasa, 31 Desember 2013

Cinta Saja Tak Cukup

Dahulu saat masih di Salemba sekitar tahun 94-an, ada sebuah buku cerita judulnya "al hubbu laa yakfii", cinta saja tak cukup. Buku ini bercerita tentang situasi-situasi kehidupan yang sepertinya nyata pernah terjadi. Sarat pelajaran akhlak dan budi pekerti. Sebab pembaca langsung diajak berpikir dan menelaah situasi-situasi salah dalam hidup, terutama kesalahan kita saat mendidik dan menyiapkan generasi.

Salah satu cerita pendek yang ada dalam buku tersebut adalah kisah seorang anak gadis desa yang akhirnya diceraikan oleh suaminya. Awalnya gadis desa itu tumbuh sebagaimana umumnya lingkungan desa yang sangat menjaga adab-adab dan tata karma. Budi pekertinya sangat baik. Dan itu hasil didikan langsung ayahnya. Namun sayangnya sang gadis hanya menamatkan sekolah sampai tingkat SMA saja. Dan kebanyakan gadis-gadis di desa mereka seperti itu. Tidak ada yang aneh, juga tidak menjadi suatu aib dan kekurangan, sebab di desa mereka tidak ada perguruan tinggi. Perguruan tinggi adanya di kota jauh dari desa mereka. Ayahnya sangat mencintainya sebab budi pekerti anaknya yang sangat baik.

Suatu hari datanglah seorang laki-laki ke desa tersebut. Seorang yang berpendidikan tinggi. Datang dari kota yang sangat jauh dan jarak yang ditempuh harus menggunakan pesawat. Dalam sebuah penelitian lelaki itu akhirnya banyak bergaul dengan warga desa tersebut. Ia pun akhirnya tahu ada seorang gadis yang sangat baik budi pekertinya. Akhlaknya sangat mempesona. Mungkin tidak pernah ia temukan yang semisalnya di tempat ia tinggal di kota. Akhirnya ia menemui ayahnya ingin menyampaikan suatu maksud. Ia ingin menikahinya. Akhirnya mereka menikah.

Gadis itu kemudian diboyong oleh suaminya yang sangat mengagumi akhlaknya. Ia sangat bangga. Mendapat gadis beradab mulia meski hanya seorang gadis desa. Waktu pun berjalan. Seminggu. Sebulan. Setahun. Di tahun kedua barulah muncul persoalan yang tampak semakin nyata. Mungkin sudah ada sebelumnya, tapi ia tersimpan sebab suaminya masih bisa menerima karena pernikahan yang baru dirasa. Persoalan yang muncul tersebut adalah tidak setaranya wawasan gadis desa itu dengan wawasan suaminya yang berlatar belakang pendidikan tinggi. Berkali-kali persoalan tersebut muncul sampai akhirnya sang suami tidak nyaman hingga akhirnya ia menghubungi orang tuanya agar menjemput anaknya.

Ayah sang gadis pun datang. Dalam perjalanan pulang di pesawat ia berkali-kali menghibur anaknya agar tidak bersedih. Ia masih sangat mencintainya sebagai anak yang berbudi luhur. Sang ayah pun menghiburnya dengan mengatakan,

“Ini semua salah ayah. Ayah sangat mencintaimu dengan selalu mendidikmu dengan budi pekerti yang baik. Namun ayah lupa bahwa cinta saja tak cukup. Seharusnya kamu mendapatkan pendidikan yang bisa setara dengannya.”

Cerita selesai.

Sejujurnya cerita di atas sangat bernilai. Sebab ternyata jauh-jauh sebelumnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam sudah menyinggung persoalan kesetaraan ini, yaitu kufu’. Meski para ulama berbeda-beda dalam memberikan makna kufu’ antara suami istri, yang pasti ketidaksetaraan dalam hal apa saja bisa jadi akan benar-benar menjadi persoalan. Sebab tak semua suami dan tak semua istri mampu menerima ikhlas sepenuh hati perbedaan yang ada di antara mereka. Meski setiap suami dan istri sejatinya harus membenamkan satu keyakinan dalam dirinya, bahwa tidak akan mungkin ada dua orang yang sama persis dengan dirinya. Tak mungkin. Justru kehebatan seorang suami atau seorang istri adalah terletak pada saat ia masih sanggup berjalan bersama dengan pasangannya untuk meraih surga meski harus banyak memberi pengorbanan. Dan tak ada cinta tanpa pengorbanan, terlebih cinta kepada Allah Azza wa Jalla.

Bila ada seorang suami atau seorang istri yang tidak siap atau bahkan tidak pernah terpikir olehnya bahwa pasangannya memiliki kekurangan yang akan menimbulkan persoalan dalam rumah tangganya, maka sebaiknya ia segera bercerai saja dan tak usah menikah dengan manusia untuk selama-lamanya. Sebab mencita kesempurnaan hanya akan menjadikannya seekor pungguk merindu bulan. Kenapa?

Bukankah sering kali Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengungkapkan tentang ujian yang akan diberikan kepada orang beriman dengan ungkapan fi’l madhi atau kata kerja bentuk lampau? Dan tahukah kita bahwa dalam bahasa Arab fi’l madhi itu menunjukkan tahaqquul fi’li, yaitu kepastian tejadinya pekerjaan. Itu artinya bahwa ujian pasti diberikan kepada kita. Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan bahwa sabar saat menerima ujian adalah sikap yang standar. Bila ingin lebih luar biasa dari sekedar sikap standar maka bersyukurlah saat ditimpa musibah. Sebab dengan diberikannya ujian berarti kita masuk pada jajaran hamba-hamba Allah pilihan. Ya, boleh jadi kita telah dipilihnya menjadi hamba yang dicintainya.

Maka bersyukurlah saat kita mendapati ketidaknyamanan dengan pasangan kita. Siapa tahu memang Allah sengaja akan mengguyur dan membanjiri kita dengan pahala yang kita sendiri tak akan sanggup untuk menghitung nya. Tapi bukankah Allah tak pernah menyuruh kita menghitung nikmatnya? Ya, Ia hanya menyuruh kita untuk menerimanya dengan cara kita bersyukur atas apa yang telah ditakdirkan buat kita. Sepanjang hayat bila kita berkeluh kesah maka sejatinya kita telah sedikit demi sedikit memotong nikmat-Nya lalu membuangnya ke tempat sampah. Maka alangkah bodohnya kita. Dan memang sebodoh-bodoh manusia adalah yang setiap saat dengan sukarela membuang kesempatan meraih kesempurnaan pahala.

Akhirnya, saya masih sangat ingin membaca kembali buku tersebut. Sebab dahulu belumlah tuntas semua ceritanya saya baca. Karena kalau sibuk membaca buku itu saja bisa-bisa “mahrum” untuk “maddah” lainnya. Tapi suatu saat saya akan mengunjungi kembali negeri Buncit Raya. Lalu mampir sebentar ke padepokan lipia. Siapa tahu buku sakti itu masih ada.

Cinta saja tak cukup……

Fairuz Ahmad.
Bintara di awal cinta, 29 Shafar 1435 H./1 januari 2014 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar