Rabu, 25 Desember 2013

Lihatlah, Ternyata Kita Sama Dengan Manusia

Pernahkah ada yang memperhatikan tingkah laku makhluk bernama Manusia? Bila pernah, lalu adakah kesamaannya antara Manusia dengan makhluk bernama Kita? Pernahkah ia tahu bahwa makhluk bernama Manusia itu memiliki potensi buruk, lalu apakah juga demikian dengan makhluk bernama Kita?

Bila makhluk bernama Kita lebih suka membicarakan kebaikan dirinya, maka menurut makhluk bernama Kita, Manusia banyak memiliki keburukan. Bila makhluk bernama Kita selalu ingin kebaikannya dilihat dan didengar, maka makhluk bernama Kita lebih suka melihat dan mendengar keburukan makhluk bernama Manusia.
Makhluk bernama Kita selalu melihat makhluk bernama Manusia penuh dengan keburukan, kejahatan dan kebodohan.



Suatu hari makhluk bernama Kita pergi mengendarai motor. Ia ada keperluan sangat mendesak. Penting. Kita telah menemukan alasan yang dibenarkan oleh agamanya untuk buru-buru. Sayangnya Kita harus melewati sebuah jalan. Jalan tersebut milik Manusia. Tapi mau tidak mau Kita harus melewati jalan Manusia. Sebab itu adalah jalan satu-satunya. Kita memang beberapa kali melewati jalan milik Manusia itu. Namun terakhir kali Kita melewatinya sekitar lima bulan yang lalu. Dan saat itu jalanannya rusak. Anehnya, saat Kita melewati jalanan rusak milik Manusia itu, beberapa kali Kita mendengar Manusia mengeluh, lalu mengumpat, dan bahkan di antara mereka mengeluarkan sumpah serapah. Sialan dengan jalanan. Kita hanya tersenyum melihat tingkah Manusia. Dasar Manusia bodoh, kata Kita mengumpat juga, saat itu. Ternyata sama-sama mengumpat.

Kini Kita harus melewatinya kembali. Terbayang jalanan yang masih rusak. Bosan rasanya bila harus kembali mendengar manusia-manusia mengeluh. Namun Kita salah ternyata. Jalanan milik manusia itu sudah diperbaiki. Kita pun bersemangat. Tapi ternyata Kita salah duga dan salah sangka. Kita mengira bahwa Manusia telah berubah menjadi makhluk baik. Ternyata tidak. Kita harus melewati jalanan mulus itu dengan sangat hati-hati dan pelan. Bila Kita terlalu kencang maka Kita siap-siap terjengkang. Ternyata Manusia itu membuat gundukan-gundukan panjang melintang di jalanan yang lurus itu pada setiap sepuluh meternya. Mereka menamakannya polisi tidur. Namun tidur yang bisa bikin Kita hancur. Kita mengumpat. Dasar Manusia pelit. Tidak pernah rela bila ada makhluk bernama Kita yang melewati jalan mereka dengan tenang dan nyaman.

Kita mencoba mengingat-ingat sesuatu. Sesuatu dalam kitab sucinya yang membicarakan tentang sifat buruk Manusia. Akhirnya Kita menemukan sesuatu tersebut. Ya, ternyata dahulu saat jalanan rusak ia melihat Manusia banyak yang mengeluh, keluh kesah dan sumpah serapah. Karena Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan keluh kesah, dan saat dicoba dengan ujian jalanan yang rusak maka Manusia merasa paling menderita.

Kini saat Manusia telah mendapat kenikmatan dengan jalanan yang sudah diperbaiki, ternyata Manusia tidak rela bila kenyamanan jalan yang baik itu dinikmati oleh siapa pun. Huh, dasar Manusia pelit. Saat dapat kenikmatan pelit, gerutu makhluk bernama Kita.

Akhirnya Kita membaca surat Al Ma'arij ayat 19-21 mempertegas tentang tingkah Manusia yang sangat buruk,

"Innal insaana khuliqa haluu'aa..idzaa massahus syarru jazuu'aa..wa idzaa massahul khairu manuu'aa.."

Saat itu Kita merasa lebih baik dari Manusia.

Fairuz Ahmad.

Bintara, 27 Muharram 1435 H./30 Nopember 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar