Senin, 30 Desember 2013

Sedekah Apa Yang Kita Cintai?


قال الله تعالى : لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون وما تنفقوا من شيء فإن الله به عليم
"Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian apa-apa yang kalian cintai. Apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (Ali Imran: 92)
Rasa-rasanya kurang pas bila kata "ma" pada ungkapan “min maa tuhibbuun” itu diterjemahkan dengan arti spesifik harta, karena terjemahan harta akan mempersempit cakupan makna "ma" itu sendiri.
Tidak semua orang hanya mengarahkan cintanya pada harta berupa uang, emas, kendaraan, rumah, sawah, tanah, aset perusahaan dan lain-lain. Maka disinilah akan terlihat bahwa penggunaan kata "ma" oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dalam rangka menjelaskan kepada kita satu bukti, betapa jelinya Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap sifat manusia. Tentu karena Dialah yang menciptakan maka Dia pula Dzat yang paling tahu tentangnya sebagaimana dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan di surah Al-Ma'aarij ayat 19-21, salah satu sifat yang menempel pada manusia adalah kelu kesah. Sifat ini akan tampak nyata saat ia merasa kesulitan dan kesempitan, lalu setelah ia merasa lapang ia pelit. Ya, pelit dengan apa-apa yang telah Allah mudahkan baginya.
Hikmah dari ungkapan "ma" dalam ayat 92 di surat Ali Imran adalah, bahwa semua kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia akan berpotensi untuk dicintai, sehingga ia merasa berat untuk berbagi.
Adakalanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan nikmat waktu, tapi manusia susah berbagi waktu dengan tetangganya. Sekedar meluangkan waktu untuk mengobrol saja akan terasa berat, dan sekedar menjenguk saudaranya yang sakit saja akan terasa menyia-nyiakan waktunya.
Kadang juga Allah memberikan nikmat akal yang cerdas, namun akan terasa berat bila harus berbagi ide dan pikiran. Ada yang dimudahkan Allah mendapatkan ilmu agama yang luas, namun sangat berat rasanya bila harus mengisi pengajian yang bukan kantoran, apalagi pengajian yang hanya duduk melingkar di suatu mushola yang juga hanya beralas tikar.
Ada juga yang Allah berikan karunia ilmu dan pengalaman berbisnis yang handal, namun saat harus membagikan ilmu bisnisnya ia merasa harus menabrak dinding beton setebal-tebalnya. Baginya, berbagi ilmu bisnis dan pengalaman adalah sama saja dengan bongkar rahasia perusahaan yang telah Allah khususkan baginya.
Allah juga kadang memberikan kepada hambanya berupa kenikmatan wajah yang tampan dan cantik, namun pemiliknya hanya akan tersenyum bila sesuai dengan keinginannya saja. Sangat pelit untuk urusan senyum kepada saudara dan tetangga, namun sangat murah hati bila urusannya adalah cemberut. Itulah kenapa senyum juga sedekah sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Atau ada orang yang dianugerahi nikmat kesehatan dan tenaga yang kuat, namun saat diminta bantuan tenaga ia merasa berat. Karena tenaganya sudah ia persiapkan untuk kebutuhan pribadi dan keluarganya, untuk istri dan anak-anaknya.
Yang lebih dahsyat adalah saat Allah masih memberikan nikmat nyawa bagi hamba-NYA, adakah ia merasa berat saat ada panggilan nyawa alias jihad fi sabilillah?
Ya, ternyata Allah Subhanahu wa Ta'la adalah Dzat Yang Maha Tahu tentang hamba-hamba-NYA. Dia tahu kelemahan hamba-NYA lalu Dia menguatkannya. Dia tahu kebodohan hamba-NYA lalu Dia mengajarinya.
Dialah Dzat yang tahu tentang semua sifat hamba-hamba-NYA. Saat seorang hamba memiliki sifat pelit, maka Dia mengajarkannya sedekah. Kalaupun bersedekah masih belum mampu mengikis sifat pelitnya atau ia masih merasa terpaksa dalam bersedekah, maka Allah pun masih ingin menjadikan hamba tersebut agar tetap bersedekah. Bersedekah dengan apa saja yang ia punya dan ia cintai, lalu Dia mengatakan,
“Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai."
Bila masih terasa berat bersedekah dengan apa yang ia cintai berupa harta, tenaga, waktu, pikiran dan ide, maka hendaklah ia lihat dan dengar, bahwa Allah akan memberikan balasan "al-birr", yaitu kebaikan bagi yang mampu mengalahkan kecintaannya terhadap apa yang ia miliki, lalu dengan segenap keikhlasan hati ia mau bersedekah. Bukankah kita pernah mendengar, bahwa Abu Bakar As-Shiddiq pernah bersedekah dengan seluruh hartanya saat ada panggilan jihad? Apakah Beliau tidak mencintai hartanya sehingga tanpa melalui rembukan dan diskusi dengan keluarganya beliau langsung menghabiskan semua hartanya? Atau jangan-jangan Beliau tidak menggolongkan harta-bendanya itu kedalam daftar apa-apa yang beliau cintai? Karena kemudian beliau menjawab "Aku tinggalkan Allah dan Rasul-NYA untuk keluargaku" saat ditanya oleh Rasulullah "lalu apa yang engkau tinggalkan buat keluargamu?". Atau beliau juga tetap mencintai hartanya itu namun ia lebih memilih untuk mendapatkan “al birr” dengan cara menginfakkan seluruh hartanya.
Tahukah kita, bahwa kata "al-birr" yang dijanjikan oleh Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 92 itu adalah SURGA sebagaimana pendapat para ahli tafsir.
Jadi, apa lagi yang kita tunggu agar dapat meraih SURGANYA…?????
Fairuz Ahmad.
Bintara, 2 Shafar 1434 H./ Desember 2012 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar