Senin, 09 Desember 2013

MAKHLUK MULTITAKING

"Lembut jemarinya telah dijamah lelaki-lelaki"

Sungguh teramat  banyak bahasan dan komentar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terhadap makhluk yang satu ini. Mulai dari sikap memuliakan mereka sampai dengan anjuran menyambung tali silaturahim dengan kerabat dan teman-teman mereka semasa hidupnya. Semuanya terkait dengan makhluk bernama wanita.

Dan di situlah sebenarnya inti ajaran Islam yang berhubungan dengan wanita. Sejatinya, memuliakan wanita adalah agar ia menjadi mulia.
Bila ia telah menjadi makhluk mulia, maka apa jadinya bila akhirnya ia bertemu dengan makhluk mulia lainnya bernama jejaka. Pasti pertemuan yang sangat indah dan penuh pesona. Sebab pertemuan keduanya pastilah berlandaskan cinta. Cinta dua makhluk mulia.

Dasar cinta inilah yang telah disinggung oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam salah satu potongan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ma'qal bin Yasar radhiyallahu anhu sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berwasiat tentang wanita sebagai berikut:

"Nikahilah olehmu wanita yang mencintaimu dan yang dapat berketurunan banyak."[Al Hakim dalam Al Mustadrak no.1112.]

Ada dua hal utama dalam hadits tersebut yang menjadi ukuran wanita yang layak dinikahi, yaitu wanita pencinta dan dapat berketurunan. Dan perlu kita ketahui bahwa hadits di atas adalah jawaban Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada seorang lelaki yang datang kepada beliau mengabarkan bahwa ia telah membidik seorang wanita untuk dinikahi. Wanita tersebut memiliki garis keturunan mulia, kaya dan punya status sosial di kaumnya. Namun satu hal yang menjadi kekurangannya, ia tidak dapat berketurunan. Lalu beliau melarangnya. Sampai ketiga kalinya lelaki itu datang kepada beliau lalu beliau menjawab dengan wasiat di atas.

Namun bukan aspek kemampuan wanita berketurunan yang akan terpapar dalam tulisan ini. Lebih tepatnya yang akan di bahas adalah aspek yang satunya, yaitu wanita pencinta. Ia menjadi problem paling utama. Sebab kadangkala seorang jejaka menjadi galau dan gamang bilamana memikirkan sesuatu yang satu itu. Wanita pencinta. Bagaimana cara mendeteksinya? Jangan-jangan untuk mendapatkannya tak cukup hanya dengan berdo'a. Kalaupun ada kesempatan untuk mandiri, alias maju dan mencari sendiri, apa juga jaminan akan mendapatkan wanita sang pencinta. Toh kadang yang recommended pun tak terlalu menjamin. Lalu? Ya, gampang saja urusannya. Tawakkal titik....!!!

Sebenarnya dalam tulisan ini pun tak akan ditemukan jawabannya. Mana mungkin menjawabnya sedang Rasulullah saja hanya mengatakan "Al Waduud", tanpa merincikan ciri, tanda maupun bentuk makhluk tersebut. Namun jangan karena tak ada rincian lalu kita putus asa. Dan jangan pula karena pasrah lalu kita tak mendapatkan wanita sang pencinta.

Jadi bagaimana?

Agar tak ada dusta di antara kita, juga tak ada kata putus asa di hati kita, maka simaklah kata-kata seorang penyair bernama Abu Tammaam, ia berkata :

Pindahkanlah hatimu sesuka yang kau kehendaki
Sungguh, tiadalah rasa cinta kecuali teruntuk kekasih yang pertama kali
Alangkah banyak rumah di bumi ini yang pernah didiami
Namun selamanya, rindu tetaplah pada rumah yang pertama ditempati

Jadi pernahkah terpikir oleh kita, bahwa ternyata pertemuan dua makhluk mulia itu lebih terasa dan bernyawa saat mereka belum pernah saling menjamah sebelumnya? Itulah yang dinamakan cinta pertama. Cinta yang belum pernah ternoda. Belum ada nista dan bencana. Oleh karena itu, cinta dua makhluk mulia itu serasa lebih membara saat mereka belum pernah saling menjamah sebelumnya.

Inilah sebenarnya pelajaran berharga agar dua makhluk mulia itu saling menjaga. Agar kelak saat mereka bertemu dalam pernikahan, keduanya menjelma menjadi makhluk paling bahagia, sedang selainnya hanyalah numpang saja.

Tak usahlah kita berdusta, bahwa seorang suami atau seorang istri yang baru bertemu seperti apa rasanya. Rasa pertama kali memegang-megang, meraba-raba, mengelus-elus, mengusap-usap, membelai-belai. Semuanya penuh ketegangan. Tegang jiwa juga tegang raganya.  Tak usahlah kita menipu diri. Bahwa saat-saat itulah yang paling nikmatnya. Saat-saat baru tahu segalanya. Saat-saat baru merasakan sensasinya. Saat malu-malu yang tiada duanya. Itulah nikmat yang dirahasiakan oleh Allah kecuali untuk dua makhluknya yang mulia.

Namun, sungguh tak juga jauh dari kita, hiduplah sekelompok makhluk yang sama jenisnya dengan makhluk mulia di atas. Sama-sama wanitanya, namun berbeda pada rasanya. Hampir-hampir tanpa rasa. Bahkan ada yang sudah tak berasa sama sekali. Ya, sudah tak ada sensasi saat ia disentuh, tak juga saat dibelai, diusap, dielus dan diraba. Sebab ia adalah memang makhluk yang sudah berbeda. Ia telah dinyatakan oleh Ulama dengan ungkapan :

"Imroatun la taruddu yada lamis"

Yaitu wanita yang tak menolak tangan penjamah. Semua peraba dapat merabanya. Semua pembelai dapat membelainya. Semua penyentuh dapat menyentuhnya. Dan semua pengusap dapat mengusapnya. Ia telah diobral dan mengobral dirinya. Hingga setiap jengkal dari tubuhnya telah dirasa. Ia pun menjadi makhluk multi taking. Sebab setiap lelaki mampu men"take"nya.

Lalu?

Mana mungkin saat tukang jamah dan yang dijamah-jamahnya itu menemukan sensasi nikmat yang Allah berikan sebagaimana yang dirasa oleh dua makhluk mulia sebelumnya?

Maka bersyukurlah bila anda telah mendapatkan istri seorang wanita pencinta. Bukankah anda sudah bisa mencirikannya? Ya, dialah wanita anda yang anda cintai pertama kali. Bukan yang sudah anda jamah-jamah sebelumnya. Atau telah terjamah oleh para penipu cinta sebelum anda. Selamat buat anda..!!!

------------------
Fairuz Ahmad.

Bintara, habis ashar 22 Syawal 1434 H./ 29 Agustus 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar