Minggu, 08 Desember 2013

Hujan Pengusir Setan "Ngetem"

Macet. Itulah kata yang menggambarkan kondisi yang paling dibenci para pengguna jalan raya. Dan biasanya ia semakin menggila saat turun hujan di waktu sore menjelang penutupan siang. Khususnya di sebuah kota bernama Jakarta. Dan juga bertepatan dengan saat orang-orang pulang kerja.

Pusat penyebab kemacetan yang paling utama dan hampir tak mungkin diatasi adalah banjir. Meski kadangkala ia akibat ulah manusia yang berperilaku setan, tapi ia tak murni hanya bisa dikendalikan oleh manusia, sebab yang membuat dan yang mengizinkan terjadinya banjir adalah Allah Zat Yang Maha Kuasa. Jadi bila banjir telah datang dan sulit dikendalikan maka jalan satu-satunya adalah beristighfar dan wajib menerima takdir yang telah disuratkan buat kita.


Namun ada satu penyebab kemacetan yang murni bisa dikendalikan oleh manusia, meski pada dasarnya semua perilaku manusia juga atas seizin Sang Pencipta manusia. Namun ia bisa dibilang murni dalam kendali manusia, sebab manusia bisa memilih antara menjadi penyebab kemacetan atau tidak. Sangat berbeda dengan datangnya banjir yang siapa pun tidak mungkin untuk memilih. Penyebab kemacetan tersebut adalah "ngetem"nya sebagian manusia-manusia di kolong jembatan saat turun hujan. Meski tidak banjir tapi mereka tetap "ngetem". Walhasil, "ngetem" yang menyelamatkan dirinya dari basah air hujan itu telah mengakibatkan kondisi yang terkutuk. Macet.

Semua pengguna jalan tidak suka dengan macet hingga mereka mengutuk. Tidak suka macet hingga mereka mengeluarkan sumpah serapah. Tidak suka macet hingga mereka mengeluarkan kata-kata yang tidak layak, dan sejatinya siapa pun harus waspada karena boleh jadi kata-kata yang tidak layak tersebut adalah do'a buruk bagi siapa saja.

Bila kemacetan yang timbul akibat ulah "ngetem" itu sangatlah buruk, maka sudah selayaknya kita harus menjauhinya. Bukankah membuat jalanan lancar adalah sebuah kebaikan yang boleh jadi akan dibalas oleh Allah menjadi sepuluh kebaikan?[1] Bukankah saat kita membuat jalanan lancar adalah ciri dari sikap itsar kita kepada orang lain?[2]

Lalu cara apakah yang bisa dilakukan agar ketika turun hujan kita tetap dapat melanjutkan perjalanan, hingga tidak ada kemacetan yang disebabkan oleh ulah "ngetem" kita ini? Ada dua pilihan di antaranya adalah sedia mantel hujan yang anti air tentunya agar tidak basah. Dan cara ini adalah cara yang sudah lumrah dan jamak diketahui oleh siapa pun. Meski terlihat remeh dan sepele, semoga niat kita sedia mantel dicatat oleh Allah sebagai amal kebaikan. Lalu bagaimana bila kita tidak punya mantel, atau lupa membawanya. Maka jawaban berikut semoga dapat menjadi pilihan yang kedua untuk mengatasi kemacetan akibat "ngetem":

Terjanglah hujan yang diturunkan oleh Allah tersebut dengan sepenuh hati dan riang gembira. Karena hujan adalah rahmat maka jangan takut menerima rahmat-NYA. Karena siapa tahu, hujan dari Allah tersebut benar-benar rahmat yang diberikan buat kita. Dan ketika kita menerjang hujan maka niatkanlah dengan berdo'a kepada Allah agar hujan tersebut menjadi wasilah untuk mengusir setan-setan yang "ngetem" dalam diri kita. Bukankah Allah berfirman yang artinya:

"...dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan..."[3]

Oleh karena itu, jangan lagi "ngetem" di kolong jembatan saat turun hujan, kecuali bila ada alasan yang mengharuskan "ngetem". Wassalam.

Fairuz Ahmad.

Bintara di pagi yang cerah, 10 Muharram 1435 H./14 Nopember 2013 M.

Catatan:

[1] Al An'aam : 160
[2] Al Hasyr : 9
[3] Al Anfaal : 11
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar