Kamis, 12 Desember 2013

Di Antara Dua Kenyang

Ada dua kenyang yang dua-duanya mampu menggerakkan manusia. Menggerakkan mulutnya, kakinya, tangannya, atau malah menggerakkan hampir semua anggota badannya juga jiwanya.

Kenyang yang pertama adalah kenyang yang bersemayam di dalam perutnya, sedang yang kedua adalah kenyang yang bermukim dalam hatinya. Adapun kenyang yang bersemayam dalam perutnya adalah makanan dan minuman, sedang kenyang yang bermukim dalam hatinya adalah ilmu. Kedua kenyang inilah yang selama ini menggerakkan manusia. Meski ada kalanya kenyang hati belum juga mampu menggerakkan seseorang kecuali bila ia juga kenyang perutnya, dan itu seburuk-buruk manusia.


Betapa banyak orang yang mampu menggerakkan jiwa dan raganya setelah kenyang perutnya. Meski banyak pula yang menggerakkan keduanya karena kenyang hatinya. Yang pasti kenyang memang mampu menggerakkan.

Adapun gerak yang dihasilkan dari kenyangnya perut adalah selemah-lemah gerakan. Sebab umumnya, kekuatan raga hanya disuplai oleh apa yang bersemayam di dalam perut, dan perut memang tak bisa menerima suplai selain apa yang sesuai dengannya. Itulah kenapa ia selemah-lemah gerakan, sebab hanya makanan dan minuman yang mampu untuk menggerakkannya.

Sedang gerak yang dihasilkan dari kenyangnya hati, maka ia sekuat-kuat gerakan. Sebab bahan penggeraknya bukanlah makanan dan minuman, tapi ilmu. Karena itulah ia sekuat-kuat gerakan, sebab kosongnya perut tak membuatnya diam. Alangkah menakjubkan kisah para Nabi dan Ulama salafus shaleh yang jiwa dan raganya mampu bergerak namun bukan lantaran kenyangnya perut, tapi karena ilmulah mereka bergerak. Mereka berjihad dan mujahadah dalam gerakan-gerakan yang mencakup ibadah, akhlak, ilmu, hukum, muamalah, politik, ekonomi dan lain-lain. Maka bukalah lembaran-lembaran cerita emas mereka saat bergerak meski dengan sedikit makanan.

Lihatlah sepenggal kisah emas Imamul Muhadditsin, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardazbah Al Bukhari saat tidak ada makanan yang beliau makan, namun ia tetap bergerak menuntut ilmu. Sungguh jiwanyalah yang menggerakkan seluruh raganya agar tetap sabar mencari ilmu, dan sejatinya ilmu itulah yang menggerakkan jiwanya. Muhammad bin Abi Hatim bercerita, bahwa ia pernah mendengar Al Bukhari berkata,

"Aku pernah pergi menuju Asqalan untuk bertemu Adam bin Abi Iyas namun perbekalan makananku telah habis, maka aku putuskan untuk memakan rerumputan yang ada dan aku tidak bercerita tentang itu kepada siapa pun. Hingga pada hari ketiga datanglah seseorang yang tidak aku kenal dan memberiku sekantong berisi beberapa uang dinar, lalu ia berkata, "Belanjakanlah uang ini untuk keperluan dirimu."[1]

Sungguh betapa malu diri kita bila dibanding Imam Al Bukhari. Hampir tak pernah kita memakan rerumputan sebagaimana beliau pernah memakannya. Bahkan mungkin kita tak pernah saat sekurang-kurangnya makanan kita lantas terpaksa memakan rumput. Namun beliau masih mau menuntut ilmu meski hanya dengan memakan rumput. Sangat berbeda dengan kita yang baru merasa bisa mendapat ilmu bila hidangannya adalah steak atau tongseng dengan ruangan nyaman penuh udara segar.

Fairuz Ahmad.
Bintara,  27 Dzluqa'dah 1434 H./ 3 September 2013 M.

--------
Catatan:

[1] DR. Muhammad bin 'Azuz, Shafahaat Musyriqah Min 'Inayatil Mar'ah Bi Shahihil Imam Al Bukhari hal.18, dikutip dari kitab Thabaqaat Asy Syafi'iyah 2/227 dan kitab Hadyus Sari hal.195.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar