Senin, 16 Desember 2013

Menjadi Manusia

Menjadi manusia. Tak sulit sebenarnya. Namun bagi sebagian orang ia sulit. Bahkan ia teramat sulit. Dan memang kebanyakan manusia merasa sulit untuk menjadi manusia. Padahal ia manusia. Terlahir sebagai manusia dan dari asal usul yang juga manusia. Seluruh bagian-bagiannya adalah manusia, sebab tak mungkin ia berkolaborasi dengan makhluk lain selain manusia. Tidak dengan makhluk bernama malaikat. Juga tidak dengan makhluk bernama setan. Pun dengan binatang juga tidak. Ia murni manusia.

Padahal ia manusia. Tercipta dengan sebaik-baik bentuk manusia.

"Sungguh Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya."[1]

Seharusnya ia benar-benar menjadi manusia. Meski kadang berbuat salah tapi seharusnya ia tetap menjadi manusia, bukan binatang.
Sebagaimana ia mampu berbuat kebaikan, namun tetap juga tak mampu menjadi malaikat. Padahal ia manusia. Maka cukuplah menjadi manusia. Tapi memang sedikit yang mampu menjadi manusia. Sedang selebihnya, dan selebihnya itu sangatlah banyak, bukanlah manusia. Sebab sudah sepastinya bahwa yang terpilih dari sesuatu yang banyak seringnya adalah sedikit. Pasir emas pastinya pasir yang mengandung emas. Dan bukan emas yang mengandung pasir. Begitu juga gunung emas. Sebab tak mungkin ada emas murni sebesar gunung. Bila ada maka emas tak akan lagi dipandang emas. Tapi ia setara batu-batu.

Padahal ia manusia. Maka tak selayaknya ia menjadi bukan manusia. Tak seharusnya ia menjadi,

"Mereka itu laksana binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat darinya."[2]

Tapi ada yang memilih menjadi binatang ternak. Bahkan menjadi binatang yang lebih buruk dari binatang ternak. Ikhlas sepenuh hati. Sebab namanya pilihan ikhlas tak mungkin karena terpaksa, atau setengah terpaksa. Namun ada juga yang memang karena terpaksa, sebab sepanjang hidupnya ia tak pernah mengenal hidayah.

Di antara binatang adalah kambing. Setiap saatnya ia bisa makan. Tak jelas kapan kenyangnya, sebab yang nampak adalah mulutnya yang selalu bisa mengunyah. Kapan saja. Yang pasti saat ia makan, tak pernah ia peduli apakah saudaranya juga makan. Bahkan ada satu ciri khas kambing adalah suka menerobos pekarangan lalu ia makan tanaman yang ada di dalamnya. Dan ia ada tiruannya, namanya manusia.

Dan di antara binatang adalah ayam jantan. setiap saatnya ia kawin. Kawin-kawin adalah hobinya. Satu betina ia kawin-kawin, sepuluh betina pun ia kawin-kawin. Yang pasti ia tak perlu tahu, siapa betina yang ia kawin-kawin dengannya. Dan ia ada tiruannya, namanya manusia.

Dan di antara binatang adalah lintah. Setiap ada kesempatan ia menyedot darah. Sedang darah adalah bagian vital dari makhluk yang berdarah. Tak pernah ia meminta ijin saat menyedot darah, padahal darah itu bukanlah miliknya yang sah. Ia selalu diam-diam saat melakukan aksinya, sebab bisa gagal bila ada yang melihatnya. Sepuasnya ia akan mengenyangkan perutnya. Bahkan kalau bisa ia akan selalu tetap menempel untuk menyedot darah. Ia pencuri senyap. Dan ia ada tiruannya, namanya manusia.

Dan di antara binatang adalah burung pemakan bangkai. Makanannya adalah bangkai. Tak pernah ia berjihad semisal burung elang untuk mendapatkan makanan yang bukan bangkai. Ia sudah cukup bahagia dan tentram hatinya meski hanya memakan bangkai. Dan boleh jadi bangkai yang ia makan adalah saudaranya sesama burung bangkai. Dan ia ada tiruannya, namanya manusia.

Dan diantara binatang adalah Babi. Ia binatang yang bisa memakan makanan kotor, bahkan kotorannya pun bisa ia makan. Banyak peneliti binatang ini mengatakan bahwa babi adalah satu-satunya binatang yang tidak punya rasa cemburu. Tak ada sedikit pun yang bisa mengusik harga dirinya. Ia, pasangannya, anak turun betinanya, semuanya sama, bermazhab diriku milikmu dan dirimu juga milikku. Dan ia ada tiruannya, namanya manusia.

Dan diantara binatang adalah kera. Ia binatang licik, culas dan tukang makar tipu daya. Karena sifat buruk itulah maka ia menjadi ikon bani Israel. Dahulu sebagian nenek moyangnya pernah diazab oleh Allah menjadi kera sebab perbuatan licik dan makar tipu dayanya saat menangkap ikan di hari yang mereka dilarang untuk menangkapnya. Dan ia pun kini ada tiruannya, namanya manusia.

Dan di antara binatang adalah keledai. Dikenal dalam dunia khayalan sebagai binatang pandir. Namun satu kebodohannya yang tercatat dalam Alqur'an adalah bersuara buruk. Sejatinya bukan pada suara, namun Alqur'an ingin memberikan isyarat bahwa berbicara itu ada akhlaknya. Bila tidak maka bicara tanpa akhlak ibarat keledai yang mengeluarkan suaranya. Ia bodoh karena tidak memiliki ilmu kesantunan dalam bicara. Dan ia ada tiruannya, namanya manusia.

Lalu kita ini siapa? Yang pasti janganlah dulu kita berbangga dengan bentuk kita yang manusia atau wajah kita yang manusia. Namun lihat dan pastikan bahwa cara bicara kita, cara makan kita, cara berpasangan kita dan cara bergaul kita dengan sesama adalah cara-cara manusia, bukan yang selain manusia.

Fairuz Ahmad.

Bintara, jum'at di awal pagi, 6 Dzluhijjah 1434 H./ 11 Oktober 2013 M.
-----------
Catatan:

[1] QS. At Tiin : 5.
[2] QS. Al A'raaf : 179.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar