Rabu, 11 Desember 2013

Ilmu Keramat Bernama Sanad

Tahukah kita kenapa agama syi'ah rafidhah mengajarkan kepada pemeluknya agar mencela dan mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam?

Jawabannya adalah agar pondasi ilmu dalam agama Islam berupa ilmu sanad itu hancur porak poranda. Bila para sahabat radhiyallahu anhum adalah generasi pertama yang biasa disebut dalam ilmu hadits sebagai At Thabaqah Al Ula dalam penyampaian riwayat-riwayat hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka apa jadinya bila mereka adalah muttahamuun bil juruuh alias orang-orang yang tertuduh dengan celaan?


Maka setelah generasi pertama sebagai generasi terbaik itu cacat, apalagi yang tersisa dari generasi selanjutnya? Bila generasi yang pertama saja sudah cacat, maka tidak mungkin lagi bagi siapa pun menerima riwayat yang disampaikan oleh generasi berikutnya.

Dan akibatnya adalah, terbukanya pintu dusta selebar-lebarnya untuk membuat riwayat-riwayat palsu. Dan itulah yang menjadi tujuan utama ajaran syi'ah rafidhah, mencela sahabat agar dapat menghancurkan ilmu sanad.

Akhirnya, riwayat-riwayat dusta atas nama Nabi, Ali, Fathimah, Husein, Hasan dan lain-lain ibarat pasir-pasir yang dimuntahkan oleh gunung Merapi. Maka adakah yang sanggup menghitung pasir-pasir itu?

Tak usahlah kita sibuk menghitung pasir-pasir itu. Sebab siapa pun akan merasa ada gangguan pasir di matanya bila syaraf di matanya masih ada. Syaraf yang ada itu akan menginformasikan ke otak agar ia memerintahkan tangan untuk membersihkan pasir yang mengganggu mata. Maka yang terpenting adalah mempelajari ilmu sanad. Ia laksana syaraf yang mampu memberitahu adanya pasir-pasir pengganggu. Dan bila kita memiliki syaraf, niscaya kita selalu mendapatkan sesuatu yang bermanfaat, bukan pasir-pasir. Kalau pun tidak memungkinkan mempelajarinya, maka cukuplah mengetahuinya sedikit. Kalau pun masih belum memungkinkan juga, maka pastikan riwayat-riwayat yang anda baca tersebut dikutip dan diambil dari kitab-kitab ulama yang mengharamkan diri mereka dari mencela para sahabat, apalagi mengkafirkannya.

Jadi jangan sampai kita seperti "Haathibu lail", yaitu pencari kayu bakar di malam hari. Karena boleh jadi karena ketidaktahuan kita, ular pun kita bawa pulang, hingga akhirnya nyawa kita melayang.

Fairuz Ahmad.

Bintara di awal pagi, 24 Dzulhijjah 1434 H./29 Oktober 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar