Minggu, 08 Desember 2013

Wahai Saudaraku, Bukan Karena Tak Laku Aku Belum Menikah

Cerita menakjubkan ini berkisah tentang seorang gadis cantik dan berakhlak mulia yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah. Suatu hari teman-temannya bertanya kenapa dia belum juga menikah sedang pekerjaannya pun sudah nyaman.
Ia pun bercerita:
"Ada seorang wanita yang memiliki lima orang anak perempuan. Suatu hari suaminya mengancam, jika nanti istrinya melahirkan anak perempuan lagi maka suaminya akan membuang anak itu.

Ternyata lahirlah seorang anak perempuan lagi. Suami wanita itu pun lalu bergegas membawa bayi perempuan malang itu ke sebuah masjid. Ia lantas meletakkannya di depan pintu masjid selepas shalat isya. Dan pada saat shalat subuh ia lihat lagi ternyata bayi malang itu masih ada dan belum ada yang mengambil.
Ia pun membawanya pulang kembali. Besoknya ia bawa lagi bayi itu dan diletakkan di depan pintu masjid selepas shalat isya. Namun pada subuh harinya ia masih melihat bayinya masih ada, dan hal itu berlangsung sampai tujuh hari. Setiap kali bayi itu dibawa ayahnya pulang maka sang ibu selalu membacakan Al-Qur'an padanya…….pada akhirnya sang suami pun putus asa dan tidak lagi berniat membuang bayinya, maka gembiralah hati sang bunda.
Beberapa bulan kemudian sang ibu kembali mengandung, ia kembali merasa ketakutan. Ternyata sang ibu melahirkan seorang anak laki-laki, namun anak perempuan pertamanya meninggal.
Kehidupan pun berjalan seterusnya dan sang ibu pun kembali melahirkan anak laki-laki sampai memiliki lima orang anak laki-laki. Namun setiap melahirkan anak laki-laki maka anak perempuannya pun meninggal satu persatu sampai anak perempuannya yang ke lima!
Yang tersisa adalah anak perempuan satu-satunya yang ke enam yang dahulu ingin dibuang ayahnya!
Akhirnya sang ibu meninggal. Seluruh anaknya pun sudah dewasa."
Gadis yang berprofesi sebagai guru ini pun berkata:
"Tahukah kalian siapa anak perempuan yang dahulu ingin dibuang ayahnya itu??
"Anak perempuan itu adalah aku."
Ia pun melanjutkan:
"Aku belum berniat menikah karena tidak ada yang memperhatikan ayahku yang sudah renta. Aku selalu datang untuk membantunya dan juga memberinya seorang sopir.
Sedang ke lima saudaraku, mereka datang hanya untuk menjenguknya saja, ada yang sebulan sekali ada juga yang dua bulan sekali.
Sedang ayahku sekarang selalu menangis setiap hari, karena beliau sangat menyesal dengan apa yang dahulu beliau perbuat terhadapku."
Diterjemahkan oleh: Fairuz Ahmad.
Bintara, 16 Rabi'ul Awwal 1434 H./28 Januari 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar