Kamis, 12 Desember 2013

Catatan Akhir Menjelang Tamatnya Kajian Kitab Riyadhus Shalihin

Sudah sekitar tiga tahunan saya mengisi kajian kitab Riyadhus Shalihin di sebuah masjid di tanah Bintara. Selama itu pula saya sengaja memilih bab-bab yang relatif mudah diterima dengan ikhlas dan sepenuh hati, dan dengan sengaja pula mengakhirkan pembahasan bab-bab yang hot. Di antara bab yang sering kali saya fokuskan adalah bab-bab yang berkaitan dengan perilaku dan moral hubungan antar sesama muslim, agar kelak ketika tiba saatnya membahas bab yang hot, maka jiwa-jiwa mereka telah siap menerimanya, maksimal yang diharapkan adalah langsung mengamalkannya, dan minimal mereka diam saja menerima dan merenungi bahasan dari bab yang hot itu. Hingga akhirnya menjelang tamat, maka mau tidak mau bab-bab yang hot itu mesti disampaikan.

Di antara bab yang hot itu adalah:


Bab an nahyi 'an ash shalati fil qubur, yaitu bab larangan shalat menghadap pada kuburan/di depannya ada kuburan. Bab ini terkait dengan hadits riwayat Muslim dari Abi Martsad Kannaz bin Al Hushain radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah kalian shalat menghadap ke kuburan, dan janganlah kalian duduk di atasnya."

Hadits ini juga berhubungan dengan hadits sebelumnya di bab yang berbeda, yaitu hadits riwayat Muslim dari Abu Al Hayyaj Hayyan bin Hushain radhiyallahu anhu, dia berkata, "Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata kepadaku,

"Bukankah aku mengutusmu dengan apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutusku? Jangan biarkan ada suatu gambar kecuali telah kamu hapus, dan jangan biarkan sebuah kuburan yang ditinggikan (dengan bangunan di atasnya) kecuali telah kamu ratakan."

Tidak ketinggalan saya sampaikan juga pendapat Imam Asy Syafi'i, sesuai dengan kebanyakan mazhab syafi'i yang diakui di negeri Bintara, dalam bab ini beliau berkata:

"Dan aku membenci seorang makhluk yang diagungkan hingga dijadikan kuburannya sebagai masjid, sebab takutnya nanti menjadi fitnah atas mayyit dan juga atas orang-orang yang setelahnya." [Al Majmu' Syarhul Muhadzdzab, Imam Nawawi]

Walhamdulillah, bab yang biasanya menimbulkan persoalan ini berakhir dengan damai. Bagi saya sudah cukup bahwa mereka telah menyimak dan merenungi, sekaligus mudah-mudahan memahami ungkapan imam besar mazhabnya.

Bab berikutnya yang juga benar-benar hot dan memang asli hot adalah:

Bab an nahyi 'an idha'atil maal, yaitu bab larangan menyia-nyiakan harta. Bab ini terkait dengan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya Allah Ta'ala meridhai tiga hal untuk kalian dan membenci tiga hal dari kalian. Allah ridha kalian menyembah-NYA, tidak mempersekutukan-NYA dengan sesuatu apapun, dan berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Dan Allah membenci tiga hal, qiila wa qaala (bicara tanpa data yang valid), banyak bertanya (tentang sesuatu yang sudah jelas), dan membuang-buang harta."

Di antara contoh menyia-nyiakan harta yang saya angkat adalah kebiasaan merokok. Sepekan sebelumnya memang sudah saya sampaikan bahwa bab ini  akan saya contohkan dengan kebiasaan merokok. Walhamdulillah, ternyata mereka masih berkenan datang untuk menyimak, meski saya tahu bahwa mayoritas mereka adalah ahlul hisab alias menghisab rokok. Namun karena saya sama sekali tidak membahas hukumnya, maka mereka bisa menerimanya. Sebab saya yakin dan percaya bahwa siapapun dari mereka bila Allah berkenan memberikan hidayah kebaikan padanya pasti akan Allah mudahkan untuk memahami apa yang saya sampaikan tentang rokok.[1]

Ya, bagi saya memang mencapai tujuan kadang harus memakan waktu yang lama. Perlu kesabaran agar kerja-kerja kita tidak menjadi berantakan karena sikap ketergesaan.[2]

Namun ada satu hal yang sangat saya sesali adalah, sampai saat ini saya tidak hafal kitab Riyadhus Shalihin, padahal sudah sekitar tiga tahun menyampaikannya. Beda sekali dengan Imam Syafi'i yang umur 5 tahun sudah hafal Alquran, dan umur 13 tahun sudah hafal kitabnya Imam Malik, Al Muwaththa'. Ya, saya sangat menyesal, itu saja.

Fairuz Ahmad.

Bintara, 26 Dzulqa'dah 1434 H./2 Oktober 2013 M.
--------------
Catatan:

[1] Bahasan yang saya sampaikan tetang rokok adalah apa yang pernah saya tulis di:

[2] Tentang tema ketergesaan ini bisa dibaca di:
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar