Minggu, 08 Desember 2013

Pidato Yang Mengantarkannya Ke Tiang Gantungan

فإما إلى النصر فوق الأنام
وإما إلى الله في الخالدين
Jika kita merayakan Yaumul Hijrah (hari hijrahnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam), maka wajib bagi kita untuk berusaha agar menjadikan diri kita ini layak untuk merayakannya.
Perayaan hijrah nabawiyyah ini haruslah berbeda dengan perayaan-perayaan yang ada di muka bumi ini, dan berbeda dengan apa yang dikerjakan oleh orang-orang biasa.
Sebagaimana perayaan yaumul hijrah ini haruslah memiliki karakter yang khusus, dan pertemuan ini haruslah memiliki suasana yang khusus pula.
Kita harus mempersiapkan jiwa-jiwa kita agar menjadi jiwa-jiwa yang layak untuk merayakan  perayaan ini seperti dalam kesempatan yang mulia ini.

Kita tidak mungkin menjadi orang-orang yang layak untuk merayakan yaumul hijrah, kecuali bila kita mampu menjadi orang-orang yang tinggi dengan jiwa-jiwa kita, dengan akhlak-akhlak kita, dengan amal-amal kita, dan dengan nilai-nilai luhur kita menuju kepada derajat yang tinggi, yaitu derajat hijrah nabawiyyah yang mulia ini.
Sungguh perjalanan hidup Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan perjalanan agama Islam ini, tidaklah layak bila sekedar dijadikan bacaan sejarah, atau sekedar perayaan-perayaan yang hanya numpang lewat saja.
Akan tetapi, ia wajib untuk dijadikan sebagai sebuah kehidupan yang diulang kembali, dan sebagai realita yang harus diwujudkan. Karena Islam tidaklah datang hanya sebagai sejarah. Dan tidaklah hari-hari kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berlalu untuk sekedar menjadi kenangan.
Sungguh agama Islam datang agar menjadi realita yang senantiasa hidup dalam sejarah umatnya. Dan berjalannya hari-hari itu agar selamanya ia menjadi suri tauladan bagi orang-orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Wahai ikhwah sekalian, bila kita merayakan hari raya hijrah, maka wajib bagi kita untuk meninggikan jiwa-jiwa kita kepada mustawa (tingkatan) hijrah. Kita wajib meninggikan ruhiyah kita pada mustawal hijrah. Meninggikan realita kehidupan kita sekarang ke tingkatan dimana hari-hari hijrah itu terjadi.
Sungguh agama Islam ini sanggup dan siap untuk diwujudkan kembali sebagaimana dahulu ia pernah diwujudkan dalam sejarah umat manusia.
Tidaklah ia datang untuk sebuah masa atau sebuah tempat saja. Melainkan ia datang untuk zaman semuanya, ia datang untuk ada di bumi semuanya dan ia datang untuk umat manusia semuanya.
Bila pada hari ini kita ingin merayakan salah satu hari dari hari-hari Islam, maka kita dilarang mendekati perayaan itu kecuali kita sudah menyiapkan jiwa kita seperti seorang mukmin yang menyiapkan dirinya untuk shalat dengan melakukan wudhu, atau mempersiapkan jiwanya untuk berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla.
Wajib bagi kita untuk meninggikan jiwa-jiwa kita agar mengerti makna agung dan tersembunyi yang ada di dalam hari besar ini. Sungguh makna-makna yang terkandung dalam hari ini tidak akan cukup hanya dibicarakan satu jam, atau dalam satu ceramah saja, atau ditulis dalam satu kitab sekalipun.
Karena hari-hari itu bagaikan sebuah kitab yang telah dibuka sejak 1.400 tahun yang lalu. Kita hanya berusaha untuk meringkasnya sedikit. Kita hanya berusaha untuk membuka sedikit lembaran-lembaran dari buku yang agung tersebut, di mana lembaran-lembaran buku itu belum akan berhenti meski sudah terbuka sejak 1.400 tahun yang lalu. Dan ia tidak akan berhenti terbuka sampai Allah mewarisi bumi dan segala yang ada padanya. (Maryam : 40)
"Katakanlah : Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)". (Al-Kahfi : 109)
Wahai ikhwah sekalian, kita berusaha untuk mengumpulkan sedikit kalimat dari kalimat-kalimat yang tak pernah habis itu. Kita berusaha membuka sedikit lembaran-lembaran yang tak pernah habis tersebut.
Inilah halaman pertama dari lembaran-lembaran hari yang mulia yang ada di dalam kalimat abadi sepanjang masa. Kalimat yang diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sedang Quraisy dengan seluruh pembesar-pembesarnya, pemimpin-pemimpinnya dan seluruh kesombongannya datang menghadap paman beliau, Abu Thalib, untuk membicarakan urusan Muhammad,
Jika ia menginginkan harta kekayaan, maka mereka akan memberinya. Dan jika ia menginginkan kedudukan, maka mereka akan mengangkatnya sebagai pemimpin.
Dan ternyata sedikit kalimat yang tertulis pada lembar pertama dari lembaran-lembaran mulia dalam sejarah dakwah beliau adalah:
"Wahai pamanku, Demi Allah sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku mati karenanya."
Wahai ikhwah sekalian, dengan kalimat inilah maka lembaran mulia itu dimulai.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidaklah terpaksa saat beliau berhijrah. Tidak pula terpaksa saat beliau menjadi orang asing.
Sekiranya beliau menerima tawaran kekayaan, menerima kedudukan, atau menerima ajakan mereka, maka beliau mendapatkan itu semua.
Akan tetapi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memilih sesuatu yang jauh lebih agung dari itu semua. Yang lebih besar dari matahari yang diletakkan di tangan kanannya dan dari bulan yang diletakkan di tangan kirinya.
Beliau memilih sesuatu yang lebih agung dari dunia ini, sesuatu yang lebih agung dari langit dan bumi, yang lebih agung dari bintang-bintang dan planet-planet.
Beliau menginginkan kemenangan aqidah, fikrah yang memimpin, masyarakat yang tertata, dan Islam yang berdiri tegak di muka bumi. Beliau ingin mengajarkan manusia sesuatu yang belum mereka ketahui sebelum datangnya Islam yang agung ini.
Inilah dia peringatan yang pertama. Dan inilah langkah pertama yang Nabi inginkan agar kita melewatinya pada saat memulai langkah-langkah kita. Kita diharuskan menghadapkan pandangan kita padanya. Menghadapkan hati kita padanya, saat kita merayakan yaumul hijrah ini.
Sesungguhnya kita akan dapati diri kita bisa, tidak…kita akan dapati diri kita naik, bahkan sampai pada puncaknya, bila kita telah mendapati kesiapan jiwa-jiwa kita untuk mendaki, bila kita telah mendapati kesemangatan jiwa-jiwa kita untuk mewujudkan cita-cita, bila kita telah mendapati kezuhudan jiwa-jiwa kita pada harta benda, juga kezuhudan pada kedudukan, serta kezuhudan pada kekuasaan. Karena kita menghendaki sesuatu yang jauh lebih banyak dari sekedar harta, karena kita menghendaki sesuatu yang lebih besar dari sekedar kedudukan, dan karena kita menghendaki sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar kekuasaan.
Apabila rasa ini telah kita temukan pada jiwa-jiwa kita, maka diri kita telah layak untuk merayakan lembaran dari hari-hari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Maka sejak hari ini, wajib bagi kita untuk senantiasa menghadirkan pandangan ini dalam jiwa-jiwa kita. Sehingga kita tidak akan berani merayakan lembaran dari hari-hari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam kecuali kita telah mendapati kesiapan pada jiwa-jiwa kita untuk melihat-lihat apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Sungguh tidaklah pantas bila mengenang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menjadi sesuatu yang murah. Tidaklah pantas menjadikannya barang dagangan yang dijual di pasar-pasar. Tidaklah pantas ia menjadi sekedar kesempatan yang dirayakan oleh siapa saja yang belum mempersiapkan dirinya untuk berada dalam tingkatan yang tinggi dan mulia ini, yaitu tingkatan dimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah mempersiapkan jiwanya saat mengatakan:
"Wahai pamanku, Demi Allah sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku mati karenanya."
Barangsiapa yang ingin meniti jalan dakwah ini, maka hendaknya ia tahu bahwa dirinya tidak datang untuk harta benda. Hendaknya ia memastikan bahwa dirinya tidak mencari kedudukan. Hendaknya ia mengokohkan jiwanya bahwa dirinya tidak sedang mencari kekuasaan di muka bumi ini, meski semua hal itu dalam rangka mendapatkan kedudukan yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla.
Barangsiapa yang ingin meniti jalan dakwah ini, maka hendaknya ia tahu bahwa suatu saat ia akan kehilangan posisi di kementrian. Suatu saat ia akan kehilangan posisi di pemerintahan. Kadang kala ia kehilangan harta benda dan juga kehilangan jabatan. Selanjutnya yang tersisa baginya hanyalah sesuatu yang jauh lebih mulia dari semua hal itu. Yang tersisa baginya adalah wajah Rabb Pemilik Kekuasaan dan Kemuliaan. Wa yabqa Wajhu Rabbika Dzil Jalaali wal Ikraam.
Allahu Akbar….
Dan makna lainnya wahai ikhwah sekalian..
Makna lain dari hijrah yang wajib kita hadirkan dalam jiwa-jiwa kita, yang wajib kita hadirkan dalam diri-diri kita adalah apa yang dikatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala saat Ia berkata kepada Rasul-NYA pada permulaan dakwah, Ia berfirman:
"Wahai orang yang berselimut.
Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya).
(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzammil : 1-4)
Ada apa dengan semua perintah ini? kenapa harus terjaga di malam hari? kenapa harus shalat? kenapa harus berhubungan dengan Allah?
"Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat." (Al-Muzammil : 5)
Persoalannya bukanlah terletak pada kata-katanya, bukan pada ungkapan-ungkapannya. Sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh Kami telah mudahkan Al-Qur'an itu untuk dipelajari, maka adakah yang mau belajar?" (Al-Qamar : 17 )
Kata-kata Al-Qur'an itu telah dimudahkan, ungkapan-ungkapannya telah dimudahkan, sedang yang dimaksud berat dalam perkataan ini bukanlah pada "kata"nya, melainkan pada tanggung jawabnya, amanahnya, kewajibannya, dan pada kesulitan yang ditanggung oleh orang yang sanggup menanggung beban perkataan berat tersebut.
"Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat." (Al-Muzammil : 5)
Sungguh jalan ini sangatlah berat. Tidaklah ia dihamparkan dengan penuh mawar dan bunga-bunga.
Sesungguhnya jalan ini terhampar dengan penuh duri-duri. Tidak… ia bahkan terhampar dengan penuh potongan daging dan tulang kepala yang dihiasi dengan darah-darah. Tidak dihiasi dengan aroma mawar dan minyak wangi.
Sungguh jalan ini sangatlah berat. Inilah makna kedua yang senantiasa wajib kita ingat saat kita melihat-melihat dan berusaha mengangkat diri kita menuju ketinggian hijrah yang mulia.
Sesungguhnya orang yang meniti jalan ini tidak hanya kehilangan jabatan, atau kehilangan kedudukan dan kekuasaan, yaitu kekuasaan di bumi ini. Akan tetapi ia akan menanggung beban qaulan tsaqiilan (perkataan yang berat), ia akan menanggung tugas yang berat, ia juga akan menyeberangi jalanan yang berat.
Maka hendaknya kita mempersiapkan diri kita dengan apa yang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah siapkan untuk dirinya, agar diri kita layak untuk merayakan yaumul hijrah.
"Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat."
Sebenarnya amat mudah bagi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk berdo'a kepada Allah agar membinasakan kaumnya lalu urusan selesai. Amatlah mudah baginya untuk berhijrah ke tempat lain sebagaimana hijrahnya Nabi Nuh alaihissalam seraya berdo'a:
"Wahai Rabbku. Sesungguhnya aku dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah aku." (Al-Qamar : 10)
Akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak menyampaikan do'a dan tidak pula meminta dalam do'anya untuk membinasakan kaumnya. Ternyata beliau memilih jalan yang berat dan panjang.
Dahulu Nabi Nuh alaihissalam memilih untuk mendo'akan kebinasaan bagi kaumnya, maka Allah membinasakan mereka untuk mengganti dengan kaum yang lain di bumi. Hal ini disebabkan dakwah saat itu terbatas oleh waktu, karena Nabi Nuh datang hanya untuk satu kaum dan ia juga datang hanya untuk satu agama.
Adapun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau mengerti bahwa sifat dakwahnya adalah abadi, dan risalahnya adalah risalah terakhir, dan sungguh langit telah membukakan cahayanya untuk menyinari bumi, dimana ia tidak akan membukakan cahayanya lagi pada kesempatan yang lain kepada bumi, maka dari itulah beliau tidak memilih jalan dengan cara mendo'akan agar kaumnya binasa, beliau pun tidak memilih jalan dengan cara berdo'a agar segera diberikan kemenangan lalu setelahnya beliau istirahat selamanya.
Sesungguhnya beliau memilih jalan jihad. Sebab bila beliau telah dimenangkan pada saat itu, dan kemenangan itu diberikan dengan sangat mudahnya, lalu siapakah yang akan memberikan kemenangan buat umatnya? siapakah yang akan memberikan kemenangan buat generasi setelahnya dengan kemenangan yang sangat mudah dan murah itu?
Maka, sungguh umatnya wajib untuk dilatih, dan wajib untuk dipersiapkan. Wajib bagi umatnya untuk mendapatkan teladan dari beliau sebagaimana wajib bagi beliau untuk memberikan teladan bagi umatnya dalam jihad yang berat dan panjang.
"Apakah orang-orang mengira akan dibiarkan begitu saja dengan mengucapkan: "kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji?
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-Ankabuut : 2-3)
Maka harus ada pengorbanan, harus ada cobaan, dan harus ada ujian. Sebab kemenangan yang murah tidaklah lama. Kemenangan yang mudah tidak akan dapat bertahan hidup. Dan sesungguhnya dakwah yang mudah itu tidak dibangun kecuali oleh orang yang lemah.
Adapun dakwah yang sulit dan rumit, maka tidak membangunnya kecuali orang-orang yang kuat. Tidak mampu menguasainya kecuali orang-orang yang kokoh.
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah : 214)
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
Namun siapakah yang mendapatkannya?
Yang mendapatkannya adalah orang-orang yang sanggup menanggung malapetaka dan kesengsaraan. Orang-orang yang berjihad dan mencurahkan kemampuannya. Orang-orang yang tidak lagi manyisakan kekuatan. Orang-orang yang sanggup melewati kesulitan dalam jalan dakwah.
Saat seseorang mencurahkan seluruh kemampuannya. Saat ia sampai pada akhir pertempurannya. Saat ia memberikan seluruhnya kepada Allah, setelah habis dan tidak menyisakan satu pun biji, maka saat itulah janji Allah terwujud. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
Inilah peringatan yang kedua. Dan inilah makna yang kedua itu.
Inilah makna yang tinggi dimana wajib bagi kita mempersiapkan diri kita untuknya, saat kita mendaki dalam rangka mengantar diri ke puncak ketinggian pada acara perayaan hijrah yang mulia ini.
-----Diterjemahkan dari ceramah Sayyid Quthb pada peringatan Hijrah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tahun 1952 di kota Al-Manshurah.
Fairuz Ahmad.
Bintara, 8 Jumadil Ula 1434 H./ 20 Maret 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar