Kamis, 12 Desember 2013

Mereka Semua Bertanya, Bagaimana Kondisimu Saat Bertemu Allah?

Hampir tiada yang menjadi perhatian dalam kehidupan kita sekarang ini kecuali persoalan dunia. Dan itu kita mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Do'a-do'a yang kita panjatkan, shalat-shalat yang kita dirikan, sedekah-sedekah yang kita tunaikan, pembicaraan-pembicaraan bersama kawan hingga pertemuan-pertemuannya. Semuanya hampir tak lepas dari harapan-harapan kita kepada Allah agar persoalan dunia kita semakin membaik.

Tidak ada yang salah. Bahkan perkara itu menjadi bagian penting yang juga sangat diperhatikan oleh agama. Tak boleh kita menyepelekan, atau bahkan sama sekali meninggalkan perkara dunia. Sebab Allah juga telah menganjurkan agar kita mengambil bagian dari nikmat dunia.


"Dan jangan kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan dunia"

Namun yang menjadi celaan adalah saat seluruh waktu kita, pikiran kita, hasrat kita, kemampuan kita, harapan kita, cita-cita kita, dan bahkan tujuan hidup kita hanya pada kenikmatan dunia. Lalu tak ada sedikit pun ruang yang tersisa untuk sekedar meletakkan sedikit perasaan risau saat kelak harus bertemu Allah. Sebuah pertemuan yang pasti terjadi. Sebab tak satu pun yang mampu bersembunyi. Dan setelah pertemuan itulah kita akan tahu dimana posisi kita dan dalam keadaan apa kita kelak.

Maka marilah kita simak kisah-kisah risau para ulama kita. Ruang yang mereka sediakan untuk meletakkan perasaan risau sangatlah besar. Dan hampir-hampir tak ada ruang lain yang tersisa kecuali untuk itu:

Sa'id bin Al Musayyib berkata,

Abdullah bin Salam dan Salman Al Farisi bertemu, lalu salah seorang di antaranya berkata, "Jika engkau meninggal sebelum aku maka temuailah aku dan kabarkan bagaimana pertemuanmu dengan Tuhanmu. Dan jika aku yang meninggal sebelum dirimu maka aku akan menemuimu dan kabarkan padamu." Yang lain berkata, "Apakah orang mati bisa bertemu orang yang masih hidup?" Ia menjawab, "Ya, ruh mereka ada di surga, bepergian kemana saja ia suka." Sa'id berkata, "Maka seorang dari mereka meninggal lalu menemui temannya dalam mimpi kemudian berkata, "Bertawakkallah dan bergembiralah, sungguh aku belum pernah melihat sesuatu seperti tawakkal."

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitabnya Ar Ruh menukilkan kisah antara Ghudhaif bin Al Harits saat mendatangi Syuraih bin 'Abid Ats Tsumali,

Saat kematian menghampiri Syuraih bin 'Abid Ats Tsumali, masuklah Ghudhaif bin Al Harits sedang Syuraih sudah sangat dekat dengan kematiannya. Ghudhaif berkata, "Wahai Abul Hajjaj, sekiranya engkau mendatangi kami setelah kematianmu lalu engkau kabarkan kepada kami tentang apa yang engkau lihat maka lakukanlah." Ia berkata, "Adapun ungkapan tersebut boleh di kalangan ahli fiqih."

Kemudian untuk beberapa waktu yang lama Ghudhaif tidak bermimpi tentangnya. Lalu di saat ia bermimpi Syuraih, ia bertanya, "Bukankah engkau sudah meninggal?" Syuraih menjawab, "Betul." Ia bertanya lagi, "Lalu bagaimana keadaanmu?" Ia menjawab, "Tuhan kami telah mengampuni dosa-dosa kami, dan tidaklah ada yang binasa dari kami kecuali Al Ahraadh." Ia bertanya, "Siapakah Al Ahraadh?" Ia berkata, "Mereka adalah orang-orang yang jari-jari menunjuk kepadanya dalam suatu hal (maksudnya: orang yang tidak dapat diharapkan kebaikannya)."

Kemudian kisah Maslamah bin Abdul Malik saat melihat Umar bin Abdul Aziz dalam mimpinya setelah kematiannya. Ia berkata, "Wahai Amirul Mukminin, andai aku bisa tahu, sampai dimana keadaanmu setelah kematianmu?" Umar menjawab, "Wahai Maslamah, inilah waktu luangku. Tidaklah aku dapat beristirahat kecuali saat ini. Maslamah bertanya, "Lalu ada dimana engkau sekarang wahai Amirul Mukminin?" ia berkata, "Aku bersama para a-immatul huda (pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk) di surga 'Adn."

Abdullah bin Umar bin Abdul Aziz berkata,

"Aku melihat ayahku dalam mimpi setelah kematiannya seakan ia ada di suatu kebun, lalu ia memberiku beberapa buah apel. Aku mengartikan buah-buah apel itu adalah anak. Aku bertanya kepadanya, "Amalan apakah yang engkau dapati sebagai yang paling utama?" Maka ayah menjawab, "Istighfar, wahai anakku."

Malik bin Dinar berkata,

"Aku melihat Muslim bin Yasar setelah kematiannya, lalu aku mengucapkan salam kepadanya tapi ia tidak membalas salamku. Aku bertanya kepadanya, "Apa yang menghalangimu dari membalas salamku?" Ia berkata, " Aku sudah menjadi mayit maka bagaimana mungkin aku membalas salammu?" Aku berkata padanya, "Apa yang engkau dapati setelah kematianmu?" Ia berkata, "Demi Allah aku dapati hal-hal yang menakutkan dan gempa yang hebat." Maslamah bertanya, "Lalu apa yang terjadi setelah itu?" Ia berkata, "Apakah engkau tahu apa yang dilakukan oleh Zat Yang Maha Mulia? Dia menerima kebaikan-kebaikan kami, memaafkan keburukan-keburukan kami, dan menjamin kami dari mendapatkan hukuman."

Tiba-tiba bergemuruhlah dada Malik bin Dinar sebab menahan tangisnya. Kemudian ia pingsan. Selanjutnya beliau sakit beberapa hari setelahnya kemudian meninggal dunia.

Sudahkah kita risau atas diri kita....?

Fairuz Ahmad.

Bintara, 29 Muharram 1435 H./3 Desember 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar