Senin, 09 Desember 2013

Tak Selamanya Topemg Berbentuk Topeng

Topeng, biasanya berupa benda kecil seukuran kepala orang. Dan biasanya juga berbentuk muka manusia atau binatang. Kadang ia dicipta dengan bentuk muka yang seram, meski banyak juga bentuknya yang enak dipandang.
Ia dipakai untuk menutup muka asli sang pemakai, sebagaimana ia dipakai untuk ragam tujuan. Ada yang memakainya agar terpandang menawan. Ada juga yang memakainya agar nampak derwaman. Lalu ada pula yang memakainya agar ditakuti laksana preman.
Hampir semua yang memakai topeng adalah manusia-manusia yang sangat membutuhkannya. Ia butuh untuk diterima. Ia butuh untuk didengar. Ia butuh untuk dipandang. Sebab itu ia memakai topeng. Karena dengan topenglah ia akan diterima, didengar dan dipandang.

Dengan makin menguatnya tekanan akan kebutuhan diterima, didengar dan dipandang pada saat-saat ini, maka kebutuhan akan topeng pun semakin membesar. Dan yang pasti, kebutuhan itu semakin komplek. Bahkan tak jarang ada orang menderita komplikasi kebutuhan akan topeng. Tak cukup satu topeng bila ia ingin sekedar didengar. Tak cukup satu topeng bila ia ingin sekedar diterima dan dipandang. Sebab itu ia mengoleksi banyak topeng. Sehingga suatu saat ia bertampang seorang pemberani. Di saat lain ia bertampang seorang dermawan. Sedang saat-saat lainnya ia bisa bertampang seorang preman. Kadang pula ia bertampang laksana seorang ajengan.
Dan di masa sekarang, topeng telah banyak mengalami perubahan bentuk dan tampang. Bahkan sampai sebuah nama pun akan dipilih untuk bertampang. Lihatlah nama-nama kendaraan, semua seakan berlomba memilih nama-nama binatang agar nampak gagah dan sangar. Ada nama Panther meski sang sopir bukanlah seseram Panther. Ada nama jaguar meski sang empunya tak segalak Jaguar. Lalu ada Tiger, Byson, Kijang, Kuda dan lain sebagainya meski sekali lagi sang pemilik kendaraan tersebut tidaklah seperti pemilik asli nama-nama itu.
Ada pula topeng yang berbentuk rumah mewah dan istana megah dengan berbagai macam tampangnya. Ada tampang Mediteranian agar nampak Timur Tengahnya. Ada tampang Eropa agar nampak Belandanya, atau Parisnya, atau Italianya, atau juga tampang Amerikanya.
Lalu topeng lainnya adalah tempat dimana ia menyantap makanannya. Sebab warung kecil sangat tak cocok dengan warna dan lambaian dasinya. Tak sesuai dengan tampang mobilnya, apalagi dibandingkan dengan tongkrongan istana megahnya.
Namun yang tak kalah saingnya ada topeng berbentuk sorban, peci, jubah lengkap dengan tasbihnya. Topeng-topeng ini menampakkan kesalehan pemakainya. Kadang juga menampakkan kandungan ilmunya. Hingga banyaklah para pengagumnya.
Saat topeng-topeng tersebut dapat menghadirkan rasa diterima, didengar dan dipandang, maka ada manusia-manusia yang segera berlomba-lomba untuk memilikinya. Bila memungkinkan ia akan mengoleksi semuanya. Sebab ia memang sangat membutuhkan banyak kesempatan untuk diterima, didengar dan dipandang oleh manusia.
Betapa tersiksanya jiwa manusia-manusia bertopeng itu. Ia tak sanggup bila hanya menampakkan wajah aslinya. Sebab ia berpikir bahwa tampang serigala akan diterima oleh komplotan serigala. Tampang singa akan diterima oleh kawanan singa. Tampang musang akan diterima oleh gerombolan musang. Sebagaimana tampang manis kelinci maka akan diterima oleh tampang-tampang manis kelinci lainnya.
Manusia-manusia ini hanya hidup untuk memakai topeng. Hampir tiap saatnya ia memakai topeng. Saat bicaranya, saat mendengarnya, saat makannya, saat berdiri dan berjalannya, dan bahkan mungkin saat ia melaksanakan shalatnya, puasanya, zakat dan hajinya.
Sungguh sangat tersiksa bila ada manusia yang selalu tampak topengnya. Padahal sesungguhnya ia tak harus bertopeng seram agar disegani orang. Lihatlah cara sederhana Nabi shallallahu alaihi wa sallam agar kita diterima, didengar dan dipandang orang saat beliau berkata yang artinya:
"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian semua saling bertawadhu' (merendahkan hati) sehingga tidak ada orang yang berbangga diri atas orang lain, dan tidak ada orang yang menzalimi orang lain" [HR. Muslim dari 'Iyadh bin Himar.]
Hadits di atas mengajarkan kepada kita bahwa bukan keseraman dan kesangaran muka yang membuat orang lain segan, namun cukup dengan kerendahan hatilah kita mampu menawan hati orang.
Ia pun tak perlu bertopeng  agar nampak seperti ulama yang ilmunya melimpah hingga berkesan wibawa dan orang lain menjadi segan. Cukuplah ia takut kepada Allah Azza wa Jalla bila ia memang berilmu. Sebab ciri ulama hanyalah rasa takut kepada Allah sebagaimana Dia firmankan dalam Al-Qur'an yang artinya:
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama." [Fathir : 28.]
Dan cukuplah hanya Allah yang memberinya penghargaan sebagai orang berilmu dengan mengangkat derajatnya. Tak perlu ia berharap ada orang yang menghargai dan memberikan kekaguman padanya hingga naiklah derajatnya di mata mereka. Sebab manusia-manusia tak akan mampu mengangkat derajatnya.
"…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."[]Al-Mujadilah : 11.
Dan nasehat terakhir dari Rasulullah Tauladan kita adalah, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak memandang topeng-topeng manusia, sebab yang Dia nilai adalah kejujuran hati dan kesuciannya, maka lihatlah cara beliau menasehati kita:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada fisik-fisik kalian, tidak juga pada penampilan-penampilan kalian. Akan tetapi Dia melihat hati-hati kalian" [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu.]
Dan kita pun tahu bahwa pada kenyataannya di dunia, ternyata hati itu berwarna coklat dan berbau amis. Dan ini pun mengisyaratkan hal lain yaitu, untuk apa kita bertopeng mewah dan bersorban bila ternyata asal kita adalah makhluk yang hina dan berbau amis. Wallahu A'lam.
Fairuz Ahmad.
Bintara, di tengah kepungan topeng-topeng. 4 Rajab 1434 H./ 14 Mei 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar