Senin, 09 Desember 2013

JIKA MAMPU, JADILAH BAYI

Bayi. Makhluk mungil, lucu dan menggemaskan. Kehadirannya tak hanya melukis kebahagiaan buat kedua orang tuanya. Namun hampir di seluruh belahan pulau di semua benua, kebanyakan orang yang masih berhati dan berakal pun akan merasakan hal yang sama, apa pun agamanya dan dari manapun asalnya.

Bayi. Makhluk mungil, lucu dan menggemaskan. Mungil, sebab belumlah lama ia melihat dunia.
Lucu, sebab belumlah lama ia termakan usia. Menggemaskan, sebab gerak tubuhnya belumlah mampu menuai caci dan memanen cela. Tawanya adalah tawa dunia, dan tangisnya pun membuat dunia tertawa. Semua orang mengharap tawanya. Bila tak kunjung tertawa maka mereka memaksa diri untuk tertawa agar ia tertawa. Sebab tertawanya adalah kebahagiaan semua.


Namun sejatinya seorang bayi disuka dan dicinta bukan hanya karena mungilnya saja, bukan lucunya saja, dan bukan pula karena ia menggemaskan saja. Tapi ada satu hal yang tak mungkin dimiliki oleh orang dewasa, meskipun orang tersebut tampan atau cantik, rupawan atau jelita, gagah atau semampai. Bukan. Bukan itu.

Ketampanan seorang laki-laki dan kecantikan seorang wanita ibarat cahaya purnama yang dimiliki oleh bulan. Dan suatu saat cahaya itu redup dengan sendirinya tatkala ia tertutup oleh gumpalan awan hitam. Begitu juga dengan seorang lelaki tampan dan seorang wanita cantik jelita, tatkala dosa dan kesalahannya telah menggumpal-gumpal, maka gumpalan-gumpalan itu akan mencoreng-coreng dan menggores-gores. Tapi lelaki itu tetaplah tampan dan wanita itu tetaplah cantik jelita. Hanya saja orang tak lagi merasa suka cita bila berada bersamanya. Ada yang terpaksa bersama, namun banyak juga yang menjauh darinya. Tapi ia tetap tampan dan tetap cantik jelita.

Itulah orang dewasa dan itulah bayi. Orang merasa senang di dekat bayi dan ia akan mendekati bayi, membelainya, menciumnya, menggendongnya dan bermain bersamanya sebab ia belum mampu berbuat dosa, pada Penciptanya maupun pada saudara dan tetangganya. Maka dari itu, jangan lihat bayi sekedar bayi dan sebagai bayi, meski ia memanglah bayi. Lihatlah kenapa ia begitu disuka dan dicinta. Sebab ia tak punya salah. Alangkah nikmat bila berwajah tampan atau cantik jelita lalu ia seperti bayi yang tak punya salah. Meski boleh jadi wajah yang biasa-biasa saja akan tampak laksana purnama, sebab tak ada gumpalan-gumpalan hitam yang menutup cahaya. Bulan pun sejatinya berlubang-lubang, namun saat purnamanya tak terhalang awan maka ia tampaklah sempurna.

Bayi. Sebab ia tak punya salah.

--------
Fairuz Ahmad.

Bintara-Pulo Gadung-Cibinong, 9 Dzulqa'dah 1434 H./ 15 September 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar