Rabu, 18 Desember 2013

Pakem Tak Penting Yang Dibuat Penting

"akhir tahun pelajaran, antara tafakkur dan tepekur"

Biaya pendidikan sekarang menjadi sangat mahal karena ada yang ingin menjadi kaya melalui lembaga pendidikan. Meski hal itu tidak ada larangan, namun bila segala hal diuangkan maka itu namanya kebablasan. Hal-hal yang tidak penting dibuat penting. Karena dibuat penting maka ia memerlukan biaya. Karena membutuhkan biaya maka kebutuhan itu dilempar kemana-mana. Ngemis.

Imam As Syafi'i berkata :
"Lanaqlus Shakhri min qimamil jibaali….Ahabbu ilayya min dzullis suaali"

Sungguh memindah bebatuan dari puncak gunung-gunung lebih aku cintai dari pada menghinakan diri dengan meminta-minta.

Sangatlah banyak hal-hal yang tak penting lalu ia dibuat penting di sekolah-sekolah kita ini. Di antaranya adalah:


  • Seragam yang tidak bisa dibeli di pasaran.
Memangnya sejauh mana pengaruh seragam terhadap pencapaian ilmu, akhlak, dan mental? Saya yakin orang yang waras akalnya akan sepakat mengatakan tidak ada pengaruhnya sama sekali. Sebab seragam adalah pengindah penampilan saja, meski saya yakin mereka juga tidak sepakat bila penampilan indah harus berseragam.

Jadi kalau tidak ada pengaruh sama sekali, berarti membuatnya penting adalah kesia-siaan. Sebab sudah pasti ia memerlukan biaya agak mahal dari pada seragam yang banyak di pasaran. Kecuali bila lembaga tersebut lebih mementingkan tampilan dari pada keterampilan.

Tapi ya mau bagaimana lagi? kan sudah pakemnya begitu. Bahwa umumnya sekolah memiliki seragam khusus agar berbeda dengan sekolah lain.

Ya sudah kalau begitu, teruskan saja, siapa tahu anda dapat keuntungan dari seragam-seragam yang anda buat penting itu. Tapi ingat, ada banyak orang yang nelongso gara-gara ulah anda yang tak penting itu.

  • Buku-buku.
Cobalah anda jujur sejujur-jujurnya yang dapat menyingkirkan segala dusta di antara sesama. Betulkah buku-buku yang harus dibebankan ke wali murid itu semuanya penting? ataukah memang ada buku-buku yang dibuat penting. Sebab sebelumnya telah dibuat ilmu yang seperti ilmu padahal ia bukanlah ilmu. Karena sudah dibuat ilmu, maka ilmu tersebut perlu dibuatkan buku. Misalnya ilmu SBK, ilmu Penjas, ilmu Apa saja, dan lain-lain. Dan setelah ilmu-ilmu yang "sangat penting" itu dibuatkan bukunya masing-masing, maka guru-guru yang harusnya konsentrasi mengajar, dibebani juga dengan kewajiban-kewajiban di luar mengajar seperti membuat program pengajaran buku penting itu.

Lho sebentar,,,

Bukannya dia diterima menjadi pengajar sudah melalui tes kalayakan mengajar? seharusnya kan sudah mampu mengajar dan tidak perlu lagi membuat hal-hal aneh dalam kehidupannya. Coba melekkan mata anda, waktu-waktu seorang guru baik saat di sekolahnya maupun di rumahnya lebih banyak dihabiskan untuk mengajar anak-anak ataukah untuk mengurusi hal yang aneh-aneh itu?
Namun yang pasti hal yang aneh-aneh itu pastinya menjadi beban wali murid. Karena semua mesti diganti

  • Kegiatan-kegiatan sekolah yang meliputi:

Rekreasi.
Kata siapa rekreasi tidak penting? Penting. Tapi kalau senantiasa menepatkan waktunya pada saat akhir tahun, maka itu sebuah kesia-siaan. Sebabnya :

Pertama. Jalanan pasti macet karena semua rekreasi tumplek di akhir tahun. Akibatnya, habiskan saja waktu anda sambil duduk meneposkan jok bus kota, semoga pihak pengelola bus tidak komplain akibat jok bangku yang tepos semua.

Kedua. Tempat rekreasi penuh. Akibatnya, acara hanya sekedar duduk-duduk, luntang-lantung, berdiri menunggu antrian panjang untuk sekedar menikmati satu wahana permainan, habis itu balik ke tempat parkiran bersiap pulang dan macet lagi.
Coba deh sepulang rekreasi, anda sempatkan waktu sebentar saja buka kamus dan cari apa makna kata rekreasi, tercapaikah maksud dan tujuan anda? sesuaikah dengan "nawaitu" anda?

Jadi, kalau bukan sekedar membuang uang lalu apa? Apa kebahagiaan yang dapat tercapai dengan cara rekreasi seperti itu?

Bila rekreasi seperti itu sudah tidak maksimal namun masih dilakukan juga, maka sebaiknya ngaca dulu deh pada kaca benggala, siapa tahu ada petunjuk menjadi orang bijak, hingga tak perlu mengulang kesalahan untuk kesekian kalinya sebagaimana yang diperbuat oleh keledai.

"Laa yuldaghul mukminu min juhrin waahidin marratain"

Tidaklah layak seorang mukmin tersengat dua kali dari lubang yang sama. (Shahih Bukhari 5782)

Tapi ya mau bagaimana lagi? kan sudah pakemnya begitu. Bahwa akhir tahun harus diisi dengan kegiatan rekreasi yang sangat penting itu.

Ya sudah kalau begitu, teruskan saja, siapa tahu anda dapat keuntungan dari acara rekreasi yang anda buat penting itu. Tapi ingat, ada banyak orang yang rela menahan lapar akibat ulah anda yang sangat penting itu. Padahal orang-orang yang menahan lapar itu bisa dan biasa mengadakan rekreasi dengan keluarga sendiri dengan penuh kebahagiaan meski sekedar makan bakso bersama di kebon. Bagi mereka terlalu mahal bila sekedar makan popmie saja harus di tempat rekreasi.

Perpisahan.
Sampai tulisan ini saya tulis, saya masih belum mengerti tujuan dan fungsi kegiatan perpisahan yang sampai menelan biaya mahal tersebut, dan itu beban yang dibuat-buat sendiri oleh sekolah lalu kadang tanpa sepengatahuan wali murid, sebagian besarnya dilempar begitu saja di atas kepala wali murid. Ada yang telak mengenai jidat hingga suaranya sampai puluhan meter masih menimbulkan bunyi qolqolah kubro. Ada juga yang mengenai pelipis, kening, tengkuk, pipi, dan lain sebagainya. Yang pasti wali murid jarang yang bisa membalasnya, jangankan uppercut, sekedar melancarkan jab saja sulit.

Memangnya kalau sekedar temu salaman dan maaf-maafan tidak sah?
Kalaupun anda takut dan kuatir para wali murid melupakan jasa penting anda mengajar anak-anak mereka selama ini. Maka itu salah anda sendiri kenapa mesti takut dan kuatir. Toh anda juga sudah tahu bahwa manusia itu pelupa. Bukankah anda juga pelupa? Karena yang ingat akan kebaikan anda hanyalah Yang pernah berkata:

"Washbir fainnallaha laa yudhii'u ajral muhsinin"

Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah tidak pernah menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan. (Hud : 115)

Tapi ya mau bagaimana lagi? kan sudah pakemnya begitu. Bahwa akhir tahun harus diisi dengan kegiatan perpisahan yang sangat penting itu.

Ya sudah kalau begitu, teruskan saja, siapa tahu anda dapat keuntungan dari acara perpisahan yang anda buat penting itu. Tapi ingat, bahwa para wali murid itu sedang sedih hatinya dan pusing pikirannya, meski di depan anda mereka tampil sehat wal afiyat, sebab setelah perpisahan yang biaya mahalnya telah anda timpukkan ke kepala mereka itu sebentar lagi harus pusing delapan puluh tujuh keliling, karena anak mereka yang berpisah dari sekolah anda itu harus daftar ke sekolah lain yang juga sama-sama melakukan timpukan mautnya. Bedanya, timpukan anda lebih berpotensi meng-KO-nya.

Saya kira tak usahlah kita menjadi orang yang sok penting bila tiba akhir tahun. Bila kita merasa orang yang sangat penting di akhir tahun, berarti kita bukan orang penting di pertengahan tahun. Sebab kita selalu menunggu-nunggu waktu penting itu tiba, dan saat itulah kita menjadi manusia paling penting. Sedang saat-saat yang lain mungkin kita sering berharap, kapan tiba waktu penting itu.
Coba kalau kita lebih sadar sedikit dengan tetap menganggap bahwa acara pertengahan tahun yang kita isi dengan mengajarkan ilmu dan akhlak pada siswa jauh lebih penting, pasti kita tidak akan membuat-buat acara yang seakan penting itu.

Dan yang pasti akhir tahun adalah saat-saat rawan biaya, sebab akhir tahun adalah awal tahun, sedang awal tahun adalah masa penuh dengan biaya-biaya. Merasalah sedikit dengan orang-orang yang jauh di bawah anda. Sebab apalah arti kemampuan dan kebisaan anda bila tak punya rasa. Mereka adalah orang-orang yang tak memerlukan pengasih anda. Sebab mereka juga banyak yang lebih mulia hatinya. Mereka hanya ingin anak-anaknya belajar yang benar dan sesuai dengan kebutuhan diri, masyarakat, negara dan dunia.

Memang apa sih kebutuhannya? masa kita sebagai guru tidak tahu apa kebutuhan diri, masyarakat, negara dan dunia?

Dunia dan penghuninya yang bernama manusia hanya memerlukan agama. Dan agama adalah akhlak. Titik. Tidak percaya...????? ya ngga' apa-apa. Toh itu menurut saya. Karena menurut saya adalah:

Bumi yang mengadung manusia, hewan, tumbuhan, logam, minyak, air, udara, emas, perak dan lain-lain yang tak terhitung itu membutuhkan perlakuan yang baik. Dan itulah akhlak.

Manusia bergaul dengan semua kandungan bumi itu memerlukan akhlak, maka dari itu di sekolah perlu diajarkan ilmu biologi untuk mengenal manusia, hewan dan tumbuhan, dengan ilmu itu maka tahulah kita cara bergaul yang baik dengannya. Dan hanya pendidikan yang berbasis akhlak yang akan mendekatkan manusia pada Tuhannya, sebab setiap saat ilmu biologi akan menampilkan Keagungan ciptaan Allah. Dan ilmu biologi juga menjadi dasar ilmu kedokteran.

Selain biologi, pelajaran-pelajaran yang penting adalah :

Ilmu geografi.
Untuk mengenal bumi, agar kita tahu cara yang baik dan benar bergaul dengannya, sebab bergaul dengannya adalah juga bergaul dengan Penciptanya.

Ilmu fisika.
Untuk membuktikan kebenaran sesuatu-sesuatu yang memerlukan pembuktian secara fisik. Bigbang adalah salah satu contohnya. Sebab bila Alquran telah mengatakan dalam ayatnya "kaanataa ratqan fafataqnaahumaa", maka cara yang paling tepat untuk membuktikannya adalah dengan menghitungnya secara fisik, betulkah dahulu telah terjadi ledakan maha dahsyat sehingga tercipta gugusan-gugusan planet. Bila hitungan tersebut membuktikan kebenarannya, maka selayaknya anak-anak didik itu bisa lebih didekatkan kepada Pencipta ledakan itu. Dan itulah pelajaran akhlak dalam fisika.

Bahasa.
Namun selayaknya yang diajarkan adalah bahasa-bahasa dunia, bukan bahasa-bahasa daerah, sebab bahasa daerah cukuplah sekedarnya saja. Sungguh kesia-siaan bila kita habiskan masa pendidikan hanya untuk mempelajari bahasa-bahasa daerah yang kemudian pada era internet dan komputer, manusia lebih banyak berhadapan dengan bahasa dunia.

Ilmu matematika.
Sebab bagaimana pun juga manusia perlu menajamkan logika. Berhitung tepat. Bukan hanya dalam masalah keperutan, namun masalah menghitung amal juga perlu. Kalau tidak terbiasa berhitung, bisa jadi ia sering tekor mengeluarkan banyak pengeluaran dosa tapi di saat yang sama penghasilan pahalanya mampet. Itulah bangkrut.

Sejarah, komputer dan informatika, keterampilan-keterampilan dasar untuk survival, pokoknya yang penting-penting sajalah, gitu aja kok repot...

Sesungguhnya seragam, buku, rekreasi dan perpisahan adalah empat di antara sekian hal-hal yang dibuat penting oleh anda di sekolah anda, dan anda memang punya hak untuk melestarikan hal-hal aneh dalam kehidupan anda. Tapi yakinlah bahwa memang ada keuntungan di sana. Meski keuntungan itu telah meng-KO sebagian besar orang tua dan wali murid. Tapi anda tidak usah kuatir. Mereka adalah wali murid tangguh yang setiap saat bangkit kembali setelah anda timpuk setiap akhir tahun. Jangankan anda timpuk, menahan lapar setiap saat adalah hal yang bisa mereka lakukan sebab mereka sudah biasa. Hanya saja yang membedakan antara mereka dengan anda adalah, mereka mencari berkah dengan menahan lapar sedang anda mencari berkah dengan membuatnya lapar.

Mungkin ada yang tidak setuju dengan tulisan ini. Ya tidak apa-apa, sebab kita memang tidak harus menyetujui apa-apa yang disetujui orang lain sebagaimana kita juga menyetujui apa-apa yang tidak disetujui orang lain.

Akhirnya, janganlah kita membebani banyak wali murid dengan aktifitas sekolah yang tidak penting, siapa tahu kita akan menjadi orang penting dengan menjauhi perkara-perkara yang tidak penting.

Sebab sejatinya, hanyalah hal-hal penting yang akan memberi manfaat pada orang lain.

"Khairun naas anfa'uhum linnaas"

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. (Al Awsath Thabrani)

Fairuz Ahmad.

Bintara, 26 Syawal 1434 H./ 2 September 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar