Minggu, 08 Desember 2013

Bila Ukuran Spion Lebih Besar Dari Mobilnya

"Ah, saya sudah malas kumpul-kumpul sama mereka. Lebih baik saya di luar saja sekarang. Shalat pun saya sudah jarang di masjid itu."
Begitulah tetangga saya mengawali pembicaraannya saat kami bertemu di depan tokonya. Saya pun lantas bertanya:
"Memang ada apa bapak dengan mereka ?"
"Saya kurang sreg saja, dia itu kan sekarang ketua DKM, masa orang seperti itu jadi ketua DKM?, dulu waktu nikahan anaknya masih pakai acara dangdutan. Apalagi, dia itu pernah minum juga, bahkan saat acara syukuran 17 Agustus dia ikut joget dan mabuk juga."
Tampaknya bapak ini bersemangat sekali menjelaskan ketidaksukaannya terhadap sang ketua DKM.
Padahal setahu saya, ketua DKM ini sekarang sudah berubah, bahkan untuk ukuran jama'ah-jama'ah masjid lainnya dia masih lebih baik. Shalat lima waktu hampir selalu ditunaikannya di masjid, rawatibnya pun lengkap. Saya pun berkesimpulan, sepertinya bukan juga karena beliau ketua DKM sehingga beliau rajin datang ke masjid. Sampai di sini, saya merasa ada yang mengganjal di hati, bapak yang ngobrol dengan saya itu tak serajin ketua DKM untuk urusan shalat lima waktu di masjid. Bahkan masa lalu beliau sebelum menjadi ketua DKM, sama sekali sudah tidak beliau kerjakan.
"Bukannya beliau sekarang sudah bagus pak? Apalagi situasi masjid juga sekarang jauh lebih kondusif dari pada beberapa tahun yang lalu. Soal qunut shubuh ribut, soal siapa yang berhak jadi imam ribut, bahkan soal siapa yang boleh mengadakan pengajian di masjid pun ribut." Imbuh saya untuk sedikit mengerem bapak itu.
"Tapi setidaknya dia itu kan orang berpendidikan, sarjana dan juga seorang guru sekolah. Ngurus masjid itu jangan setengah-setengah, bahkan kadang plin-plan. Sama orang ini menurut, sama orang itu menurut, kita susah jadinya, dia itu sikapnya a apa b? kan buat kepentingan jama'ah masjid tidak bisa begitu. Harus jelas !" Tukas tetangga saya itu.
Menurut saya, sikap ketua DKM itu terkadang saya rasakan begitu. Namun yang pasti bukan tanpa alasan beliau seperti itu. Di masjid itu ada jama'ah dari Muhammadiyah, ada dari NU, ada juga yang tidak pernah menjelaskan dia dari mana, sebagaimana ada juga yang sikapnya mirip jama'ah tertentu tapi lisannya tak pernah kasih tahu. Bermacam-macam golongan. Maka dari itu sang ketua DKM, karena alasan mengakomodir aspirasi jama'ah yang berbeda-beda itulah sehingga kesan yang kadang muncul adalah sikap yang tak jelas posisinya, meski kita sebagai jama'ah masjid sama-sama tahu, bahwa sikapnya yang seperti hanyalah pada perkara-perkara yang memang pintu ijtihad diperbolehkan untuk dibuka.
Cerita seorang kawan pun selesai sampai di sini, meski pikiran masih terbang kesana kemari.
Walhasil, pembicaraan tentang masa lalu kadangkala memang mengasyikkan. Bila ia masa lalu yang indah maka ia laksana pemandangan hutan yang belum terjamah oleh tangan-tangan. Masih asli dan penuh pesona, meski ia bukanlah sebuah taman. Keaslian itulah yang senantiasa menggerakkan setiap jiwa-jiwa yang haus akan keindahan, lalu ia bergegas menapak menelusur, ingin lagi kembali kepada hutan, meski ia sekarang telah merubahnya menjadi sebuah taman. Namun bila masa lalu tidaklah menawan, maka ia ibarat bangkai. Semua membencinya karena selalu mampu merusak setiap suasana nyaman. Kadang tak perlu melihatnya, namun hidung selalu mampu mencium aromanya. Setiap saat.
Ya, masa lalu memang ada yang layak untuk dikenang, namun tak sedikit pula yang layak untuk dibuang. Saat ia perlu untuk dikenang, maka itu disebabkan ia mampu melecutkan kembali semangat untuk tidak melupakan keaslian bentuk hutan, meski kini telah berubah menjadi sebuah taman. Dan saat ia perlu untuk di buang, itu pun karena ia sudah tak layak untuk dijadikan kenangan.
Apa jadinya bila setiap saat seseorang selalu melihat ke belakang. Ia bukanlah makhluk bernama undur-undur yang selalu berjalan mundur. Tapi ia adalah makhluk Allah yang diciptakan untuk beribadah, dan beribadah tidak mengenal jalan mundur. Meski suatu saat ia perlu mundur, tapi tidak pada setiap saatnya. Shalat tidak mengenal mundur, puasa tidak mengenal mundur, bahkan jihad pun tak mengenal mundur. Itulah yang diisyaratkan dalam Al-Qur'an saat Allah shallallahu alaihi wa sallam berfirman:
"Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan."[1]
Tidak ada perlombaan yang harus mundur. Karena mundur berarti kembali ke masa tanpa perlombaan. Sedangkan pahlawan surga haruslah seseorang yang ikut dalam perlombaan. Bukankah itu yang dikatakan oleh Allah:
"Dialah Zat Yang Menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian semua, manakah yang paling baik amalnya."[2]
Tidak mungkin seseorang menjadi juara dan meraih amalan terbaik tanpa ikut perlombaan.
Tapi yang pasti, pahlawan surga juga perlu sesekali melihat kebelakang. Tapi ia tak perlu mundur. Cukup mengurangi kecepatan, atau berhenti sejenak untuk evaluasi dan selanjutnya ia bergerak maju kembali.
Ibarat pengendara handal sebuah mobil dalam lomba persahabatan, maka ia harus pastikan bahwa kaca depan mobilnya harus besar dan proporsional, sebagaimana kaca spionnya cukup dengan ukuran kecil saja. Ia tak perlu kaca spion berukuran besar untuk melihat peserta lainnya, apalagi bila ukurannya lebih besar dari kaca depan. Ia hanya sesekali melihat ke belakang melalui spion kecil sekiranya ada hal-hal penting yang harus dilakukan. Oleh karena itu, apa jadinya saat seorang pengendara selalu melihat ke belakang, apalagi ia memasang kaca spion yang sangat besar, agar selalu dapat melihat apa yang dilakukan oleh peserta lainnya. Maka jadilah ia seorang pengendara yang sibuk dengan urusan belakang.
Selain sibuk urusan belakang, ada hal lain yang kadang kala menyita waktu, tenaga dan pikiran seorang pengendara dalam perlombaan. Saat ada beberapa peserta lain yang berpacu dengan kecepatan yang sama, atau malah mampu melewatinya, ia mulai merasa goyah, selanjutnya kadang ia mulai sibuk berusaha membuat mereka menyingkir, atau bahkan tak bisa melanjutkan lomba. Dan pada akhirnya, ia adalah seorang pengendara yang super sibuk, namun pada urusan yang tak perlu.
Alangkah rugi seseorang yang selalu terpaku pada masa lalu. Ia akan susah menjadikan dirinya maju, apalagi mampu untuk berpacu. Bukankah berdosa saat kita mengungkit masa lalu Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu saat beliau masih jahiliyah?
Tentunya, kita memang tak sekelas Umar bin Khaththab dalam hal kebaikan, namun juga tak layak menutup mata dari sedikit kebaikan yang telah kita lakukan. Coba kita simak ungkapan luar biasa dalam Al-Qur'an saat Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sungguh kebaikan-kebaikan itu akan senantiasa menghapus kesalahan-kesalahan."[3]
Dan bahkan pada puncaknya, seorang mukmin pendosa pun akan Allah masukkan ke dalam surga-NYA melalui delapan pintu yang ia suka, saat ia berperang fi sabilillah lalu terbunuh karenanya, itulah yang diungkapkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam:
"Sesungguhnya pedang itu penghapus dosa-dosa."[4].
Akhirnya, tidak ada alasan bagi kita untuk mengusik kembali masa lalu orang lain yang tak indah. Sebagaimana kita juga tak perlu memasang cermin besar untuk menyibukkan diri dan menghabiskan waktu demi melihat ke belakang.
Merubah hutan menjadi sebuah taman, lalu merawatnya dari kerusakan jauh lebih bermanfaat dari pada merubah taman agar ia kembali menjadi hutan.
Fairuz Ahmad.
Bintara, 18 Rabu'il Awwal 1434 / 30 Januari 2013
Catatan :
[1] Al-Baqarah : 148.
[2] Al-Mulk : 2.
[3] Hud : 114.
[4] Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (17204), Imam Ad-Darimy dalam Sunannya (2411), dan Imam At-Thabrani dalam al-Mu'jam (310) semuanya melalui jalur Shafwan bin Amr dari Abul Mutsanna Al-Amluki dari sahabat Utbah bin Abd  As-Sulamy.
Imam Al-Haitsami dalam Majma' mengatakan bahwa perawi dalam riwayat Imam Ahmad semuanya adalah perawi yang dipakai dalam As-Shahih, kecuali Abul Mutsanna, akan tetapi ia perawi tsiqah.
Dalam tahqiqnya di kitab Zadul ma'ad, Al-Arna'uth mengatakan bahwa hadits riwayat Imam Ahmad dan Ad-Darimy statusnya hasan dan dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban. (Zadul Ma'ad 3/94, Mu'assasah Ar-Risalah-Beirut, cet. 1410 H-1990 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar