Senin, 30 Desember 2013

Nasehat Dan Taujih Dr. Muhammad Bin Abdul Maqshud Tentang Situasi Mesir [1]

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Ikhwati wa akhwati, abna'i wa banati…
Sangat menggembirakan bagi saya bisa melanjutkan pelajaran kita melalui saluran televisi Al-Amjaad. Al-Amjaad (dalam bahasa Arab artinya kemuliaan, penerj.) adalah saluran televisi baru. Kita berharap kepada Allah Azza wa Jalla agar kita dapat menghidupkan kemuliaan orang-orang yang mendahului kita melalui saluran ini.
Dan sesungguhnya kemuliaan itu hanya dapat diperoleh dengan Ittiba', yaitu mengikuti Kitab Allah Azza wa Jalla dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam.
Imam Malik rahimahullah berkata:
"Tidaklah akan menjadi baik orang-orang terakhir dari umat ini, kecuali dengan sesuatu yang mana dengannya orang-orang terdahulu menjadi baik. Dan sungguh orang-orang pertama dari umat ini menjadi baik dengan Kitab Allah Azza wa Jalla dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wasallam."
Allah berfirman:
"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Al-Jumu'ah : 2)
Kita sekarang berada di masa-masa yang sangat kritis. Masa dimana kita harus melewatinya. Bukankah kalian mengetahui bahwa Allah Azza wa Jalla berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wa alihi wa sallam dan juga kepada para sahabatnya yang berstatus sebagai orang-orang pertama, dan ini juga ditujukan kepada semua umat Islam:
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Siapakah gerangan yang bertanya dengan pertanyaan itu "sehingga kapankah pertolongan Allah tiba ?" (Al-Baqarah : 214)
Inilah masa-masa kritis yang harus dilewati umat ini bila mereka ingin menolong agama Allah Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya konsistensi terhadap perkara agama ini dan upaya memenangkannya adalah sebuah ungkapan dalam rangka meniti jalan yang lurus, sedangkan mengenai jalan yang lurus ini setan telah berkata:
"saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus." (Al-A'raaf : 16)
Oleh karena itu setan senantiasa berusaha untuk itu, dan yang saya maksud setan di sini adalah setan jin dan setan manusia, karena Allah Azza wa Jalla berkata dalam surat Al-An'am:
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." (Al-An’aam: 112)
Maka dari itu, pada saat kita membaca ayat ini, kita harus mengetahui bahwa segala sesuatu ada di bawah kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Tidak mungkin ada satu hal yang terjadi di muka bumi dan di bawah langit-NYA ini yang berbeda dengan iradah (keinginan) dan masyiah-NYA (kehendak-NYA). Anda harus mengimani hal ini, dan orang yang tidak mengimani hal ini maka dia adalah penghuni Neraka, walaupun telah banyak mengerjakan perbuatan baik.
Saya ingatkan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas'ud, Khudzaifah bin Al-Yaman dan Ubay bin Ka'ab semoga Allah Ta'ala meridhai mereka semua, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
"Jika Allah (berkehendak) menyiksa penduduk langit-NYA dan penduduk bumi-NYA, niscaya Dia menyiksa mereka semua sedang Allah tidaklah zalim terhadap mereka. Dan jika Allah memberi rahmat kepada mereka, niscaya rahmat-NYA kepada mereka itu lebih baik dari apa-apa yang telah mereka kerjakan."
Setelah itu mari kita lihat "mahallus syahid" dalam hadits tersebut:
"Jika kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, tidaklah Allah akan menerimanya darimu sampai kamu beriman kepada takdir, sehingga kamu mengetahui bahwa apa yang telah menjadi bagianmu tidak akan melenceng darimu, dan apa yang sudah melenceng darimu tidak akan menjadi bagianmu, dan seandainya kamu mati dalam keadaan tidak meyakini tentang takdir ini niscaya Allah memasukkanmu ke dalam Neraka."
Inilah yang disebut dengan kemenangan/pertolongan. Oleh karena itu, kita wajib beriman kepada semua takdir dan kembali kepada apa yang dikatakan oleh Allah Ta'ala:
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." (Al-An’aam: 112)
Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan, yaitu kebohongan mereka, karena Allah berkata ; mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu. Itulah perkataan-perkataan yang dihias-hias yang menampakkan kebenaran sebagai kebatilan, dan kebenaran sebagai kebatilan. Sebagaimana tipuan setan kepada Adam alaihis salam saat berkata:
"Maukah aku tunjukkan pohon abadi dan kerajaan yang tak akan punah."
Sedang pohon itu sesungguhnya telah diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla. Maka dari itu, sesungguhnya setan-setan dari kalangan jin berbuat demikian sebagaimana setan-setan dari kalangan manusia juga berbuat seperti itu. Bahkan setan-setan dari kalangan manusia lebih berbahaya bagi anak Adam dari pada setan-setan dari kalangan jin. Ada sebuah hadits yang datang melalui banyak jalur, dimana Ibnu Katsir berkata sanadnya baik sebab banyaknya jalur.
Dari Abu Dzar radhiyallahu anhu sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya:
"Hai Abu Dzar, berlindunglah kamu dari gangguan setan manusia."
Abu Dzar bertanya: "Apakah ada setan manusia ?"
Nabi berkata:
"Ya, dan mereka lebih berbahaya bagi anak Adam dari pada setan jin."
Oleh karena itu, setan-setan dari kalangan manusia lebih berbahaya bagi anak Adam dari pada setan-setan dari kalangan jin. Setan dari kalangan jin dapat kalian tolak dengan membaca ayat Kursi, surat Al-Baqarah dan juga senantiasa berzikir yang dapat menolak gangguan setan. Jadi hendaknya manusia selalu menyalakan lampu merah kepada setan, pertanda stop. Dan selalu menyalakan lampu hijau bagi Malaikat. Tema ini sangatlah panjang, namun yang penting di sini adalah, kenapa Allah Azza wa Jalla menginginkan ini semua terjadi, yaitu kenapa setan harus berbuat itu semua kepada manusia, sedangkan jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
Kenapa itu semua terjadi?
"Agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan." (Al-An'am : 113)
Maka sudah pasti yang akan terjadi adalah; agar mereka senang kepadanya (bisikan) dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.
Lihatlah pada ayat yang turun setelahnya:
"Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quraan) kepadamu dengan terperinci?" (Al-An'am : 114)
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menurunkan Kitab yang di dalamnya terinci segala sesuatu.
Dan Alaa Al-Aswany (seorang Doktor dan Kolumnis Mesir) telah berdusta saat ia mengatakan bahwa Al-Qur'an tidak mempunyai solusi apa pun bagi persoalan-persoalan kita.
Sungguh Al-Qur'an di dalamnya terkandung solusi atas segala hal, dan Allah Maha Benar sedang Alaa Al-Aswany berdusta.
Ia mengatakan itu semua dalam rangka menyerang Jama'ah Ikhwanul Muslimin, maka ia mendustakan Rabbnya. Karena Jama'ah Ikhwanul Muslimin mengusung slogan Islam adalah Solusi.
Ia mengatakan bahwa Islam tidak mempunyai solusi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
bersambung......
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar