Selasa, 31 Desember 2013

Istriku, izinkan aku menikah dengan wanita yang lebih aku cintai dari dirimu

Saat cinta telah sampai di dasar hati, ia akan rela memberikan semua pengorbanannya demi orang yang dicintainya.

Ia berkata:

"Ia meninggalkanku dan membiarkanku mengusap air mata..
Aku menikah dengan seorang lelaki yang belum ada tandingannya di dunia ini.
Sama sekali belum pernah ada.
Namun setelah dua bulan pernikahan ia bicara kepadaku, ia mencintai seseorang.
Dan ia ingin menikahinya.
Ia teramat sangat mencintainya.
Aku pun menundukkan kepalaku sebentar.
Dan setelahnya aku angkat kepalaku dan berkata kepadanya: "kamu lebih mencintainya dari pada diriku ?"
Ia menjawab: "ya".
Aku pun berkata: "sayang, pergilah padanya dan menikahlah dengannya, sungguh kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga."
Ia berkata: "tapi aku tidak punya cukup biaya untuk menikahinya."
Aku pun menjawab: "ambillah semua perhiasanku. Kamu bisa menjualnya dan menikahinya sayang."
Ia menolak dan berkata: "sayang, mungkin kamu akan memerlukannya pada suatu hari, biarkanlah ia untukmu."
Aku terus memaksanya sampai ia pun setuju.
Ia mengambil semua perhiasanku dan menjualnya.
Kemudian ia pergi mencari kekasih yang ia cintai.
Meninggalkanku sedang aku baru saja menikah dengannya.
Satu bulan berlalu...dua bulan...tiga bulan.
Satu tahun…dua tahun…tiga tahun.
Suamiku tercinta tak juga mengunjungiku.
Ia meneleponku dan berkata sedang sibuk, tidak dapat mengunjungiku.
Sepanjang hari aku pun mengusap air mata.
Meratap kesedihan dan penyesalan.
Apakah kalian mengira aku sedang marah kepadanya?
Sama sekali tidak.
Ia adalah suamiku tercinta, apa pun yang ia lakukan.
Bahkan aku memaafkannya.
Sejujurnya aku sangat ingin berbicara dengannya.
Telingaku sangat rindu mendengar ucapannya.
Suara lembutnya selalu terngiang di telingaku.
Kata-katanya menentramkan.
Suaranya lembut.
Kadang satu bulan berlalu dan ia tidak berbicara denganku.
Oh, alangkah jauhnya dirimu sayang.
Betapa jauhnya dirimu, dan betapa diriku merindumu.
Bagaimana dirimu bisa sabar dariku sedang diriku sudah tak sabar.
Namun itulah kaum lelaki, selalu kuat.
Mereka dapat lebih sabar dan kokoh.
Bila ia berbicara lewat telepon.
Aku merasa dunia sedang di hadapanku.
Apakah engkau sembunyikan air matamu sayang ?
Sedang suaramu terasa berat.
Engkau seperti sedang menguatkan dirimu agar aku tidak sedih.
Ini aku sedang bicara denganmu.
Tak kuasa air mataku pun deras mengalir.
Sedang suaraku semakin menampakkan kesedihan.
Aku berusaha menghilangkan tangisanku dalam hati.
Dan menyembunyikan kesedihanku di balik dinding-dinding hatiku.
Suaraku terputus-putus di kerongkongan.
Seluruh hatiku pun pecah oleh perasaan yang tak menentu.
Aku tampakkan diriku kuat di depannya agar ia pun tidak bersedih.

(Alangkah jujurnya dua orang yang saling mencintai ini.
Wahai seorang suami, kau telah meninggalkan istrimu untuk mencari kekasih lain.
Wahai seorang istri, engkau rela menjual semua perhiasanmu untuk menikahkan suamimu.
Sungguh aku takjub dengan kalian berdua.)
……….
Dan pada suatu hari yang penuh dengan kesedihan...namun ia sebenarnya hari yang penuh dengan kebahagiaan.
Tiba-tiba telepon berbunyi.
Dengan sangat cepatnya Haya mengangkat untuk mendengarkan siapa yang bicara.
Sebuah suara yang jauh itu berkata: "aku ingin bicara dengan saudari Haya."
"ya, ini aku, Haya. Dengan siapa bicara ?"
"aku saudaramu yang sedang berjihad di Chechnya"
"ikhlaskan suamimu wahai saudariku. Sungguh dia telah syahid setelah melakukan pertempuran sengit menghadapi pasukan Rusia. Demi Allah aku mencium wangi misik yang timbul dari balik bajunya. Dan demi Allah senyum lepasnya tergambar dari wajahnya. Sabarkan dirimu saudariku dan ikhlaskanlah dia"
Aku mampu menguasai diriku saat bicara dengan orang tersebut dan aku sampaikan padanya: "alhamdulillah jazakallah khairo"
Aku menutup pembicaraan.
Tiba-tiba aku histeris.
Sebuah gelombang besar berupa tangisan, kesedihan dan kegembiraan telah bersatu padu pada saat yang sama.
Ibuku terkejut.
"Haya...Haya...ada apa denganmu? siapa tadi yang bicara?"
Aku tak mampu berkata-kata.
Kadang aku tersenyum dan menangis.
Aku pun dipeluk ibu sedang ia berteriak: "Haya...bicaralah pada ibu..!"
Aku berusaha sekuat tenaga, dan aku pun memberitahu tentang apa yang terjadi.
Selanjutnya aku pergi ke kamar dan berkata pada ibu sedang beliau menangis: "ibu, siapa saja yang ingin memberiku ucapan selamat maka boleh ia masuk kamarku. Dan siapa saja yang ingin selainnya maka aku tidak membutuhkan kunjungannya."
Selanjutnya tidak ada yang masuk kamarku kecuali beberapa orang saja yang memberiku ucapan selamat.
Subhanallah....!!!
.......
Sayangku, akhirnya engkau telah temukan kekasihmu itu.
Kekasih hatimu.
Dan engkau pun akhirnya bermalam mendatangi tujuh puluh dua pengantinmu.
Semuanya lebih cantik dari Haya.
Semuanya lebih mulia dari Haya.
Semuanya lebih lembut suaranya dari Haya.
Oh, andai aku tahu keadaan dirimu sekarang.
Sedang engkau berada di tengah gadis-gadis cantik jelita.
Bila engkau telah melupakan Haya..Meskipun aku tahu engkau tidak akan berbuat itu.
Maka sungguh aku tak akan melupakanmu sayang.
Selamanya.
Dirimu akan senantiasa abadi dalam ingatan sepanjang hidupku.
Tiga tahun aku merasa kepahitan dan jauh darimu.
Tidak pernah mata ini bercelak untuk melihat dirimu.
Namun jiwa ini berharap akan melihatmu nanti di taman surga insya Allah.
Duhai sayangku yang tercinta.
Oh, duhai Singa.
Duhai pahlawan.
Sungguh dirimu telah meninggalkan rumahmu yang tentram.
Kemudian hidup di tengah hutan dan gua-gua.
Di bawah desingan peluru-peluru.
Kau telah tinggalkan pengantin mudamu lalu tidur di atas salju.
Engkau melakukan ribath di parit-parit.
Aku pun teringat dirimu pernah berkata padaku: "Haya..aku tidak dapat tidur. Saudari-saudariku menangis di Chechnya. Hatiku berdarah. Mataku pun berurai air mata."
Duhai sayangku, engkau seorang pemuda yang penuh dengan himmah.
Bahkan seluruh himmah.
Engkau telah memikul perkara agama sedang engkau berlaku zuhud dari dunia.
Kuucapkan selamat untukmu dengan bidadari-bidadarimu.
Selamat untukmu dengan surgamu.
Selamat untukmu bisa menemani Hamzah. Ja'far. Zaid dan Mush'ab.
Bahkan selamat untukmu bisa menemani sang kekasih shallallahu alaihi wasallam.
.......
Selamat tinggal duhai kekasih hatiku.
Selamat tinggal.
Selamat tinggal.
Semoga diriku mendapatkan syafa'atmu.
Lalu bertemu denganmu di taman surga abadi insya Allah

Terjemahan: Fairuz Ahmad.
Bintara, 23 Ramadhan 1434 H./1 Agustus 2013 M.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar