Selasa, 03 Desember 2013

BELAJAR DARI POHON PISANG TETANGGA

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surat Al-Waqi'ah ayat 29, dimana sebagian ahli tafsir menafsirkannya dengan arti:

"dan pohon pisang yang (buahnya) bertumpuk-tumpuk.",

sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abu Sa'id, juga ada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Hasan Bashri, Ikrimah, Qasamah bin Zuhair, Qatadah, Abu Hurzah, Mujahid dan Ibnu Zaid yang mengatakan bahwa penduduk Yaman menamakan pisang dengan sebutan "Thalh" (Tafsir Ibnu Katsir)

Lalu ada apa dengan pohon pisang sampai ia tersebut dalam Al-Qur'an?

Sesungguhnya tidaklah Allah menyebutkan sesuatu dalam Al-Qur'an melainkan karena ia memiliki kelebihan. Saat yang disebut adalah Fir'aun maka itu kerena kelebihannya dalam kebengisan dan penolakannya terhadap dakwah Nabi Musa alaihissalam. Namun saat Allah menyebutkan sesuatu yang baik maka itu kerena yang tersebut memiliki kelebihan dan keistimewaan dalam hal kebaikan.

Sedangkan pohon pisang, apa kelebihannya?

Mari kita bedah pemandangan yang nampak dari sebuah pohon pisang dari kebun tetangga ini:

Bukankah ia telah memberikan kebaikannya kepada para penikmat pisang? Saking berlebihnya ia memberikan kebaikan, ia pun tak kuat menanggung semua kebaikannya. Ternyata kebaikannya telah melebihi kemampuan fisiknya, lebih berat dan besar kebaikan yang diberikan dari pada ukuran fisiknya. Begitulah yang Allah inginkan dari hamba-NYA, dalam rangka membagi kebaikan kepada orang lain hendaknya meneladani si pohon pisang dalam "Fastabiqul khairaat."

Lalu tahukah kita bahwa sang pohon pisang itu tidak akan mati sebelum ia berbuah. Subhanallah, ia tak mau mati sia-sia, karena pasti ia akan dilupa dan tak akan terkenang oleh masa. Namun bila ia mati setelah meninggalkan karya kebaikan, maka ia akan terkenang sepanjang jaman. Dan ia tidak akan mati sia-sia, karena generasi setelahnya akan memanjatkan baginya do'a-do'a.

Berikutnya adalah, ia juga tidak akan mati sebelum ia memiliki anak-anak sebagai pelanjut generasi. Ingatkah kita tentang nasehat Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang anak sholeh yang senantiasa mendo'akan orang tuanya. Seperti itulah gambaran pohon pisang, bahwa anak adalah sumber rejeki untuk melanjutkan estafet kebaikan orang tua. Dan kita tidak pernah menemukan anak pohon pisang yang telah dewasa kemudian berbuah selain pisang. Begitulah seharusnya kita, tidak mendidik anak kita kecuali dengan kebaikan yang sama.

Selanjutnya adalah pengorbanan sang pohon bila mana ia sudah menunaikan tugas kebaikannya. Agar semua generasi setelahnya tumbuh sehat, ia rela untuk ditebang, karena keberadaannya hanya akan menghambat tumbuhnya kebaikan para generasi berikutnya. Ya, sebuah pelajaran teramat penting bagi siklus kehidupan bersosial kita. Suatu saat kita harus rela meninggalkan posisi kita untuk digantikan orang lain yang lebih baik dari kita. Saat umat lebih membutuhkan kebaikan orang lain dari pada kita, maka meneladani pengorbanan pohon pisang adalah kebaikan itu sendiri.

Pohon pisang akan tumbuh sehat bila ia ada di lingkungan yang juga sehat. Ada ungkapan mutiara dari negeri Arab, "Al-Jaar qoblad Daar",

"perhatikan dulu akhlak tetangga sebelum anda membangun sebuah rumah".

Pohon pisang yang baik harus berada dalam kebun yang baik. Oleh karena itu, mencari atau mengupayakan lingkungan yang baik adalah sebuah keharusan demi perkembangan dan pertumbuhan generasi yang baik. Maka lihatlah pada gambar pohon pisang itu, saat kebaikannya melebihi kemampuan fisiknya, maka lingkungan yang baik akan membantu menopang kelangsungan kebaikannya. Kebaikan yang telah diberikan oleh pohon pisang yang baik itu telah menggerakkan lingkungannya menjadi penopang kebaikannya, paling tidak, orang akan menghormati dan menghargai pekerjaan-pekerjaan kita meski sang penopang itu tak bisa menghasilkan kebaikan seperti kita, persis seperti sepotong bambu yang menopang pohon pisang agar tidak roboh, karena robohnya pohon pisang berarti hilangnya kebaikan pisang.

Fairuz Ahmad.

Bintara, 20 Desember 2012, 9:39:15
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar