Rabu, 04 Desember 2013

Tanggapan Atas Syubhat Dan Dusta Penceramah Syi'ah Dari Sebuah Radio Swasta [4]



   4. KISAH PERSELISIHAN KAUM AUS DAN KHAZRAJ OLEH SYAS BIN QAIS.
Dalam banyak buku Sirah Nabawiyah pernah ada peristiwa hasutan orang Yahudi bernama Syas bin Qais kepada orang-orang Anshar dari suku Aus dan Khazraj yang sedang berkumpul. Kisah ini diriwayatkan oleh Zaid bin Aslam.
Di antara hasutan yang dihembuskan oleh orang Yahudi ini adalah mengingatkan kembali pada perang Bu'ats antara kedua suku tersebut yang berlangsung sampai 40 tahun. Akhirnya semuanya kembali terpancing membanggakan para pendahulunya dalam peperangan tersebut dan kemudian memanas hingga dua belah pihak sudah saling angkat senjata. Namun kemudian ada yang melaporkan kepada Nabi dan akhirnya beliau datang dan menasehati keduanya dan turunlah ayat 98-101 surat Ali Imran.
Penceramah pendusta itu mencoba memanfaatkan ayat Al-Qur'an yang mulia ini dengan mengatakan bahwa jangan sampai kita bercerai-berai gara-gara hasutan musuh.
Sekali lagi ucapan pendusta ini benar adanya bila memang diniatkan ikhlas sebagaimana mestinya ayat itu turun pada kisah Aus dan Khazraj. Namun bila kemudian yang dimaksud adalah larangan bercerai-berai antara Islam dan Syi'ah maka sungguh ia adalah penipu ulung.
Apakah ia buta dengan sejarah kaum Sabaiyyah yang menghasut para pembangkang dan pembunuh Khalifah Utsman ? dan juga menghasut pasukan Ali dan pasukan Aisyah dalam perang Jamal ?
Sebenarnya siapa yang tukang hasut kalau bukan orang-orang Syi'ah yang pembuat agamanya adalah orang Yahudi Yaman bernama Abdullah bin Saba' ?
Sungguh tidak ada bedanya antara Syas bin Qais Yahudi Madinah dengan Abdullah bin Saba' Yahudi Yaman. Dan penceramah itu sejatinya telah menghasut hadirin agar jangan sampai termakan oleh penjelasan para Ulama yang menyesatkan dan mengkafirkan Syi'ah. Bukti hasutannya ini bisa dilihat dari ucapan dungunya saat menyatakan bahwa meskipun ada Ketua Ulama sedunia yang berfatwa agar memerangi dan membunuh musuh-musuh Islam di Suriah pimpinan Presiden Basyar Asad maka kita umat Islam jangan sampai mendengarkan fatwanya karena itu adalah fatwa yang mengadu domba umat. Dan yang dimaksud oleh penceramah penghasut ini sebenarnya adalah fatwa Syeikh DR. Yusuf Al-Qardhawi.
Dan sungguh ia telah buta dari peringatan keras Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa pengadu domba tidak masuk Surga.[40]
Semoga Allah membinasakan para penghasut umat sejati ini sebagaimana binasanya kamu Ad dan Tsamud.
5.      larangan-larangan dalam haji.
Satu lagi kebodohan penceramah pendusta tersebut yang hendak menipu umat dengan jebakan ayat 197 surat Al-Baqarah yang artinya :
"(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi(Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah), barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji."
Ia mengatakan bahwa larangan-larangan tersebut berlaku umum dan tidak khusus pada bulan haji.
Betapa bodohnya bila hawa nafsu telah menguasai hati, pendengaran dan penglihatan, sehingga kalimat "fil hajji" yang artinya di dalam masa mengerjakan haji tidak terbaca olehnya. Maha Benar Allah saat mengatakan perihal orang-orang kafir dengan firman-NYA :
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."[41]
Bukankah telah sangat jelas bahwa larangan itu berlaku di masa mengerjakan haji ?. Sedangkan larangan-larangan serupa yang sifatnya umum maka ayat ini bukanlah dalilnya. Bila ia adalah penceramah yang ikhlas, tentunya akan tahu dalil-dalil larangan serupa yang sifatnya umum tersebut letaknya dimana.
Kebodohan berikutnya dalam menjelaskan ayat ini adalah saat ia mengartikan kata "rafats" dengan arti "berkata kotor". Padahal ulama tafsir Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Asy-Syaukani, Al-Baghawi dan lain-lain mengartikannya "jima" yaitu berhubungan suami istri.
Kalau ia berpendapat bahwa larangan-larangan itu sifatnya umum di semua waktu, maka hubungan suami istri akan terlarang juga pada masa selain haji. Sungguh pendapat yang tidak keluar kecuali dari mulut orang bodoh.
Sebenarnya ia menginginkan dengan ayat ini agar umat Islam tidak berkata kotor pada penganut agama sesat itu.
Oleh karena itu ia menegaskan kembali bahwa sebagai umat Islam yang baik maka jangan sampai mempertuhankan habib, referensi, guru, mazhab dan pendapat ulama.
Semua orang pasti sepakat dengan kata-kata di atas. Namun sekali lagi, ungkapan itu sangatlah persis dengan jawaban Khalifah Ali bin Abi Thalib saat menjawab tuntutan para Khawarij agar berhukum dengan Kitabullah. Beliau menjawab "Kalimatu haqqin uriida bihal bathil", kalimat haq namun diinginkan denganya kebatilan.
Artinya, umat Islam jangan lagi berpegang pada kata-kata ulamanya, pada kitab-kitab karangan ulamanya dan juga pada fatwa-fatwa ulamanya.
Dan tema kedua yang diangkat oleh penceramah pendusta ini, sebenarnya lebih mengarah pada gerakan Taqrib, yaitu gerakan mendekatkan Islam dan Syi'ah. Oleh karena itulah tema-tema yang diangkat semuanya berbicara masalah persatuan dan larangan perpecahan. Meski pada dasarnya penuh dengan tipuan dan dusta.
Syeikh Muhibbuddin Al-Khathib dalam bukunya Al-Khuthut Al-'Aridhah mengatakan bahwa gerakan Taqrib ini sudah berlangsung lama sejak masa Shalahuddin Al-Ayyubi sampai sekarang (saat buku ini ditulis, pen.) dan kesuksesan gerakan ini lebih disebabkan karena adanya sambutan antar kedua belah pihak, sehingga pada saat itu berdirilah Lembaga di Mesir yang dinamakan Daru Taqrib yang dibiayai langsung oleh negara Syi'ah Iran. Dan negara Iran sangat memprioritaskan gelontoran dananya untuk Lembaga tersebut dari pada membangun Lembaga Taqrib serupa di negerinya sendiri seperti Qom, Najaf, Teheran atau Jabal Amil.
Dalam komentarnya di buku ini, Muhammad Nashif mengatakan bahwa gelontoran dana besar-besaran untuk membangun Lembaga Taqrib di negeri-negeri lain terus berulang kali, termasuk pengiriman para da'inya, sehingga tidak mengherankan bila di kemudian hari ada negara sunni mayoritas berubah menjadi minoritas seperti halnya dengan Irak. Dan pada masa Syeikh Jalaluddin As-Suyuthi datanglah seorang da'i Syi'ah dari Iran yang mana karena kedatangannya itulah beliau lantas menulis buku Miftahul Jannah Fil I'tisham Bis Sunnah.[42]
Sesungguhnya masalah pendekatan Islam dan Syi'ah tidak akan mungkin terjadi karena perbedaan masalah Ushuluddin atau pokok-pokok agama. Bila pokoknya sudah berbeda maka tidak ada gunanya lagi membicarakan pendekatan masalah cabangnya yaitu fiqih.
Dan sebenarnya ada satu hal yang tidak ada keraguan padanya yaitu, bahwa Syi'ah sendiri tidak menginginkan dan tidak rela dengan adanya Taqrib, sebab itulah ia berjuang dan berupaya menyebarkan gerakan Taqrib ke negeri lain dan menolak sekecil apa pun suara yang mengumandangkan Taqrib di negerinya. Minimal ada pengaruh Taqrib di lembaga-lembaga pendidikan di negeri lain. Dan tidak ada ajakan Taqrib kecuali dari negara Iran kepada negara lain. Ia seperti aliran listrik yang tidak akan mungkin bertemu antara plus dan minusnya.[43]
Umat Islam patut bersyukur kepada Syeikh Muhibbuddin yang telah banyak menyadarkan fitnah Taqrib dan bahaya Syi'ah terhadap aqidah Islam. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala berkenan memberikan pahala atas perjuangan dan pengorbanan beliau untuk melindungi agama dari makar dan pengrusakan orang-orang Syi'ah.
Penganut agama Syi'ah biasanya berlindung di balik fatwa-fatwa kontroversial Ulama islam yang longgar dalam menentukan status agama Syi'ah, atau fatwa para Ulama yang sudah mengalami manipulasi, atau fatwa ulama yang sudah lewat masa berlakunya alias Ulama yang pernah mengeluarkan fatwa tersebut telah menarik kembali dan rujuk dari fatwanya. Di antara fatwa-fatwa ulama yang dijadikan payung adalah Risalah Amman yang dihadiri oleh lebih dari 500 Ulama sedunia. Ada baiknya para pembaca meluaskan wawasannya pada link-link terkait dengan Risalah atau Deklarasi Amman tersebut.[44]
Alhamdulillah selesai dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta'ala, semoga tulisan yang ala kadarnya ini dapat menjadi saksi atas pembelaan penulis terhadap agama-NYA dari makar dan pengrusakan kaum zindiq dan mulhid.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi karunia.


Fairuz Ahmad.
Bintara, Ahad 14 Sya'ban 1434 H./23 Juni 2013 M.
-------------------------------------------------------------------
Catatan dan sebagian referensi :
[1] Surat Ali Imran : 7.
[2] HR. Ibnu Majah, disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah [1887] As-Syamilah.
[3] Zadul Ma'ad Fi Hadyi Khairil Ibaad oleh Ibnu Qoyyim 4/11, Tahqiq Syu'aib Al-Arna'uth dan Abdul Qadir Al-Arna'uth, Mu'assasah Ar-Risalah 1406 H./ 1986 M.
[4] Nama dan Foto ada pada penulis.
[5] Bukhari dari anas bin Malik no.5694.
[6] 29 surat Al-Fath.
[7] 9 surat At-Tahrim.
[8] Bukhari dari Abdullah bin Umar no.25. Muslim dari Abdullah bin Umar no.22. Abu Dawud dari Anas bin Malik no.2641. An-Nasa-i dari Anas bin Malik no.5003. Ad-Daruquthni dari Abu Hurairah no.1862 dan dari Abdullah bin Umar no.886. Tirmidzi dari Abu Hurairah no.2606 dengan lafal sedikit berbeda.
[9] As-Sunnah Ahmad Abu Bakr Al-Khallal hal.463.
[10] Fathul Bari Ibnu Hajar 13/72.
[11] Shahih Bukhari dari Abu Sa'id Al-Khudri no.3470. Muslim dari Abu Hurairah no.2540. Abu Dawud dari Abu Sa'id Al-Khudri no.4658. Ibnu Majah dari Abu Sa'id Al-Khudri no.161.
[12] Al-Furqaan : 63.
[13] Shahih Muslim 2564.
[14] Muslim dari Abu Hurairah no.1910. Abu Dawud dari Abu Hurairah no.2502. Nasa-i dari Abu Hurairah 8/6.
[15] Bukhari dari Anas bin malik 3472. Ahmad dari Sahl bin Sa'd 22304.
[16] Muslim dari Abu Hurairah no.2417 dan 4438.
[17] Bukhari dari Amr bin Maimun no.3497.
[18] Al-'Awashim Minal Qawashim Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Araby Tahqiq dan Ta'liq Syeikh Muhibbuddin Al-Khathib, Maktabah As-Sunnah Cetakan 5 Th.1408 H. hal.73.
[19] Huqbah Minat Tarikh DR. Utsman Muhammad Al-Khamis hal.110
[20] Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath hal.176.
[21] Al-Mustadrak Alas Shahihain no.4624.
[22] Al-Mustadrak Alas Shahihain no.4600.
[23] Siyar A'lamin Nubala 3/479-480.
[24] Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir 7/200.
[25] Al-'Awashim Minal Qawashim Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Araby Tahqiq dan Ta'liq Syeikh Muhibbuddin Al-Khathib, Maktabah As-Sunnah Cetakan 5 Th.1408 H. hal.260.
[26] Huqbah Minat Tarikh DR. Utsman Muhammad Al-Khamis hal.31-39.
[27] Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari hadits no.663.
[28] Al-'Awashim Minal Qawashim Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Araby Tahqiq dan Ta'liq Syeikh Muhibbuddin Al-Khathib, Maktabah As-Sunnah Cetakan 5 Th.1408 H. hal.261.
[29] As Sunnah oleh Al-Khallal:  2/557.
[30] Tafsir Ibnu Katsir : 4/219.
[31] Tafsir al-Qurthubi: 16/297.
[32] Al-Sunnah oleh Al-Khalal : 2/557-558.
[33] Al-Sunnah oleh Imam Ahmad : 82.
[34] Khalqu Af’al Al-Ibad : 125.
[35] Al Mu’tamad, hal. 267.
[36] Al-fashl fi al-Milal wa al-Nihal : 2/213.
[37] Al-fashl fi al-Milal wa al-Nihal : 5/40.
[38] Al-Ihkam Fii Ushuulil Ah-kaam : 1/96.
[39] Huqbah Minat Tarikh DR. Utsman Muhammad Al-Khamis hal.7-10.
[40] Bukhari 5709 dan Muslim 105.
[41] Al-A'raaf : 179.
[42] Al-Khuthuth Al-Aridhah Lil Usus Allati Qaama 'Alaiha Dinus Syi'ah Al-Imamiyyah Al-Itsna 'Asyriyyah oleh Muhibbuddin Al-Khathib hal.7-8.
[43]Al-Khuthuth Al-Aridhah Lil Usus Allati Qaama 'Alaiha Dinus Syi'ah Al-Imamiyyah Al-Itsna 'Asyriyyah oleh Muhibbuddin Al-Khathib hal.43-44.
[44] Teks Risalah Amman :
http://www.ammanmessage.com/index.php?option=com_content&task=view&id=20&Itemid=34&lang=ar
Sikap Al-Azhar Mesir tentang ‘Taqrib’ Sunni-Syiah :
http://www.hidayatullah.com/read/27205/11/02/2013/sikap-al-azhar-mesir-tentang-%E2%80%98taqrib%E2%80%99-sunni-syiah.html
Penjelasan tentang syubhat Risalah Amman :
http://www.lppimakassar.com/2012/11/syiah-berlindung-di-balik-risalah-amman.html
Sikap para penandatangan Risalah Amman :
http://nahimunkar.com/sikap-para-penandatangan-risalah-amman-terhadap-syiah/
Fatwa Terbaru Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi tentang Syiah :
http://arrisalah-institute.blogspot.com/2012/03/fatwa-kontemporer-syaikh-yusuf-al.html
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar