Rabu, 04 Desember 2013

Tanggapan Atas Syubhat Dan Dusta Penceramah Syi'ah Dari Sebuah Radio Swasta [3]



II. FITNAH TERSELUBUNG BERNAMA TAQRIB (PENDEKATAN ANTAR MAZHAB)
Dalam ceramahnya, penceramah tersebut berbicara panjang lebar dan sangat serius tentang tema pentingnya menjaga persatuan umat. Ia menebarkan banyak jebakan jaring laba-laba dengan sangat rapi dan nyaris tak terlihat.
Sehingga siapapun akan menyangka bahwa ia adalah pemersatu umat. Di antara jebakan yang disampaikan dalam ceramahnya adalah menukil beberapa hadits dari Shahih Bukhari dengan mengatakan bahwa ia tidak mau selain Bukhari, karena akan mudah disangkal dan dipatahkan. Berikut racun-racun yang ia sebar pada jaring laba-labanya :
1.      Hadits dalam Shahih Bukhari no.663
Dari Ubaidillah bin 'Adiy bin Khiyar ia masuk menemui Utsman bin Affan radhiyallahu anhu yang saat itu dalam kepungan dan berkata :
"Sungguh engkau adalah imam 'ammah (jama'ah) dan saat ini engkau tahu dengan apa yang sedang terjadi padamu (dikepung), sekarang kami akan diimami oleh imam fitnah (pemimpin para pengepung) sedang kami merasa keberatan."
Maka beliau menjawab :
"Shalat (berjama'ah) adalah sebaik-baik apa yang dikerjakan manusia. Apabila orang-orang berbuat baik maka berbuatlah baik bersama mereka, dan jika mereka berbuat buruk maka jauhilah keburukannya."
Bila hadits ini ada di shahih Bukhari, maka sebaik-baik penjelasan adalah apa yang disampaikan oleh Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul bari. Beliau merinci penjelasan sebagai berikut :
Hadits ini terkait dengan shalat jama'ah dimana imamnya adalah imam yang tertuduh atau terbukti sebagai pembangkang yang menentang penguasa, atau imamnya adalah ahli bid'ah sesuai dengan bab yang dibuat oleh Imam Bukhari, dan itulah yang dimaksud dengan imam fitnah dalam hadits.
Imam Ibnu Hajar menukil riwayat dari Ibnu Wadh-dhah dari Ibnu Abdil Bar dan lainnya bahwa orang yang dimaksud dalam hadits sebagai imam fitnah adalah Abdur Rahman bin 'Udais Al-Balwa, sedang Ibnul Jauzi menambahkan bahwa orang yang ikut menjadi imam fitnah adalah Kinanah bin Bisyr, dan keduanya adalah termasuk pemimpin para pembangkang dari Mesir.
Sedang ungkapan "kami merasa keberatan" adalah keberatan karena takut berdosa shalat bersama mereka namun akhirnya Utsman mengijinkan shalat bersama mereka dimana ijinnya ini disimpulkan oleh Ibnu Hajar bahwa menghadiri shalat jama'ah tetap harus dilakukan agar kalimah kaum muslimin tidak bertambah pecah saat terjadi fitnah. Di antara sahabat yang ikut shalat bersama mereka adalah Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif Al-Anshari, Ali bin Abi Thalib, Abu Ayyub Al-Anshari dan Thalhah bin Ubaidillah.[27]
Hadits ini demikian agung makna dan maksudnya, namun ia dapat diubah menjadi racun oleh para pendusta agama. Saat mereka hendak menipu umat dengan mengatakan bahwa sang Khalifah saja mengijinkan kaum muslimin shalat berjama'ah dengan imam seorang pembangkang, maka kita tidak perlu mempermasalahkan bila suatu saat yang menjadi imam adalah seorang syi'ah.
Apakah penceramah ini buta dengan pendapat para Ulama mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali bahwa syarat sah menjadi imam yang paling pertama adalah beragama Islam. Apa ia tidak pernah membaca kitab-kitab mereka semisal Ad-Durrul Mukhtar, Al-Lubab, Bada'i'us Shana'I, Asy-Syarhus Shaghir, Al-Qawaninul Fiqhiyyah, Mughnil Muhtaj, Kasysyaful Qina', Al-Mughni, Al-Majmu' dan lain-lain ?
Sedang para Ulama telah berpendapat bahwa syi'ah rafidhah dan yang semisalnya adalah kafir dengan salah satu cirinya adalah mencela sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dalam komentarnya Syeikh Muhibbuddin Al-Khathib menjelaskan barang siapa mencela sahabat maka ia telah keluar dari agama Islam, sebab tidaklah pencelaan kepada sahabat kecuali bersumber dari keyakinan akan keburukan para sahabat, menyembunyikan kedengkian terhadap mereka dan mengingkari apa yang telah Allah sebutkan dalam Al-Qur'an dan apa yang disebutkan Rasulullah tentang pujian dan kecintaan kepada mereka. Sebab para sahabat adalah ibarat sebuah jalan yang paling diridhai untuk menyampaikan wahyu Al-Qur'an dan Hadits, sehingga mencela dan meremehkan mereka adalah sama saja dengan mencela dan meremehkan wahyu, dan pengetahuan akan hakikat ini hanya ada pada orang-orang yang aqidahnya selamat dari kemunafikan, kezindikan dan ilhad.[28]
Jadi berdasarkan hadits Bukhari tersebut, imam fitnah pada masa pengepungan Utsman masih berstatus muslim meski ia tertuduh munafik khawarij sebagaimana pada penjelasan tentang siapa pembunuh Utsman. Dan umat Islam masih dibolehkan shalat di belakangnya sebagaimana kita bisa mengetahui pendapat Ulama dalam masalah ini pada bab "As-Shalatu khalfa imamin fasiq".
Namun yang perlu diketahui bahwa para Ulama yang berpendapat tentang kesesatan dan kekafiran Syi'ah sangatlah banyak, di antaranya :
Al-Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar al Marwadzi, ia berkata: “Saya mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad) berkata, bahwa Imam Malik berkata :
"Orang yang mencela shahabat-shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam."[29]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat 29 Surat Al-Fath :
"Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik rahimahullah, beliau mengambil kesimpulan tentang kekafiran Rafidhah yang membenci para shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Beliau berkata : "Karena mereka ini membenci para shahabat, dan barangsiapa membenci para shahabat, maka ia telah kafir berdasarkan ayat ini." Pendapat ini disepakati oleh segolongan ulama radhiyallahu ‘anhum."[30]
Imam Al-Qurthubi berkata :
Sungguh sangat bagus ucapan Imam Malik itu dan benar penafsirannya. Siapa pun yang menghina seorang dari mereka (sahabat Nabi) atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan alam semesta dan membatalkan syari’at kaum Muslimin."[31]
Syeikh Al-Khallal meriwayatkan bahwa Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) pernah ditanya oleh Abu Bakar Al-Marwazi tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah, dan beliau menjawab :
"Aku tidak melihatnya berada di atas agama Islam."
Abu Abdillah juga berkata :
"Barang siapa mencela (sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) maka aku khawatir ia menjadi kafir seperti halnya orang-orang Rafidhah."
Selanjutnya berkata lagi :
"Barangsiapa mencela Shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam maka kami khawatir ia telah keluar dari Islam (tanpa disadari).[32]
Malah dalam kitab As-Sunnah tulisan Imam Ahmad sendiri, beliau berkata :
"Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari shahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar, Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini sama sekali bukan Islam.[33]
Imamul Muhadditsin Al-Bukhari berkata :
"Bagi saya sama saja, apakah aku shalat di belakang seorang Jahmi (beraliran Jahmiyah) atau seorang Rafidhi (beraliran Syi’ah Rafidhah), atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh memberi salam kepada mereka, mengunjungi mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan sembelihan mereka.[34]
Al-Qadhi Abu Ya’la berkata :
"Adapun Rafidhah, maka hukum terhadap mereka . . . sesungguhnya mengafirkan para sahabat atau menganggapnya fasik, yang berarti mesti masuk neraka, maka orang semacam ini adalah kafir.[35]
Ibnu Hazam al-Zahiri

Imam Ibnu Hazm berkata :
"Pendapat mereka (Yakni Nashrani) yang menuduh bahwa golongan Rafidhah (Syi’ah) merubah Al-Qur’an, maka sesungguhnya golongan Syi’ah Rafidhah bukan termasuk bagian kaum muslimin. Karena golongan ini muncul pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun dari wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Syi’ah Rafidhah adalah golongan yang mengikuti langkah-langkah Yahudi dan Nashrani dalam melakukan kebohongan dan kekafiran."[36]
Beliau juga menambahkan :
" Orang yang berpendapat, bahwa Al Qur’an ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan men-dustakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.[37]
Dalam kitabnya yang lain beliau juga berpendapat :
"Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan semua kelompok umat Islam Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Zaidiyah, bahwa adalah wajib berpegang kepada Al Qur’an yang biasa kita baca ini. Dan hanya golongan Syi’ah ekstrim sajalah yang menyalahi sikap ini. Dengan sikapnya itu mereka menjadi kafir lagi musyrik, menurut pendapat semua penganut Islam. Dan pendapat kita sama sekali tidak sama dengan mereka (Syi’ah). Pendapat kita hanyalah sejalan dengan sesama pemeluk agama kita.'[38]
2.      Syiah adalah mazhab.
Sang penceramah pun telah keceplosan atau mungkin sengaja dengan mengatakan bahwa Syi'ah adalah mazhab fiqih dalam Islam. Dan inilah fitnah dan racun yang ia tebarkan dalam jaring laba-labanya.
Syeikh DR. Muhammad Ahmad Ismail Al-Muqaddam dalam mukadimah buku Huqbah Minat Tarikh menjelaskan panjang lebar tentang bahaya menjadikan Syi'ah Imamiyah Ja'fariyah sebagai mazhab kelima dalam fiqih Islam.
Beliau menjelaskan bahwa sebagian orang yang memasukkannya sebagai mazhab kelima dalam fiqih adalah karena kebodohannya akan ajaran pokok agama Islam jika ia orang Islam, atau kebodohannya akan ajaran pokok agama Syi'ah yang menyimpang, atau kebodohannya akan sejarah hitam dan kelam agama Syi'ah yang dipenuhi dengan pengkhianatan terhadap kaum muslimin, siapa yang bersekongkol dengan pasukan Tatar untuk menghancurkan kota Baghdad dan membantai para ulama di sana, dan pengkhianatan-pengkhianatan lainnya ?, atau kebodohannya akan kenyataan pahit dan berat para kaum sunni yang hidup minoritas di negara rafidhah Iran, mereka disiksa, diintimidasi dan diusir, sampai bangunan masjid pun dilarang berdiri, atau kebodohannya akan kenyataan terkini yang telah menyingkap tabir kemunafikan dan taqiyyah mereka di Afghanistan, Suriah dan Libia.
Dan ungkapan Syi'ah Imamiyah Ja'fariyah sebagai mazhab kelima dalam fiqih Islam adalah salah satu propaganda dusta dan sesat yang menggelincirkan umat dari agamanya dan memudahkan jalan bagi penyebaran pemikiran rafidhah yang dapat menyebabkan rusaknya Manhajun Nubuwwah dan runtuhnya bangunan Sunnah Nabi dan para sahabatnya, yang mana setelah keruntuhannya maka akan dibangun di atasnya kesesatan rafidhah beserta khurafat-khurafatnya.[39]
Oleh sebab tujuan inilah maka mereka berlindung di balik tabir fitnah bernama Taqrib yang akan disampaikan pada bagian akhir dalam tulisan ini tentang hakikat taqrib yang ditulis oleh Syeikh Muhibbuddiin Al-Khathib dalam bukunya yang lain yaitu Al-Khuthuth Al-Aridhah Lil Usus Allati Qaama 'Alaiha Dinus Syi'ah Al-Imamiyyah Al-Itsna 'Asyriyyah insya Allah.
3.      Hadits riwayat Bukhari no.7 KITAB BAD-IL WAHYI DAN KERAGUANNYA PADA AYAT 64 SURAT ALI IMRAN.
Penipuan berikutnya dari penceramah pendusta tersebut kepada para jama'ah adalah penyampaian hadits panjang dalam Shahih Bukhari no.7 sebuah riwayat cerita Abu Sufyan bin Harb kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma tentang surat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Heraklius agar masuk Islam. namun saya akan nukilkan potongan hadits isi surat Rasulullah yang memang sepotong itulah yang disampaikan oleh penceramah sebagai berikut :
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad hamba Allah dan utusannya.
Kepada Heraklius Raja Romawi.
Keselamatan atas orang-orang yang mengikuti petunjuk.
Amma ba'd :
Sesungguhnya saya mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah niscaya kamu selamat, Allah akan memberimu dua pahala. Tapi jika kamu berpaling maka atasmu dosa dan dosa pengikutmu. Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Surat Ali Imran : 64)
Penceramah pendusta itu mencoba meyakinkan kepada para jama'ah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sosok manusia yang rendah hati dan sangat santun, tidak sombong, tidak mudah mengkafirkan orang, dan mengatakan sesat. Dalam suratnya beliau mengatakan "Dari Muhammad" saja dan bukan "Dari Rasulullah", artinya meskipun beliau adalah seorang Rasul tetapi tidak menyombongkan dirinya dengan menyebut "Rasulullah" tapi "Dari Muhammad".
Penceramah itu sungguh pendusta dan penipu, kenapa dia hanya menyampaikan "Dari Muhammad" dan meyakinkan para jama'ah bahwa hanya seperti itulah bunyinya. Padahal hadits itu bila dilanjutkan maka ada tambahan " hamba Allah dan utusannya". Bahkan riwayat ini diulang oleh Imam Bukhari pada bab yang berbeda dan tetap sama ungkapannya, seperti dalam Kitabul Jihad 1773 dan 2782, Kitab Tafsir Surat Ali Imran 4278, Kitabul Isti'dzan 5906, dan seperti itu juga lafal dalam riwayat Muslim 1773, Abu Dawud 5136 dan Tirmidzi 2717.
Dan kedustaan berikutnya adalah ungkapannya saat ia mengatakan bahwa dalam surat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itu beliau mengajak Ahlul Kitab agar berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu.
Pendusta itu mengatakan pada jama'ah agar mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam berdakwah yang mengajak persamaan dan bukan mengajak pada perbedaan.
Ungkapan di atas sungguh sangat berbahaya sebab dapat menimbulkan kerancuan pemahaman yang sangat fatal. Boleh jadi ia sengaja melakukan itu agar hadirin memahami bahwa agama Syi'ah dan Islam itu sama dan hanya berbeda dalam fiqih.
Namun yang paling fatal adalah saat ia agak sedikit bercanda dengan mengatakan :
"itu pun kalau memang benar ayat itu masih asli…!!!!
Ungkapan kufur di atas memang sudah menjadi ciri khas orang-orang Syi'ah sebagaimana para Ulamanya yang meriwayatkan tentang adanya penyelewengan pada Al-Qur'an. Riwayat-riwayat dusta itu akhirnya ditulis bukunya oleh Ath-Tibrisiy dengan judul "Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab".
Ya Allah saksikanlah kelancangan mulut pendusta yang meragukan ayat Al-Qur'an-MU.
Kemudian ia menuduh adanya pesantren-pesantren yang salah dalam mengajarkan agama kepada santri-santrinya. Di antara tuduhannya adalah kesalahan dalam mengartikan surat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berbunyi "aslim taslam" dengan arti "Masuk Islamlah kalau tidak kalian adalah kafir" dan "Masuk Islamlah kalau tidak kalian akan kami bunuh". Juga menuduh mereka dengan kesalahan mengartikan ayat-ayat Al-Qur'an.
Sekilas sudah bisa ditebak arah tuduhan penceramah pendusta ini saat ia menuduh pesantren-pesantren dengan tuduhan keji seperti itu. Sebenarnya ia ingin membuat opini bahwa jangan sampai umat Islam sekarang antusias dan konsentrasi mendidik anak-anaknya di pesantren. Paling tidak ada dua sebab utama yaitu :
Pertama, pesantren-pesantren baru yang sekarang bermunculan adalah pesantren dengan basis pemahaman aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dikarenakan banyaknya umat yang mulai sadar akan pentingnya pendidikan agama yang benar, dan jelas ini akan sangat menghambat dan membahayakan laju gerakan penyebaran agama sesat itu.
Kedua, minimnya pesantren resmi yang berbasis agama Syi'ah sehingga ia memerlukan counter dengan cara memfitnah pesantren Islam agar menimbulkan resistensi di kalangan umat Islam terhadap pesantren Islam yang berbasis aqidah yang benar.
Dan ia menutup fitnahnya terhadap pesantren Islam dengan mengatakan : tidak semua pesantren itu cocok buat pendidikan santri. Meski boleh jadi niatnya adalah tidak cocok dengan agama sesat mereka namun ia sembunyikan.
Bersambung...
(catatan kaki ada di bagian 4)
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar