Kamis, 05 Desember 2013

RUANG KOSONG DI KEHIDUPAN KITA



Pernahkah kita mengamati lembaran-lembaran buku yang kita baca. Bahwa ada ruang kosong sebagai jarak antara tulisan dengan pinggiran halaman. Lalu coba bayangkan bila kita dihadapkan pada lembaran halaman yang semuanya berisi tulisan. Tanpa ada ruang kosongnya. Maka apa yang kita rasakan?
Baru melihatnya pun sudah ada kesan berat untuk memulai membacanya. Kalau pun sudah sedikit dibaca, maka itu pun sebuah awal yang perlu perjuangan yang berat, apalagi jika ternyata semua halamannya sama, tanpa ruang kosong, tanpa jeda, dan bukunya pun tebal.

Namun sesungguhnya persoalan bukanlah pada ketebalan buku. Justru persoalannya lebih kepada model yang berbeda pada halaman buku tersebut. Tidak seperti layaknya buku-buku yang ada. Dan karena modelnya yang "aneh" inilah maka ia menjadi sebab orang merasa berat untuk membacanya. Bahkan saat baru melihatnya, minimal malas untuk memulai membacanya.

Bahwa model buku seperti itu tidak akan laku di pasaran, karena pembaca umumnya juga merasa tertarik dengan model buku yang umumnya mereka temukan. Minimal sebagai penerbit buku, ia juga perlu menarik pembaca agar membeli bukunya. Dan salah satunya adalah dengan membuat format dan model buku yang menarik seperti umumnya buku-buku yang ada, yaitu dengan memberikan ruang kosong antara tulisan dan pinggiran halaman.

Bagi pembaca yang baik dan kritis, kadang ruang kosong itu akan dimanfaatkan untuk menulis ide-ide baru yang muncul. Tanggapan terhadap penggalan kalimat yang ia baca. Tambahan dan penguat yang tidak tertulis di buku, bahkan mungkin bantahan dan cacian, tapi yang terakhir bukanlah model pembaca yang baik.

Sungguh kehidupan kita tak jauh berbeda dengan model buku. Umumnya kita tidak ada yang mau menjalani kehidupan seperti halnya buku yang tanpa ada ruang kosongnya, Karena ruang kosong berarti jeda. Ruang kosong berarti istirahat sejenak. Dan ruang kosong berarti tibanya saat untuk mengumpulkan ide dan energi baru untuk memulai kembali membaca kehidupan yang kadang terasa rumit dan berkepanjangan.

Ya, tidak akan ada orang yang mau menjalani kehidupannya tanpa ada istirahat. Tanpa ada sedikit waktu untuk sekedar merasakan kenikmatan yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Kalaupun ada, maka itu sebuah hal yang tidak biasa, atau mungkin karena ia terpaksa menjalaninya.

Lihatlah saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang sahabatnya agar tidak melakukan shalat sepanjang malam, tidak melakukan puasa sepanjang hari, dan juga tidak boleh untuk tidak menikah.[1] Atau bagaimana nasehat bijak beliau saat ditanya oleh seorang sahabatnya yang merasa semangat beribadah bila didekat Nabi namun merasa malas saat berada di dekat anak istri. Beliau pun menjawab bahwa hal itu sudah lumrah, saat-saat tertentu boleh namun jangan sampai keterusan[2].

Lihatlah juga saat beliau mengisi lembar kehidupannya yang mulia. Bagaimana beliau bercanda dengan istri-istrinya. Mengajak Aisyah radhiyallahu anha jalan malam untuk bercakap-cakap[3], lalu lomba lari dengannya[4], dan bahkan pernah pula beliau menyediakan waktunya sejenak karena ada gadis kecil yang menarik tangan beliau yang mulia kemudian beliau dituntun untuk berjalan-jalan.[5]

Ternyata semua ada waktunya. Kapan berjihad, kapan shalat, kapan berpuasa, kapan beristirahat dan bercanda dengan keluarga. Karena yang tidak boleh adalah bila semua hal itu dilakukan kapan-kapan.

Namun seperti halnya pembaca yang baik, ruang kosong tidak akan dipandang sebagai ruang kosong. Ia adalah ruang tempat ia mengerjakan sesuatu yang lain selain dan setelah membaca. Ia tidak lantas tidur dan benar-benar istirahat setelah membaca, sebagaimana ia juga tidak hanya sekedar membaca saat ia membaca.

Bahwa ternyata ada beberapa manusia yang menjalani kehidupannya seakan-akan seperti sebuah buku tanpa ruang kosong. Semua halaman penuh tulisan. Tak ada jeda dan tak ada istirahat. Karena baginya, istirahat adalah kematian. Ia tidak menamakannya ruang kosong karena ia membutuhkan ruang kosong itu. Maka ia pun mengisi seluruh waktunya sepenuh halaman yang tersedia untuknya. Istirahatnya adalah bekerja, istirahatnya adalah ibadah.

Simaklah cerita tentang Imam Al-Muhaddits Hammad bin Salamah Al-Bashri, muridnya yang bernama Musa bin Ismail At-Tabudzaki berkata bahwa gurunya itu hanya membagi waktunya untuk meriwayatkan hadits, membaca buku, bertasbih dan shalat, sampai-sampai muridnya yang lain, yaitu Yunus Al-Mu'addib mengisahkan bahwa gurunya tersebut meninggal dalam keadaan sedang shalat.[6]

Atau cerita tetang Imam An-Nawawi yang seluruh waktunya habis untuk belajar dan mengajar. Beliau pernah bercerita, bahwa selama tinggal di Damaskus untuk belajar, ia tidak pernah meletakkan lambungnya di lantai alias tidak tidur, sehingga saat beliau sudah ditetapkan sebagai Ulama pada masanya, beliau selalu menghabiskan waktunya untuk mengajar dan menulis. Beliau pun tidak menikah. Bukan karena beliau tidak mau, namun belau berkata :

"Mana ada wanita yang mau hidup bersama saya",

karena waktu beliau habis untuk menulis, sampai-sampai bila tulisannya dihitung dan dibagi dengan umur beliau, maka minimal setiap harinya beliau menulis sebanyak 16 halaman.[7]

Ada juga seorang Ulama di bidang ilmu Falak dan Matematika, juga ahli sejarah, bahasa dan sastra, yaitu Muhammad bin Ahmad Al-Khawarizmi yang juga dikenal dengan sebutan Abu Ar-Raihan Al-Biruni (440 H.)-rahimahullah-, dikisahkan oleh Yaqut Al-Himawi dalam Mu'jamul Udabaa', bahwa tangan beliau hampir tidak pernah lepas dari pena, matanya selalu membaca, dan hatinya selalu berpikir.[8]

Selanjutnya kita dengarkan apa kata Imam Abul Ma'ali Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwaini (478 H.) yang dikenal dengan sebutan Imamul Haramain, gurunya Imam Al-Ghazali. Beliau berkata :

"Aku tidak terbiasa tidur dan makan, kalau aku sudah diserang kantuk berat baru aku tidur, bisa di malam hari atau siang hari, demikian juga dengan makan, aku tidak akan makan kecuali kalau aku sudah ingin makan.[9]

Bahkan di antara mereka ada yang sangat berat hati bila harus menyediakan waktunya untuk makan, dan itulah cerita Imam Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi Al-Bashri saat mengatakan :

"Saat-saat paling berat bagiku adalah saat dimana aku harus makan".[10]

Akhirnya, ruang kosong adalah sebuah kenikmatan. Ia ibarat anugerah waktu dan kesempatan yang dilebihkan buat kita. Tak ada salahnya saat ia digunakan untuk istirahat sejenak. Pekerjaan-pekerjaan berharga memang tak selamanya dilakukan tanpa henti. Kadang ia perlu berhenti sejenak agar dapat berlanjut kembali, meski dalam sejarahnya, ada di antara manusia-manusia yang melihat pekerjaannya jauh lebih berharga dari diri maupun nyawanya. Mereka pun lantas enggan untuk menemui kematiannya sedang mereka dalam keadaan istirahat.

Dan, bila pekerjaan-pekerjaan berharga saja boleh berhenti sejenak, maka bagaimana dengan manusia-manusia yang pekerjaannya adalah dosa dan maksiat…?

-----------------
Fairuz Ahmad.

Bintara, selesai menjelang maghrib 7 Rabi'ul Awwal 1434 H./ 19 Januari 2013 M.

-----------------

[1] Lihat matan asli di Shahih Muslim dari Anas bin Malik no.1401.
[2] Lihat matan asli di Shahih Muslim dari Handzalah Al-Usaidy no.2750.
[3] Lihat matan asli di Shahih Muslim dari A'isyah no. 4477.
[4] Lihat matan asli di Musnad Imam Ahmad 26277, Sunan Abu Dawud 2578, Sunan An-Nasa'i 8942, Sunan Ibnu Hibban 4691.
[5] Lihat matan asli di Shahih Bukhari dari Anas bin Malik no. 5724.
[6] Qimatuz Zaman Indal Ulama DR. Abdul Fattah Abu Ghuddah.
[7] Tarjamah An-Nawawi Lil Imam As-Sakhawi.
[8] Mu'jamul Udaba' oleh Yaqut Al-Himawy.
[9] Qimatuz Zaman Indal Ulama DR. Abdul Fattah Abu Ghuddah.
[10] Qimatuz Zaman Indal Ulama DR. Abdul Fattah Abu Ghuddah.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar